21 October 2019, 17:00 WIB

Ini Pembangkit Listrik EBT yang akan diterapkan PLN di Papua


Ghani Nurcahyadi | Ekonomi

Dok. PLN
 Dok. PLN
Peluncuran program 1.00 renewable energy for Papua

BENTANG alam dan kekayaan geografis di Papua membuat tantangan untuk mengaliri listrik di Papua semakin berat. Saat ini tercatat, masih ada 1.724 desa di Papua dan Papua Barat yang belum menikmati aliran listrik.

Hal itu pun menjadi perhatian PLN yang kemudian menghadirkan program Ekspedisi Papua Terang untuk mencari inovasi melistriki Papua. Program itu pun kini bertransformasi menjadi 1.000 Renewable Energy for Papua sebagai tindak lanjut.

Direktur Bisnis Regional Maluku dan Papua PLN Ahmad Rofik memaparkan, Program 1.000 Renewable Energy for Papua ini merupakan inisiatif strategis PLN  untuk mencapai target rasio elektrifikasi 100 persen pada 2020.

"Optimalisasi energi lokal berbasis energi baru terbarukan (EBT) juga diharapkan akan memperbaiki kinerja Bauran Energi sekaligus menurunkan Biaya Pokok Penyediaan (BPP) listrik,” jelas Ahmad Rofik dalam keterangan tertulisnya.

Dari hasil kajian dan survei PLN, ada empat alternatif pembangkit listrik EBT yang ditawarkan dalam Program 1.000 Renewable Energy for Papua, yakni Pembangkit Listrik Tenaga Pikohidro; Tabung Listrik (Talis); Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm); serta PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya).

Baca juga : Upaya PLN Pastikan Pasokan Listrik Aman saat Pelantikan Presiden

Nantinya, lanjut Rofik, akan ada 314 desa direncanakan untuk dilistriki menggunakan teknologi tabung listrik (Talis), 65 desa menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) dan Pikohidro (PLTPH), 158 desa akan menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm), dan 116 Desa dilistriki menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB).

"Kemudian, 34 Desa dilistriki menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut, 184 desa akan diterangi dengan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebanyak 151 set, serta selebihnya 252 desa rencananya akan disambungkan ke sistem jaringan listrik (grid) PLN yang telah ada” jelas Ahmad Rofik.

Pembangkit Listrik Tenaga Pikohidro merupakan pembangkit skala sangat kecil yang memanfaatkan energi potensial air, untuk menghasilkan listrik berkapasitas hingga 5.000 Watt.

Energi potensial air menggerakkan turbin, sedangkan turbin memutar generator, dan generator inilah yang dapat menghasilkan listrik.
Sedangkan Tabung Listrik merupakan alat penyimpanan energi (energy storage) layaknya power bank, yang digunakan  melistriki rumah.

Cukup dengan plug-and-play, masyarakat di pedalaman Papua sudah dapat memanfaatkan listrik dengan Talis, untuk kebutuhan penerangan hingga menyalakan televisi. Talis dapat diisi ulang di Stasiun Pengisian Energi Listrik (SPEL).

Baca juga : Mitsubishi Rangkul PLN untuk Isi Daya Mobil Listrik di Rumah

Sementara PLTBm adalah pembangkit listrik skala kecil yang memanfaatkan potensi energi biomassa, seperti bambu, kayu, serat kelapa sawit dan bahan organik kering lainnya.

Pembakaran biomassa menghasilkan uap air bertekanan yang memutar turbin,  kemudian menggerakkan generator untuk menghasilkan listrik. PLTBm yang dikembangkan oleh PLN Regional Maluku dan Papua berkapasitas 310 kW.

Seperti yang dikenal selama ini Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), menjadi alternatif melistriki daerah yang sulit dijangkau oleh transportasi darat. Karena itu dengan mengandalkan sumber energi matahari, maka sangat cocok untuk kawasan terpencil.

Energi listrik disalurkan melalui jaringan tegangan rendah atau digunakan sebagai SPEL untuk Talis / Energy Storage (cadangan energi). (RO/OL-7)

BERITA TERKAIT