21 October 2019, 15:38 WIB

Ratusan Peserta STIA LAN dari Empat Kota Ikuti ICoGPASS II 2019


Muhamad Fauzi | Humaniora

MI/M Fauzi
 MI/M Fauzi
Kepala STIA LAN Jakarta Prof Dr Nurliah Nurdin

KEPALA Lembaga Administrasi Negara (LAN) Adi Suryanto mengatakan, saat ini dunia semakin tanpa batas (borderless).

Adi Suryanto mengatakan hal tersebut saat membuka acara International Conference on Governance, Public Administration and Social Science (ICoGPASS) II 2019 bertema 'Enhancing Public Policy and Political Economy Qualities through Global Partnership' yang diselenggarakan Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Lembaga Administrasi Negara (STIA LAN) Jakarta di Hotel Millenium, Jakarta Senin (21/10)..

Dengan ketiadaan batas tersebut, menurut Adi, mengakibatkan semakin mudahnya satu kondisi negara atau beberapa negara menghadapi suatu krisis dapat berimbas ke negara lain baik krisis ekonomi maupun politik.

Pada kasus-kasus tertentu, Adi menegaskan, imbas dari krisis tersebut bahkan berdampak global. "Kita masih ingat krisis ekonomi pada tahun 1990-an berdampak krisis ekonomi juga politik dan melahirkan reformasi di Indonesia," ucapnya. 

Persoalan sosial, ekonomi, politik, dan lingkungan khususnya yang berskala global, Adi menyarankan, sudah semestinya didekati dengan kemitraan global oleh negara-negara yang memiliki kapasitas dan kompetensi untuk mengatasinya. 

"Kita tidak mampu lagi mengatasi masalah dunia hanya dengan mengandalkan kekuatan sendiri. Kemitraan global pada saat ini menjadi prasyarat bagi setiap negara untuk menghadapi berbagai tantangan global dengan meningkatkan kualitas kebijakan publik dan sistem ekonomi politik," jelas Adi.

Sementara itu, Kepala STIA LAN Jakarta Prof Dr Nurliah Nurdin mengatakan, gap antara desentralisasi dan sentralisasi yang berada di tangan partai politik. 

Menurut Nurliah, saat ini politik masih dikendalikan elite politik dan kebijakan publik masih didominasi oleh kepentingan politik. Sehingga perlu desentralisasi politik dan pemerintah harus sejalan.

"Perlunya desentralisasi parpol, perlunya ruang untuk berbeda sikap dan pilihan dan melaksanakan kebijakan “all politic is local” serta partai politik sebagai infrastruktur politik," jelasnya.

Masih menurut Nurliah, Konferensi Internasional ICoGPASS kali ini adalah kegiatan yang kedua kalinya. Tahun lalu, STIA LAN juga menggelar acara serupa.

"Ini adalah kegiatan untuk yang kedua kalinya digear STIA LAN Jakarta. Konfrensi Internasional ini menjadi  sarana untuk mendorong para siswa STIA LAN maupun dari luar khususnya yang mengambil program pasca sarjana untuk menulis dan mempresentasikan buah pikirannya di depan orang lain," kata Nurliah.

Pada kesempatan yang sama, Nurliah juga mengatakan  Konfrensi Internasional ICoGPASS II 2019  diikuti sekitar 250 peserta yang terdiri dari siswa STIA LAN Jakata maupun perwakilan STIA LAN Bandung, Makassar, dan Lampung.

"Ada juga peserta dari Singapura dan Filipina," jelasnya.

Lebih lanjut Nurliah menambahkan, k edepan, tidak menutup kemungkinan Konferensi Internasional seperti ini akan kita selenggarakan di negara tetangga. Hal itu, menurut Nurliah, guna lebih meningkatkan wawasan dan penulisan para siswa.

Kepala STIA LAN Jakarta juga berharap, mahasiswa harus mampu mepublikaiskan hasil tulisannya dalam bentuk jurnal atau kegiatan seperti ini sehingga diketahui banyak pihak.

"Jika kurang baik bisa secepatnya dibenahi," ujar Nurliah.

Hadir sebagai pembiacara dalam kegiatan tersebut Dr. Mehmet Akif Demircioglu, pakar kebijakan publik dari Lee Kuan Yew School of Public Policy, Singapura. (OL-09)

BERITA TERKAIT