22 October 2019, 02:00 WIB

Para Pejuang Kurdi Mulai Keluar dari Suriah Utara


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

Bakr ALKASEM / AFP
 Bakr ALKASEM / AFP
Seorang anak Suriah menangis menahan sakit karena luka-lukanya, di Suriah, Minggu (20/10).

PASUKAN Demokrat Suriah (SDF) yang dipimpin Kurdi sepenuhnya menarik diri dari sebuah kota yang dikepung Turki di Suriah utara, Minggu (20/10). Hal itu tampaknya menjadi awal dari penarikan yang lebih luas di bawah kesepakatan gencatan senjata.

Ankara melancarkan serangan lintas perbatasan terhadap SDF yang dipimpin Unit Perlindungan Rakyat (YPG), sebagian besar milisi Kurdi. Turki menganggap mereka sebagai kepanjangan tangan kelompok teroris Partai Pekerja Kurdistan (PKK).

Gencatan senjata yang diperantarai ­Amerika Serikat diumumkan Kamis malam lalu, memberikan kesempatan bagi pasukan Kurdi sampai Selasa malam untuk menarik diri dari daerah penyangga yang ingin dibuat Ankara di wilayah Suriah di sepanjang perbatasan selatan.

Pada Sabtu, komandan SDF Mazloum Abdi mengatakan pasukan Kurdi akan mundur dari zona 120 kilometer segera setelah mereka diizinkan keluar dari Ras al-Ain yang dikepung pasukan Turki dan proksi Suriah.

SDF kemudian mengatakan para pejuangnya telah sepenuhnya mengevakuasi kota perbatasan sebagai bagian dari perjanjian gencatan senjata.

Seorang reporter AFP melihat setidaknya 50 kendaraan, termasuk ambulans, meninggalkan rumah sakit kota. Puluhan pejuang berpakaian militer melewati pos-pos pemeriksaan yang dijaga pejuang Suriah sekutu Ankara.

Di Kota Tal Tamr, Samira, 45, berada di antara wanita dan pria yang membawa bendera SDF menunggu konvoi dari Ras al-Ain. “Aku tidak percaya Sari Kani telah jatuh,” ujarnya, menggunakan nama Kurdi untuk Ras al-Ain.

“Kami memberi hormat kepada pejuang kami yang membela kami meskipun kekuat-an besar mengkhianati rakyat kami,” kata Samira.

Turki mengizinkan teroris YPG/PKK yang terpojok di kota untuk meninggalkan daerah itu dengan ambulans dan kendaraan sipil. Demikian wartawan Anadolu Agency melaporkan, Minggu.

Iran kecam Turki

Turki pada Senin dikecam pemerintah Iran atas rencana mendirikan pangkalan militer di Suriah. Langkah seperti itu akan menghadapi oposisi dari Republik Islam Iran dan negara-negara lain.

Presiden Recep Tayyip Erdogan pada ­Jumat mengatakan Turki akan mendirikan 12 pos pengamatan di dalam wilayah Suriah ketika ia memperingatkan akan memulai kembali operasi melawan pasukan Kurdi di seberang perbatasan.

“Turki dapat memiliki pangkalan apa saja dan dapat melakukan apa saja di wilayah mereka sendiri dan di dalam perbatasan mereka. Akan tetapi, jika yang Anda maksud mendirikan pangkalan Turki di Suriah, ini tidak dapat diterima,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Abbas Mousavi dalam pernyataan yang disiarkan di televisi pemerintah.

Langkah seperti itu, katanya, akan dilihat oleh Iran sebagai agresi terhadap kedaulat-an nasional dan integritas teritorial sebuah negara merdeka.

“Secara alami itu akan menghadapi tentangan dari Republik Islam Iran dan negara-negara lain,” tambah Mousavi.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas mengecam serangan Turki di Suriah timur laut. Ia menilai serangan Turki tersebut melanggar hukum internasional.

“Kami tidak percaya serangan terhadap unit Kurdi atau milisi Kurdi sah ­berdasarkan hukum internasional,” kata Heiko Maas kepada penyiar stasiun televisi ­Jerman, ZDF.

“Jika tidak ada dasar dalam hukum internasional untuk invasi seperti itu, itu tidak bisa sejalan dengan hukum internasional,” ujarnya dalam komentar terkerasnya tentang serangan tersebut. (AFP/Uca/I-1)

BERITA TERKAIT