22 October 2019, 04:00 WIB

Angin Bencana Datang sebelum Musim Penghujan


Bagus Suryo | Nusantara

ANTARA FOTO/Anis Efizudin
 ANTARA FOTO/Anis Efizudin
Sejumlah warga melihat rumah yang ambruk akibat angin kencang di kawasan kaki Gunung Merbabu, Desa Ketundan, Pakis, Magelang, Jawa Tengah.

KENCANGNYA tiupan angin, Sabtu (19/10) malam, belum bisa dilupakan warga tiga desa di Kota Batu, Jawa Timur. Selain membuat satu warga tewas karena tertimpa pohon yang roboh, ratusan rumah juga rusak serta jaringan komunikasi dan listrik terputus.

“Kerusakan sangat parah, atap rumah-rumah masyarakat banyak yang beterbangan,” ungkap Rudi Madiyanto, warga Desa Sumberbrantas, Kecamatan Bumiaji. Selain Sumberbrantas, desa terdampak lain ialah Gunungsari dan Sumbergondo. Kini, Rudi dan 1.215 warga lainnya harus mengungsi.

Sampai kemarin, pohon yang bertumbangan masih menutup badan jalan akses dari dan ke Batu-Kabupaten Mojokerto. Meski tidak sekencang Sabtu malam, angin masih bertiup.

Jalur Cangar di Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, yang mengarah ke Kota Batu ditutup untuk memberi kesempatan petugas melakukan pembersihan. “Banyak pohon yang tumbang sehingga perlu waktu untuk melakukan evakuasi,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Mojokerto Muhammad Zaini.

Badan Meteorologi, Klimato-logi, dan Geofisika Juanda menyatakan angin kencang di Batu terjadi akibat kemarau panjang dan kebakaran yang menyebabkan perbedaan suhu ekstrem.

“Juga ada pengaruh angin gradien dari arah timur yang cenderung meningkat karena perbedaan tekanan udara antara Benua Australia dan Asia,” kata Prakirawan BMKG Juanda di Kabupaten Sidoarjo, Tonny Setyaran.

Juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana Agus Wibowo mengatakan, dari hasil koordinasi dengan BMKG, fenomena angin kencang merupakan tanda-tanda peralihan dari kemarau menuju penghujan atau masa pancaroba.

“Angin kencang bisa bertiup dengan kecepatan lebih dari 45 kilometer per jam,” tukasnya.

Merapi

Kemarin, sejumlah daerah di Jawa Tengah juga dilanda angin kencang. Di kawasan lereng ­Merapi, angin memorak-poran-dakan beberapa ­kecamatan di Kabupaten Magelang dan Boyolali. Pohon tumbang dan atap rumah beterbangan. Debu-debu tebal yang kerontang karena musim kemarau panjang pun beterbangan.

“Angin kencang di kawasan Merapi bersifat sangat lokal. Jika mengacu pada konsentrasi wilayah kerusakan, kecepatan anginnya pun berbeda dengan dataran rendah lainnya,” kata Kepala Stasiun Klimatologi Mlati Yogyakarta, Reni Kra-ningtyas.

Dia menduga peningkatan aktivitas Gunung Merapi turut andil memicu angin kencang. Terakhir, erupsi Merapi terjadi pada 14-15 Oktober lalu.

Angin kencang yang disertai hujan sedang dan deras terjadi di Kecamatan Pakis, Sawangan, Ngablak, dan Kajoran, Kabupa-ten Magelang. Di Boyolali me-nimpa Desa Jrakah, Tlogolele, dan Klakah.

Bencana serupa juga ­menimpa delapan desa di Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jateng. “Kami masih ­mendata jumlah rumah yang rusak,” jelas Kepala Plh BPBD Arif Rahman.
Di Jawa Barat, angin juga melanda wilayah Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Sejumlah pohon tumbang dan dinding rumah serta atap sekolah rusak berat. (FL/HS/AU/TS/AT/WJ/LD/DG/BB/BK/FB/RF/N-2)

BERITA TERKAIT