22 October 2019, 10:45 WIB

Kekeringan Ekstrem Landa Flotim, Warga Diimbau tidak Bakar Hutan


Ferdinandus Rabu | Nusantara

MI/PALCE AMALO
 MI/PALCE AMALO
Seorang fotografer melintas di padang yang kekekeringan di dekat ruas jalan di Kota Mbay, ibu kota Kabupaten Nagekeo, NTT

BADAN Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Metereologi Gewayantana Flores Timur menyebut Kabupaten Flores Timur (Flotim), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), hingga kini, belum memasuki musim peralihan atau pancaroba.

Hal itu karena kemarau, saat ini, berada dalam titik puncak kemarau, yang berdampak pada kekeringan ektrem dengan suhu maksimal mencapai 34 hingga 35 derajat Celsius.

Kepala Stasiun Meteorologi Gewayantana Kabupaten Flores Timur, Marsianus YR Milla, saat dikonfirmasi, Selasa (22/10), mengakui kemarau saat ini lebih terasa dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Saat ini, matahari berada di selatan khatulistiwa dengan sebaran awan yang menipis sehingga panas yang sangat menyengat terasa saat ini. kemarau pun masih terus berlanjut dan diprediksi curah hujan baru akan terjadi pada akhir November nanti.

"Memang saat ini kita berada pada puncak musim kemarau. Apalagi, saat ini, matahari berada di selatan khatulistiwa dari daerah kita. Sehingga suhu panas saat ini lebih terasa dibandingkan sebelumnya. Kondisi kekeringan saat ini merupakan kekeringan ekstrem yaitu kekeringan meteorologis dan hidrologis dimana tidak ada curah hujan di atas 60 hari. Kekeringan meteorologis karena tidak ada curah hujan dan kekeringan hidrologis yaitu terjadi penyusustan air tanah atau turunnya debit air," papar Marsianus.

Baca juga: Kawasan Hutan Gunung Petarangan Jateng Terbakar

Menurut Marsianus, puncak cuaca kemarau saat ini sangat berpotensi menyebabkan terjadinya kebakaran hutan maupun lahan. Sekecil apapun pemicunya akan cepat terbakar karena suhu panas saat ini lebih tinggi dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.

Data terakhir yang terbaca pada 20 Oktober oleh satelit di Stasiun Meteorologi Gewayantana, ada beberapa hot spot atau titik api yang terbaca yaitu sebanyak 3 hot spot yaitu tiga titik api di Wilayah Tanjung Bunga dan satu titik api di Wilayah Wulanggitang.

"Pada puncak periode kemarau ini memang sangat rawan dengan potensi kebakaran, ada pemicu sedikit bisa langsung terjadi kebakaran. Apalagi kekeringan ekstrim saat ini dengan suhu panas yang tinggi cepat menimbulkan kebakaran. Sehingga beberapa kali kami juga telah mengimbau warga dalam setiap kesempatan dan pertemuan dengan pemerintah daerah, kmai sudah mengimbau agar tidak melakukan kegiatan membakar lahan di musim kemarau saat ini, karena cepat sekali berpotensi terjadi kebakaran saat ini," jelas Marsianus.

"Selain itu, untuk menjaga air tanah, kami juga mengimbau untuk meningkatkan aktivitas perlindungan terhadap air tanah dan penghijauan, serta menggunakan air tanah dengan bijak dan sehemat mungkin, karena air tanah saat ini sangat minim karena tidak ada curah hujan saat ini," pungkasnya. (OL-2)

BERITA TERKAIT