21 October 2019, 22:09 WIB

Ini Penyebab Fenomena Angin Kencang dan Cuaca Panas di Jawa


Putri Anisa Yuliani | Humaniora

Antara
 Antara
Warga merapikan seng atap rumahnya yang terlepas akibat bencana angin ribut yang terjadi di Pangalengan, Bandung, Jawa Barat, Senin (21/10).

DUA hari terakhir banyak orang mempertanyakan dan membagi berita kejadian dan video yang menggambarkan angin kencang membawa material debu dan asap kecokelatan di beberapa tempat di Pulau Jawa, seperti di Batu Malang, Merapi Jogjakarta, Merbabu, Kopeng Semarang, Salatiga, dan lain-lainnya.

Warga di Jakarta, Pantura dan Pansela juga merasakan angin lebih kencang dari biasanya.

Kepala Sub bidang Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara  Badan Meteorologi Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Siswanto mengatakan dari tinjauan meteorologis, setidaknya terdapat tiga faktor yang dapat menjelaskan hal tersebut yakni pertama karena kuatnya angin timuran monsun Australia di atas Laut Jawa dan Samudera Hindia selatan Jawa.

"Kehadiran iklim yang lebih kering dan terlambat datangnya awal musim hujan salah satunya disebabkan masih aktifnya Angin Monsun Australia yang dominan di Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara," kata dia dalam keterangan tertulisnya, Senin (21/10).

Namun, dalam beberapa hari terakhir, terpantau terjadi penguatan kecepatan angin tersebut di lapisan troposfer bawah sekitar ketinggian 850 milibar (1,5 km di atas permukaan) hingga mencapai 70 km/jam di atas Laut Jawa.

Berdasarkan data pengamatan udara atas pada lapisan 850 mb atau 1.500 meter dari Stasiun Meteorologi di Jawa Tengah pada hari ini tercatat kecepatan angin cukup tinggi di Stasiun Meteorologi Semarang yakni 74 km/jam, di Stasiun Meteorologi Tegal sebesar 63 km/jam, di Stasiun Meteorologi Cilacap sebesar 45 km/jam, di Stasiun Meteorologi Maritim Serang mencatat lebih dari 100 km/jam.

Siswanto mengungkapkan penguatan kecepatan angin atas itu dipengaruhi oleh kuatnya pusaran tekanan tinggi di Samudera Hindia tengah bagian selatan sekitar Kepulauan Mascarene yang dikenal sebagai fenomena 'Mascarene High' (MH). Keberadaan MH biasanya muncul pada masa peralihan monsun di sekitar bulan April dan Oktober, dan berkaitan erat dengan sistem monsun Afrika dan Australia.

"Faktor kedua yakni kulminasi matahari masih berada di sekitar Pulau Jawa. Faktor lain yang turut berperan terjadinya peningkatan kecepatan angin pada beberapa wilayah di Pulau Jawa adalah pergerakan semu matahari secara tegak lurus dengan permukaan bumi (kulminasi) yang saat ini masih berada tidak jauh dari Wilayah Selatan Jawa," tutur Siswanto.

Suhu panas

Sebagaimana diketahui, pada 10 - 16 Oktober, Jakarta, Semarang, Cilacap, Jogjakarta, Denpasar, dan kota-kota di Indonesia bagian selatan lainnya umumnya mengalami fenomena kulminasi matahari. Ditambah kondisi kering kemarau, beberapa kota mencatat suhu udara permukaan yang cukup tinggi. Hari ini di Jakarta dan Semarang mencatat suhu maksimum siang hari hampir tembus 37°C dan 36°C.

"Sebagaimana kita tahu, bahwa dalam skala tertentu, tekanan udara permukaan berbanding terbalik dengan suhu udara permukaan. Suhu yang lebih panas akibat akan mampu menurunkan tekanan udara permukaan sehingga udara mengalir ke wilayah dengan suhu yang lebih panas tersebut," tukasnya.

Faktor ketiga penyebab timbulnya angin kencang ialah respons cuaca lokal, terutama daerah pegunungan terhadap peningkatan kecepatan angin regional. Kecepatan angin yang lebih kuat pada lapisan troposfer, kata Siswanto, selain dapat dirasakan dengan penguatan angin permukaan di banyak tempat, juga memicu penguatan sirkulasi lokal berupa angin gunung dan angin lembah di daerah dengan kontur topografi berbukit bukit.

Terkait debu pasir yang terjadi di daerah pegunungan ada faktor non meteorologis lainnya yaitu adanya kebakaran lahan di daerah pegunungan, memicu sirkulasi lokal pegunungan memainkan peran cukup signifikan sebagai respon atas peningkatan kecepatan angin di lapisan atas.

Pada lokasi tertentu di pegunungan, angin lapisan troposfer bawah yang kuat bisa menguatkan respon sirkulasi lokal berupa angin lembah dan angin gunung.

Siswanto menuturkan, angin lembah biasanya terjadi siang hari saat bagian dengan dataran yang lebih luas dan lebih rendah telah mendapat pemanasan matahari yang cukup. Sebaliknya dengan angin gunung yang menuruni lembah pada waktu malam hari.

Selain itu terdapat faktor noncuaca yaitu kebakaran hutan yang memicu memengaruhi sirkulasi lokal sehingga menjadi bencana di beberapa tempat. Pada kasus angin kencang yang membawa debu pasir dan asap di Kota Batu ke arah Mojokerto, lokasi berada pada wilayah dengan kontur pegunungan.

Dalam dua hari terakhir terjadi kebakaran cukup luas di bagian yang lebih tinggi (Gunung Arjuna), maka hal itu dapat memicu aliran angin lembah (angin mengalir dari lembah ke arah gunung) yang lebih kuat dari biasanya sehingga membawa debu pasir terangkat ke bagian atas.

Dalam hal kejadian di Batu di mana angin berhembus cukup kencang secara lokal, lebih kencang di malam hari. Menurut Siswanto, ada dugaan kebakaran hutan lahan di bagian gunung yang lebih tinggi (Gunung Arjuna) turut andil memicu kejadian bencana lokal angin kencang ini.

Hal ini dapat diterangkan dalam hubungan tekanan rendah dan suhu udara permukaan yang tinggi sebagaimana di atas. Suhu yang lebih panas akibat kebakaran, terjadi dalam waktu yang cukup lama, akan mampu menurunkan tekanan udara permukaan sehingga udara mengalir ke wilayah dg suhu lebih panas tersebut.

Di areal pegunungan, dimana secara umum wilayah Batu (dataran tinggi) ke arah Mojokerto (dataran rendah), suhu udara permukaan biasanya lebih dingin di wilayah Batu sehingga sirkulasi udara lokal cenderung bergerak turun (angin gunung). Tetapi pada saat kondisi di tempat lebih panas di bagian atas, maka sirkulasi lokal itu dapat berbalik sehingga menyebabkan angin lembah (dari atas ke bawah) menjadi lebih kuat dari biasanya.

"Pada topografi tertentu, oleh pengaruh bentuk lereng dan permukaan pegunungan, angin lembah itu dapat membentuk pusaran pusaran angin pada area dan skala yang lebih kecil. Hal ini juga terjadi di lereng Merapi di mana terjadi peningkatan suhu permukaan akibat aktifitas erupsi dan awan panas di bagian atas pegunungan," tandasnya.

Dengan kondisi dan kecepatan angin seperti ini, angin dapat menerbangkan material ringan apabila melintasi daerah berpasir atau tanah kering.(A-2)

BERITA TERKAIT