20 October 2019, 10:23 WIB

Jokowi Maruf Harus Maksimalkan Pertumbuhan Ekonomi


Andhika Prasetyo | Ekonomi

Antara
 Antara
 Pekerja menyelesaikan produksi kompor gas di pabrik peralatan elektronik rumah tangga PT Selaras Citra Nusantara Perkasa, di Cileungsi.

PEMERINTAHAN Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Maruf Amin diharapkan dapat mewujudkan kinerja perekonomian yang lebih baik dari lima tahun ke belakang. Sebagaimana diketahui, selama periode pertama kepemimpinan Jokowi, pertumbuhan ekonomi nasional terjebak di kisaran 5%.

Ekonom Bank Central Asia, David Sumual melihat itu memang bukan sepenuhnya kesalahan pemerintah. Faktor global turut berandil besar dalam pelemahan ekonomi, tidak hanya di Tanah Air, tapi di berbagai negara di seluruh Bumi. Namun, semestinya, pemerintah bisa melakukan upaya lebih keras untuk bisa mendorong pertumbuhan ekonomi ke level yang lebih baik. Salah satu caranya ialah dengan menciptakan rasa percaya dan optimisme di tengah masyarakat.

Pada 2018, konsumsi rumah tangga masih menyokong 56% dari total PDB di Indonesia. Maka dari itu, sektor tersebut harus terus dijaga selama ekspor dan investasi belum siap menjadi pemain utama.

"Itu yang harus dilakukan ke depan. Pemerintah harus bisa menimbulkan kepercayaan agar konsumsi rumah tangga tetap kuat. Kita harus jaga di situ karena untuk saat ini kekuatan Indonesia di konsumsi domestik," ujar David kepada Media Indonesia, Minggu (20/10).

Ia menyebut seburuk-buruknya kondisi ekonomi global, jika konsumsi rumah tangga mampu tumbuh 5%, pertumbuhan ekonomi Indonesia minimal bisa berada di level 4,6%.

Untuk itu, ia mendesak pemerintah dapat menahan berbagai kebijakan yang akan mengeskalasi administered price. Atau harga produk yang diatur pemerintah mulai dari cukai rokok, tarif listrik, bahan bakar minyak hingga iuran BPJS Kesehatan. Jika harga-harga tersebut naik, daya beli masyarakat terutama kelas menengah ke bawah akan sangat terpengaruh hingga akan mengganggu capaian konsumsi domestik.

baca juga: Pendekatan Indonesia Sentris Membuka Keterisolasian

Di luar itu, David menilai kebijakan moneter dan fiskal sudah cukup mendukung pertumbuhan. Terlebih dengan penurunan suku bunga global yang diiringi pelonggaran suku bunga acuan oleh Bank Indonesia. Selain asumsi makro tersebut, David menjabarkan beberapa katalis yang bisa mendorong ekonomi tahun depan. Antara lain kelanjutan proyek infrastruktur dan rencana pemindahan ibukota juga akan menjadi katalis pendorong ekonomi di periode selanjutnya. Pasalnya, program-program itu akan mendorong kinerja sektor konstruksi dan properti. (OL-3)

 

BERITA TERKAIT