21 October 2019, 04:00 WIB

Lapak Buku Kwitang, Riwayatmu Kini


Tri/H-3 | Humaniora

MI/ BARY FATHAHILAH
 MI/ BARY FATHAHILAH
Suasana Pasar Buku Kwitang yang masih ramai pengunjung di Kecamatan Senen, Jakarta, Sabtu (21/9).

KWITANG identik dengan buku. Sejak lama, daerah di Jakarta Pusat itu jadi surga bagi pecinta buku. Pamor Kwitang makin meroket utamanya di kalangan anak muda saat film Ada Apa dengan Cinta? tayang pada tahun 2002.  

Film besutan Rudy Soedjarwo itu menjadikan Kwitang sebagai lokasi Rangga (Nicholas Saputra) dan Cinta (Dian Sastrowardoyo) berkencan. Saat itu, Kwitang disesaki penjual yang menggelar dagangannya di pinggir jalan.

Namun, pemandangan Kwitang dalam film Ada Apa dengan Cinta? sudah tidak terlihat. Jalanan lengang. Hanya tiga orang yang berjualan di trotoar. Kegiatan jual-beli buku di Kwitang saat ini terpusat di sebuah bangunan lama yang berada di sebelah fly over Senen.

Sebanyak 20 pedagang menyesaki bangunan itu dengan tumpukan buku. Beragam jenis buku, baik dalam kondisi baru maupun lama dijual. Pembeli bisa menemukan buku sekolah, politik, ekonomi, filsafat, sejarah, sastra, resep masakan, majalah, buku motivasi, buku agama, dan komik.

Sebelum penggusuran yang terjadi pada 1997 dan 2008, lokasi ini mudah terlihat pembeli. Saat itu masih banyak pedagang kaki lima yang berjualan buku di trotoar, bahkan hingga tumpah ke jalan.

Kebakaran pada 19 Januari 2007 di kawasan pelapak buku Kwitang juga membuat sejumlah pedagang merugi dan memutuskan berhenti berjualan.

Hardi, 37, mengaku sudah berjualan selama 15 tahun di Kwitang. Orangtuanya, bahkan telah berjualan sejak 1970 di daerah tersebut. “Dulu mah di belakang, lama-lama geser. Akhirnya sekarang di dalam,” tuturnya kepada Media Indonesia, beberapa waktu lalu.

Ia mengaku kebanyakan pelanggannya berasal dari kalangan mahasiswa. “Biasanya buat orang nyusun (skripsi), nyari materi. Kalau lagi semester baru, yang laku buku-buku pengantar,” ujarnya.

Salah satu pengunjung, Deni, 18, sengaja datang ke Kwitang untuk mencari buku kuliah. Deni yang baru memasuki bangku perkuliahan memilih mencari buku di Kwitang karena alasan harga. “Di sini kan harganya under retail, jadi lebih murah jika dibanding dengan toko buku besar,” ungkapnya.

Hal senada terucap dari Lili, 22. Mahasiswi akhir ju-rusan  olahraga itu juga berujar bahwa harga yang murah menjadi pertimbangannya membeli buku di Kwitang. Meskipun baru dua kali, ia merasa senang berbelanja di sana. “Karena lokasinya di pinggir jalan, jadi mudah ditemui,” ujarnya

Namun, pedagang buku di Kwitang mengeluhkan kehadir­an gawai yang membuat pengun­jung semakin jarang datang. “Dulu yang datang ke sini enak banget. Terakhir tahun 2008 ramainya karena belum ada gadget,” terang Hardi. Ia mengaku harus membuka toko online guna mengikuti perkembangan zaman dan memperluas pasar.

Pedagang lain, Subhil, 49, juga mengamini ucapan Hardi. “Saya jualan online dari tahun 2015. Artinya, online itu sebuah keniscayaan. Kalau ngga ngi-kutin, kita tertinggal. Pasar online kan luas, tak terbatas,” terangnya. Meski demikian, ia masih setia menunggui lapaknya di Kwitang. (Tri/H-3)

BERITA TERKAIT