21 October 2019, 16:40 WIB

Qatar Melukis Jalanan untuk Mengurangi Panas


Suryani Wandari Putri | Weekend

dok. The Peninsula
 dok. The Peninsula
Pemerintah Qatar memberikan warna biru untuk mengurangi suhu di jalanan.

Musim panas rasanya masih belum berakhir, suhu panas, dan kekeringan masih membayangi beberapa negara, tak terkecuali Qatar. Negara yang berada di semenanjung Jazirah Arab di Asia Barat ini nyatanya menjadi negara terpanas di Bumi dengan suhu Suhu di musim panas sekarang mencapai 115 ° F atau setara 46 ° C.
 

Tingginya suhu itu membuat pelaksanaan Piala Dunia 2022, dipindahkan ke musim dingin, untuk menghindari panas yang membakar tubuh para atle.

Dilansir dari dailymail, untuk mengurangi panas negara ini pun memasang AC di luar ruangan dan mengecat jalan biru agar tetap dingin. Tahun lalu negara teluk yang mungil itu mulai menggunakan pendingin udara di stadion sepak bola untuk membuat penggemar dan pemain tetap sejuk.

Bahkan di Doha, ibu kota negara tersebut, Otoritas Pekerjaan Umum telah berubah menjadi pelukis di Jalan Abdullah Bin Jassim, di dekat salah satu pasar terbesar di kota itu untuk mengurangi suhu aspal hingga 59-68 ° F atau 15-20° Celcius.

Pemilihan warna biru bukan tanpa sebab. Warna biru bisa menurunkan suhu jalanan dibandingkan warna gelap yang bisa menyerap panas matahari. Selain itu pemilihan ini telah melalui percobaan selama 18 bulan di jalan setinggi 650 kaki (250 m) dengan menggunakan lapisan biru tebal 0,003ins (1mm) dengan pigmen pemantul panas khusus. Warna ini juga berisi mikrosfer keramik berongga yang dirancang untuk memantulkan radiasi inframerah.

"Suhu aspal gelap adalah 20 derajat Celcius lebih tinggi dari suhu sebenarnya karena hitam menarik dan memancarkan panas," kata Insinyur Saad Al-Dosari.

Kota-kota lain di seluruh dunia juga telah melakukan percobaan serupa untuk menghadapi panas yang ekstrem. Pada musim panas ini, Los Angeles juga melukis jalan-jalannya dalam lapisan putih keabu-abuan yang bisa menjadi 23 ° F lebih dingin dari permukaan hitam.

Pendingin udara di Qatar bekerja dengan memompa udara dingin ke trotoar melalui nozel pendingin setelah air dingin dibawa ke jalan melalui pipa.

Qatar sangat rentan terhadap panas ekstrem karena negara itu adalah semenanjung - sebidang tanah yang mencuat ke air - di Teluk Persia. Di Teluk, suhu rata-rata permukaan air adalah sekitar 90,3 ° F (32,4 ° C).

Dengan hampir tidak ada awan atau hujan di musim panas, kenaikan suhu laut menyebabkan kelembaban atmosfer lebih banyak. "Daerah-daerah ini memanas lebih cepat daripada bagian dunia yang lain, dan di kota-kota tertentu di atas itu Anda memiliki efek pulau panas perkotaan dan polusi perkotaan," kata Jos Lelieveld, seorang ahli kimia atmosfer di Max Planck Institute di Jerman.

Dalam upaya untuk membantu semua orang tetap tenang, perencana kota juga telah membangun jalan setapak dan jalan-jalan yang menunjuk ke utara untuk memanfaatkan angin sepoi-sepoi yang datang dari arah itu. "Saya pikir sangat bagus bahwa pemerintah berpikiran terbuka tentang menggunakan inovasi teknologi untuk menghadapi tantangan dari tinggal di padang pasir," kata seorang ilmuwan data berusia 30 tahun yang bekerja untuk Qatar Computing Research Institute (QCRI). (M-3)

Baca juga : Festival Jazz Cinta Bumi digelar Desember

 

BERITA TERKAIT