22 October 2019, 09:20 WIB

Menteri Baru tanpa Bulan Madu


Raja Suhud VHM | Ekonomi

medcom.id
 medcom.id
Ketua Bidang Kebijakan Publik Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sutrisno Iwantono

KETUA Bidang Kebijakan Publik Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sutrisno Iwantono mengatakan tidak ada istilah ‘bulan madu’ bagi menteri-menteri baru di bidang ekonomi yang akan duduk di kabinet mendatang. Para pembantu presiden itu harus segera mengambil kebijakan jangka pendek agar Indonesia mampu terhindar dari krisis.

“Tidak ada bulan madu. Jika satu tahun Indonesia terpuruk, sulit untuk bangkit,” kata Sutrisno di Jakarta, kemarin.

Ia mengatakan ekonomi Indonesia saat ini masih menghadapi persoalan yang cukup serius. Selain kondisi ekonomi global yang sedang kurang bagus, Bank Dunia juga sudah menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2019, dari sebelumnya 5,1% menjadi 5%.

Apalagi, sambungnya, Indonesia juga menghadapi defisit neraca perdagangan.

Sutrisno mengatakan langkah-langkah ekonomi satu tahun mendatang akan sangat menentukan ekonomi selanjutnya. Jika pemerintah mampu membuat langkah yang baik, Indonesia akan terhindar dari krisis. Jika sebaliknya, ekonomi akan terpuruk.

Ia berharap Presiden Joko Widodo tidak memilih menteri-menteri bidang ekonomi yang masih harus belajar lagi.

“Namun, bukan pula berarti harus memilih menteri lama, tapi orang-orang yang benar-benar sudah mengerti kondisi perekonomian Indonesia,” tandasnya.

Ia mengatakan menteri-menteri dari kalangan milenial hendaknya tidak ditempatkan di bidang-bidang yang memerlukan langkah cepat dalam menghadapi persoalan ekonomi karena dikhawatirkan mereka masih harus belajar terlebih dahulu.

Selain itu, Sutrisno mengharapkan penggabungan atau ­pemisahan kementerian harus dilakukan dengan hati-hati atau lebih baik jangan dilakukan terlebih dahulu. Jangan sampai menteri justru memikirkan masalah-masalah administrasi di kementeriannya akibat ada pemisahan atau penggabungan lembaga.

Rupiah menguat

Pada transaksi antarbank di Jakarta kemarin sore, nilai tukar (kurs) rupiah ditutup menguat seiring dengan optimisme pasar pascapidato Presiden Joko ­Widodo saat pelantikannya, Minggu (20/10).

Rupiah ditutup menguat 67 poin atau 0,47% menjadi 14.081 per dolar AS dari posisi sebelumnya 14.148 per dolar AS.

Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi di Jakarta, kemarin, mengatakan para pelaku pasar mencermati pidato Presiden Joko Widodo saat pelantikan di Gedung MPR itu.

“Pidato tersebut telah mendorong optimisme pasar bahwa ekonomi Indonesia dapat ber­gerak jauh lebih baik,” ujar Ibrahim.

Dalam pidatonya, Jokowi optimistis PDB Indonesia dapat mencapai US$7 triliun pada 2045 dan masuk lima besar ekonomi dunia dengan angka kemiskinan mendekati 0%.

“Di sisi lain, pasar juga menunggu pelantikan para menteri yang akan menduduki pos-pos yang cukup vital, yaitu pos yang membidangi masalah ekonomi, terutama menkeu, BUMN, ESDM, dan menko perekonomian,” kata Ibrahim. (Ant/E-2)

BERITA TERKAIT