21 October 2019, 07:09 WIB

Melanjutkan Jejak Habibie Menuju Indonesia Maju


Dr. Ir. Hammam Riza, M.Sc. IPU Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi | Opini

Istimewa
 Istimewa
Kepala BPPT Hammam Riza

SENIN 21 Oktober 2019 memiliki makna penting yang patut dijadikan titik tolak bagi kita bangsa Indonesia, menapaki masa depan meraih kemajuan dan kemakmuran. Hari ini terhitung 40 hari sudah BJ Habibie, Presiden Ke-3 RI memasuki alam keabadiannya.  Adalah saat terakhir orang-orang berkumpul membacakan doa tahlil di Patra Kuningan Jakarta, rumah kediamannya.Setelah itu suasana di sanapun akan sepi dan mungkin orang akan berangsur melupakan kedukaan itu.

Namun sepatutnya kita harus terus mengingat warisan pesan BJ Habibie sebagai Bapak Teknologi Indonesia, agar bangsa ini terutama generasi muda, untuk terus mengasah kemampuannya menguasai iptek sebagai mesin penggerak pembangunan, hingga mampu bersaing dengan bangsa lain di dunia.
Kita pun perlu belajar dari kisah sukses dan kegagalan yang pernah dialami BJ Habibie serta meneruskan cita-citanya yang belum tergapai. Yaitu, agar Indonesia menjadi negara yang maju berbasis iptek.

Hari ini pula, adalah hari pertama Presiden ke-7 RI Joko Widodo menjalani periode kedua pemerintahannya. Pelantikannya bersama Wakil Presiden Ma’ruf Amin berlangsung di Gedung MPR-RI Jakarta, Minggu (20/10/2019).

Memasuki masa pemerintahan periode 2019-2024, Joko Widodo membawa harapan baru bagi masyarakat khususnya komunitas iptek, yaitu bagi terlaksananya pembangunan nasional berbasis iptek. Hal ini terkait dengan telah disahkan Undang-Undang Nomor 11 tahun 2019 tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, pada Agustus 2019 lalu. Produk hukum ini merupakan revisi dari Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan, dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, yang selama ini tidak memiliki kekuatan mengikat bagi kegiatan riset di Indonesia.

Adapun dalam undang-undang yang baru ini diatur tentang fungsi dan peran kelembagaan, serta  sinergi program riset iptek  yang akan dikoordinasikan oleh sebuah badan baru yang disebut Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN). Maka selama periode kedua pemerintahan Jokowi-Ma'ruf Amin, kita berharap akan keluar kebijakan lanjutan berupa  penerbitan turunan Undang-Undang Sinas Iptek berupa Peraturan Presiden yang antara lain mengatur tentang BRIN dan pola koordinasinya dengan kementerian dan lembaga terkait. Dengan terbentuknya BRIN maka masalah inefisiensi anggaran karena belenggu ego sektoral dapat terpecahkan.

Terbitnya UU Sinas Iptek yang akan disusul dengan produk hukum turunannya dalam masa pemerintahan Joko Widodo pada lima tahun mendatang, diyakini akan menjadi landasan hukum yang kokoh bagi pembangunan berbasis iptek jangka panjang secara berkelanjutan. Ketika menengok kebelakang sepanjang 74 tahun pembangunan di republik ini, kita melihat tak sedikit prestasi telah ditorehkan terkait pembangunan iptek. Namun ada sederet program telah dicanangkan para pimpinan bangsa yang tidak berkesinambungan. Menurut BJ Habibie ketiadaan dasar hukum tentang iptek yang menjadi titik masalahnya dan inilah yang juga terjadi pada masa pemerintahannya.

Tanpa ada undang undang yang mengatur riset iptek di Indonesia maka program pembangunan yang dirintis dan memakan waktu lama akan terancam putus di tengah jalan. Hal ini pernah disinggung BJ Habibie saat menyampaikan pidato pada Sidang Paripurna Dewan Riset Nasional di Solo (9/8/2016). Dalam pidatonya dikatakan, ketiadaan payung hukum terkait riset iptek mengakibatkan kegiatan riset selama masa kepemimpinannya terhenti dan tak mencapai target.

Ia menyebut program pesawat N250 sebagai contoh. Kegagalan sertifikasi pesawat N250 karena tidak ada regulasi yang mengamankannya. Pesawat terbang ini merupakan karya anak bangsa di bidang teknologi dirgantara, sebagai penanda kemampuan bangsa ini dalam penguasaan teknologi canggih. Bila pada saat itu sertifikasi kelaikan terbang N250 dapat diraih PTDI, maka akan dapat mengantarkan industri pesawat terbang di Indonesia mencapai kemandiriannya dan berdaya saing di kancah dunia.   

Meskipun dikandaskan oleh kemelut politik dan krisis ekonomi tahun 1998, perjuangan BJ Habibie untuk memajukan bangsanya tak pernah usai hingga akhir hayat. Hadir dalam setiap acara bertema pendidikan, iptek, sosial budaya dan kebangsaan, BJ Habibie yang meski didera penyakit tua masih menyempatkan diri untuk tampil berpidato dengan gayanya yang khas menyemangati dan memotivasi peserta forum, generasi muda penerus bangsa.

Kesempatan kami bertemu BJ Habibie terakhir kali adalah pada 29 Juli 2019, sebelum wafatnya pada 11 September 2019. Ketika itu di Ruang Perpustakaan Habibie-Ainun di kediaman pribadinya, Habibie menerima peserta Pelatihan Kepemimpinan Nasional Tingkat I Angkatan ke-42. Walaupun dalam kondisi tak sehat, BJ Habibie yang baru genap berusia 83 tahun pada 25 Juni lalu, menyampaikan wejangan dan visinya tentang pembangunan Indonesia masih dengan semangat dan sesekali berhenti sejenak karena terbatuk.  
Ia pun terus menyemangati para peserta pelatihan kepemimpinan agar dapat melanjutkan perjuangannya, menguasai teknologi untuk menjadikan Indonesia menjadi negara maju.
Nasehat terakhirnya yang diberikan kepada para peserta pelatihan kepemimpinan adalah jadilah pemimpin yang menghasilkan  kebijakanu ntuk membantu tercapainya tujuan bangsa yaitu negara yang adil dan makmur, seperti tercantum dalam UUD 1945.

Dalam silaturahim itu dibahas tentang manajemen talenta nasional yang merupakan kebijakan pemerintah dalam memperkuat sumber daya manusia (SDM) nasional.Pemerintah perlu memperhatikan masalah SDM iptek untukmenghasilkan inovasi yang berkelanjutan dan bisa memakmurkan rakyat. Bangsa ini harus menguasai teknologi canggih seperti teknologi kedirgantaraan yang merupakan pencapaian tertinggi bidang teknologi. Ia menggambarkan apabila SDM Indonesia sudah bisa membuat pesawat, maka akan bisa membuat kereta api dan mobil. Dan industri-industri seperti itu akan terus berkelanjutan dan membuka lapangan kerja cukup besar.

Hal inilah yang menjadi visi dan misi para pendiri dan pimpinan Republik ini pada periode lalu yaitu Soekarno dan Soeharto. Sejak tahun 1950 Soekarno mengirimkan anak-anak muda Indonesia untuk belajar di luar negeri keberbagai negara di Eropa dan Amerika Serikat hingga menguasaiberbagai teknologi maju.  

Pengiriman mahasiswa ke berbagai negara maju pada masa Soekarno, antara lain membuahkan hasil dengan munculnya sosok B.J. Habibie, ahli konstruksi pesawat terbang yang menjadi andalan pada masa Soeharto untuk membangun industri pesawat terbang dan industri strategis lainnya.

Visi yang sama tentang pentingnya SDM Iptek juga dilanjutkan BJ Habibie. SDM iptek seperti diamanatkan Soekarno dan Soeharto harus terus ada, ditingkatkan dan dikembangkan. Bila negara ini ingin mengurangi beban utang negara yang besar, maka jawabannya adalah kuasai teknologi dan siapkan sumber daya manusia serta infrastrukturnya.

Dalam mendayagunakan putra-putri terbaik Indonesia yang kembali ke Tanah Air etelah menamatkan pendidikannya di luar negeri. Habibie telah menyiapkan balai-balai pengembangan dan riset yang disesuaikan dengan kebutuhan dalam negeri, di Puspiptek Serpong.

Dalam penguasaan, penerapan hingga pengembangan teknologi maju itu BJ Habibie menerapkan strategi atau konsep berawal di akhir dan berakhir di awal. Menurutnya ini merupakan cara yang efisien, realistis, dan sistematik dalam proses alih teknologi industri untuk mengejar ketertinggalan bangsa Indonesia di bidang Iptek dari bangsa maju.

Mengikuti pola konvensional yaitu memulai dari penelitian dasar dalam transformasi industri akan memakan waktu terlalu lama sebab kesiapan sumber daya manusia, sarana dan prasarana teknologi yang ada saat itu sangat minim. Karena itu Indonesia akan makin jauh tertinggal dengan bangsa maju yang mengembangkan teknologi canggihnya dari waktu ke waktu.

Pemanfaatan teknologi yang sudah ada merupakan hal yang wajar dilakukan. Apalagi produk yang sudah ada itu teknologinya sudah proven dan digunakan oleh banyak negara. Ketika merintis pembangunan IPTN, BJ Habibie yang pernah menjadi Ketua Divisi Teknologi di industri pesawat terbang MBB di Jerman, menerapkan strateginya itu.  Ia melakukan adaptasi teknologi, dengan merakit pesawat C-212. Kemudian mulai menguasai teknologi dengan membuat pesawat CN-235 berkerjasama dengan Cassa (C) Spanyol. Hingga akhirnya pengembangan secara mandiri pesawat N-250, karya anak bangsa.
Strategi reverse engineering Habibie ternyata juga digunakan RRT dalam mengembangkan kereta cepat. Dari mulai membeli kereta api dari Jerman, hingga kini berhasil mengembangkan industri perkeretaapian sendiri. Jalur kereta api cepat buatan RRT itu kini tengah dibangun di koridor Jakarta- Bandung.

BJ Habibie dalam berbagai kesempatan selalu berpesan untuk menuju bangsa yang maju, manusia Indonesia harus bisa menguasai dan mengembangkan teknologi untuk menghasilkan produk yang memiliki nilai tambah ekonomi tinggi. Dalam rangka mendukung program Transformasi Ekonomi yang digaungkan Presiden Joko Widodo, maka sangat dibutuhkan inovasi teknologi guna mendorong penguatan Industri Manufaktur. Untuk itu BPPT sebagai lembaga kaji terap siap untuk berperan dalam menciptakan inovasi teknologi sesuai kebutuhan industri manufaktur.

BPPT sebagai warisan dari BJ Habibie akan terus mengemban amanat besar dalam melahirkan inovasi dan layanan teknologi terbaik bagi kemajuan Indonesia. Semoga akhir hayat BJ Habibie sebagai Bapak Bangsa menjadi awal baru bagi kebangkitan bangsa Indonesia di bidang teknologi dalam mengejar ketertinggalannya dari bangsa lain dan menjadi bangsa yang maju, sejahtera dan mandiri.

 

BERITA TERKAIT