21 October 2019, 23:36 WIB

Mapala Bergerak Bersama Pagari Meratus


DY/RF/N-2 | Nusantara

MI/Denny Susanto
 MI/Denny Susanto
Mapala se-Indonesia mendeklarasikan kawasan Pegunungan Meratus bebas dari aktivitas tambang.

MAHASISWA pencinta alam (mapala) ­se-Indonesia mulai menyatukan tangan untuk melakukan penyelamatan lingkungan. Kemarin, mereka mendeklarasikan kawasan pegunungan Meratus di Kalimantan Selatan bebas dari eksploitasi sumber daya alam tambang.

Deklarasi yang digelorakan dengan tagar #SaveMeratus itu dicanangkan pada kegiatan Temu Wicara Kenal Medan (TWKM) Ke-31 yang berlangsung di Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin, kemarin.

Ketua Panitia TWKM XXXI, Muhammad Arifin,  kemarin, mengatakan, “Lewat kegiatan ini, kami mengajak semua mapala di Indonesia melihat secara langsung keindahan alam dan keanekaragaman hayati yang ada di Kalsel, khususnya pegunungan Meratus. Kami yakini kekayaan alam tersebut dapat dikembangkan sebagai objek wisata dan mendatangkan kesejahteraan bagi masyarakat sehingga tidak perlu ada eksploitasi tambang atau kegiatan lain yang dapat mengancam kelestarian lingkungan.”

Pertemuan mapala se-Indonesia yang diikuti 130 organisasi mapala itu berlangsung pada 21-27 Oktober. Mereka juga akan bertemu dengan Gubernur Sahbirin Noor, melihat wisata alam Kiram Park, panjat tebing di Gua Batu Laki, susur Gua Ali, dan ke Pulau Curiak.

Rektor UIN Antasari Banjarmasin, Mujiburahman, mendukung aksi mapala ini. “Kami juga bersyukur kegiatan ini didukung Kementerian LHK.”

Di tempat yang sama, Sekretaris Badan Pengembangan SDM, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Sudayatna mengakui peran mapala sangat penting dalam mendukung pelestarian lingkungan.

“Pemerintah terbuka dengan kritik dalam bidang lingkungan, termasuk dari mapala, sebagai koreksi untuk perbaikan kebijakan,” ujarnya.

Di Bangka Belitung, nelayan di Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka, dirugikan oleh aktivitas penambangan pasir timah di muara daerah aliran sungai di Desa Berok. Bersama aktivis Walhi, kemarin, mereka mendatangi Kantor DPRD Bangka Belitung.

“Ratusan penambang sudah 2 bulan ini menyerbu wilayah Sungai Berok. Aktivitas mereka mengancam kelangsungan mangrove, juga membuat udang, kepiting, dan ikan lari,” papar Zakaria, nelayan.

Para nelayan itu mengaku sudah mengadu ke Camat dan Polsek Belinyu, serta Polda Bangka.
“Tapi mereka tidak bergerak walaupun ­mengakui penambangan itu liar,” tandasnya. (DY/RF/N-2)

BERITA TERKAIT