22 October 2019, 09:35 WIB

Siap Go Public, Gojek Segera Akhiri Promo


Andhika Prasetyo | Ekonomi

ANTARA FOTO/Septianda Perdana/ama
 ANTARA FOTO/Septianda Perdana/ama
Ilustrasi -- Salah seorang mitra memakai jaket berlogo baru Gojek saat diperkenalkan di Medan, Sumatera Utara, Sabtu (3/8/2019). 

Perusahaan aplikasi Gojek memastikan mu­lai mengakhiri era ‘bakar uang’. Langkah itu dilakukan agar mampu menjalankan usaha ­secara sehat dan berkelanjut­an ­sekali­gus sebagai langkah awal un­tuk menjadi per­usahaan publik.

“Setiap perusahaan, terma­suk para founder Gojek, juga berkeinginan 3-4 tahun mendatang bisa IPO (initial public offering),” kata Vice President Corporate Affair Gojek, ­Mi­­chael Say, di Semarang, Ja­wa Tengah, kema­rin.

Ia memberikan gambaran besarnya uang yang ‘dibakar’ jika setiap trip Gojek memberikan subsidi (bonus) sebesar Rp50 saja, sedangkan setiap bulan ada 100 juta transaksi.

Michael menyatakan ber­akhirnya era bakar uang itu terkait dengan tekad Gojek untuk menghasilkan laporan keuangan yang ‘hijau’ sebagai syarat untuk IPO. “Agar bisa IPO, mau tidak mau laporan keuangan kan harus ‘hijau’ sehingga tidak mungkin terus ‘bakar uang’,” katanya.

Saat ini aplikasi Gojek diun­duh 125 juta pengguna, memiliki lebih dari 300 ribu merchants, dan beroperasi di 207 kota/kabupaten di Indonesia. Perusahaan aplikasi terbesar nomor dua di Asia ini juga ber­ekspansi ke ­Singapura, Filipina, Vietnam, Thailand.

Michael menyebutkan la­­yan­an Gofood tumbuh pesat karena budaya orang Indone­sia memang suka makan.

“Tran­saksi ayam geprek saja sepanjang 2018 ada 2,1 juta, be­lum martabak dan makan­an populer lainnya,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, Head Regional Corporate Affair Go­jek Wilayah Jateng, Arum K Prasojo, mengatakan dalam menjalankan bisnis agar berkelanjutan Gojek harus memperhatikan pilar (mitra) yang lain karena di dalam eksosistem ada kepentingan pengemudi/pengendara, ­mer­chants, pengguna, serta pemerintah.

Pihaknya berkeinginan semua mitra tumbuh berkelanjutan dalam platform super app Gojek untuk pelayanan orang (people), barang (things), dan uang (money).

Rencana matang

Gojek saat ini mema­suki era kepemimpinan baru setelah CEO Nadiem Makarim mengundurkan diri dari perusaha­an lantaran akan menjadi sa­­­lah satu menteri dalam pe­­me­­rintahan Presiden Joko Widodo.

Chief Corporate Affair Go­jek Nila Marita melalui ke­te­­rangan resmi, kemarin, me­­ngatakan Presiden Gojek Group Andre Soelistyo dan Co-founder Gojek Kevin Aluwi akan menakhodai Gojek. Mereka berbagi ­tanggung jawab menjalankan per­­usahaan.

“Kami akan tetap fokus mem­­bawa perusahaan ke tahap selanjutnya,” ujar Nila.

Ia mengatakan perusahaan rintisan (startup) yang telah berstatus decacorn itu telah memiliki rencana matang ke depan sekalipun ditinggalkan pendirinya.

Di luar perihal ­perusahaan, Gojek mengaku bangga kare­na pemerintah benar-benar ­mengakui kualitas anak bangsa yang bergerak dari sebuah rintisan.

“Hal ini belum pernah terjadi sebelumnya. Visi seorang pendiri startup lokal mendapat pengakuan dan dijadikan contoh untuk pembangunan bangsa,” tandas Nila.

Nadiem telah bertemu Jo­­kowi dan masuk jajaran kabinet baru. Ia pun memastikan sudah mundur sebagai CEO dan tidak lagi memiliki kewe­­nangan atas Gojek.

“Saya sangat senang. Ini ke­­hormatan buat saya bisa ber­­gabung di kabinet. Me­­ngenai ­posisinya, nanti di­­umumkan sendiri oleh Pak Presiden (Jo­­kowi),” ucap Nadiem.

Dia menegaskan tidak lagi memiliki kewenangan di per­usahaan yang dibesutnya itu. (Ant/E-3)

BERITA TERKAIT