21 October 2019, 18:55 WIB

Dongkrak Pariwisata, Emil Siap Viralkan Status Tangkuban Parahu


Antara | Nusantara

MI/Depi Gunawan
 MI/Depi Gunawan
Sejumlah pedagang bertahan menjajakan dagangan di gerbang TWA Tangkuban Parahu karena aktivitas kunjungan wisata ditutup sementara.

GUBERNUR Jawa Barat M Ridwan Kamil atau Emil mengatakan dirinya siap memviralkan status Gunung Tangkuban Parahu yang turun status dari Level II (Waspada) menjadi Level I pada Senin (21/10) pagi.

"Tapi kalau secara ilmiah dari PVMBG mengatakan aman maka kami akan viralkan agar wisatawan bisa kembali lagi ke sana (Gunung Tangkuban Parahu)," kata Emil di Gedung Negara Pakuan, Kota Bandung, Senin.

Orang nomor satu di Pemerintah Provinsi Jawa Barat itu menyambut baik penurunan status Gunung Tangkuban Parahu yang terletak di Kabupaten Bandung Barat karena sektor pariwisata di sana akan kembali pulih atau normal seperti sebelum erupsi.   

"Setiap kemungkinan ilmiah bisa dibuka kembali pasti kita akan kami dukung. Saya akan rapatkan besok lusa. Nanti dikabari seperti apa," katanya.

Sebelumnya, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyatakan status Gunung Tangkuban Parahu diturunkan dari Level II (Waspada) menjadi Level I (Normal) terhitung sejak hari ini, Senin (21/10) pukul 09.00 WIB.  


Baca juga: BMKG: Perbedaan Suhu Ekstrem Picu Angin Kencang di Kota Batu


Kepala PVMBG, Kasbani, mengatakan, penurunan status tersebut merupakan hasil evaluasi yang dilakukan pihaknya dengan mengacu terhadap potensi ancaman bahaya Tangkuban Parahu.

"Karena aktivitasnya baik teramati secara visual maupun instrumen itu turun dalam pola yang stabil, maka statusnya turun jadi Level I Normal," kata Kasbani di Kantor PVMBG Badan Geologi, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin.  

Selain itu, menurutnya, terindikasi bahwa tidak ada pergerakan magma ke permukaan kawah setelah mengacu pada pengamatan deformasi melalui pengukuran jarak miring dengan Electronic Distance Measurement (EDM) yang menunjukkan adanya pola deflasi (pengempisan) pada tubuh Gunung Tangkuban Parahu.   

"Pengukuran konsentrasi gas vulkanik SO2 dan H2S menunjukkan nilai di bawah ambang batas yang membahayakan. Pengukuran rasio gas H2S atau SO2 juga menunjukkan bahwa saat ini aktivitas lebih dominan berasal dari hidrotermal pada kedalaman dangkal," kata dia. (OL-1)

 

BERITA TERKAIT