20 October 2019, 12:14 WIB

BNI Pastikan Dana Nasabah tetap Aman


M. Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi

MI/M Irfan
 MI/M Irfan
Gedung BNI

DIREKTUR  Bisnis Korporasi PT Bank Negara Indonesia (BNI) (Persero) Tbk, Putrama Wahju Setiawan mengungkapkan, dana nasabah yang tersimpan di perseroan aman sehingga mereka tidak perlu takut dan khawatir untuk terus bertransaksi di BNI.

Putrama dalam keterangan resminya yang diterima, Sabtu (19/10) mengatakan, kejadian yang terjadi di Ambon merupakan tindakkan oknum dan sama sekali tidak memengaruhi kondisi perseroan.

"Nasabah seharusnya tidak perlu khawatir, sebab operasional layanan perbankan BNI tetap berjalan normal, utamanya di Ambon. Sebagian besar kepercayaan nasabah juga tetap terjaga, hal itu dibuktikan dengan jumlah transaksi masuk yang lebih banyak daripada keluar," ujarnya.

Hal lainnya, kata dia, BNI berkomitmen menjaga ketersediaan uang tunai yang dapat digunakan melalui berbagai kanal. Anjungan Tunai Mandiri (ATM) BNI pun tersedia 24 jam sehari 7 hari satu minggu.

Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dihimpun oleh seluruh outlet kantor cabang Ambon juga masih terlihat memuaskan. "Ini juga bukti dari animo masyarakat Ambon untuk menabung dan menggunakan layanan transaksi digital (digital service transaction) BNI yang cukup tinggi," tukas Putrama.

Dari data per September 2019, DPK yang dihimpun di Ambon dan sekitarnya tumbuh 20,06% year on year (yoy) dibanding 2018. DPK yang tumbuh merupakan salah satu indikator penting dalam mengukur kepercayaan masyarakat terhadap BNI.

"Yang lebih menyenangkan adalah melihat fakta bahwa DPK BNI tersebut sebagian besar karena ditopang oleh pertumbuhan tabungan dan giro yang merupakan sumber dana murah," jelas Putrama.

Dari catatannya, wilayah Ambon dan sekitarnya terjadi pertumbuhan tabungan sebesar 19,99% dwn giro sebesar 27,96 yoy.

Oleh karenanya, Putrama menilai, kasus yang terjadi di Ambon tidak memiliki dampak yang signifikan kepada operasional layanan dan ketersediaan dana perseroan.

"Kasus ini sudah dalam proses penyelidikan pihak Kepolisian sehingga diharapkan dapat mempercepat proses pengungkapannya," ujar Putrama.

Berdasarkan hasil investigasi, Putrama menyebutkan ada kondisi yang tak wajar soal adanya dugaan sindikat yang menawarkan investasi yang tak wajar pula.

FY, salah seorang pelaku merupakan bagian dari sindikat, mengumpulkan dana dari para investor dengan dijanjikan imbal hasil yang cukup besar untuk berbisnis. Sementara para penerima aliran dana disinyalir adalah para pemilik modal yang seolah-olah menerima pengembalian dana dan imbal hasil dari oknum, padahal dananya berasal dari hasil penggelapan dana bank.

"Nilai dana yang digelapkan FY berdasarkan temuan hasil pemeriksaan internal mencapai sekitar Rp58,95 miliar," tutur Putrama.

Dari temuan internal itu, BNI mengambil tindakkan untuk melaporkan hal tersebut kepada Polda Maluku guna membongkar kasusnya serta me-recovery dana BNI yang digelapkan oleh terduga. (A-2)

BERITA TERKAIT