20 October 2019, 07:10 WIB

Sariayu Dukung Festival Gandrung Sewu 2019


MI | Humaniora

Dok. Martha Tilaar
 Dok. Martha Tilaar
Festival Gandrung Sewu 2019

MEWUJUDKAN  semangat Beautifying Indonesia yang puluhan tahun menjadi filosofi Martha Tilaar Group, Sariayu terus mendukung berbagai kegiatan fesyen, kecantikan, seni, dan budaya, baik di Tanah Air maupun mancanegara. Teranyar, Sariayu dipercaya untuk merias 1.400 penari dalam Festival Gandrung Sewu 2019 sebagai sponsor resmi.

Festival yang digelar di Pantai Marina Boom Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu (12/10), itu sudah diselenggarakan delapan kali. Pada tahun ini, Sariayu menjadi official make up melalui rangkaian produk Sariayu Color Trend 2019  Inspirasi Indonesia. Koleksi Sariayu Color Trend Inspirasi Indonesia diharapkan ikut meramaikan tampilan para penari di Festival Gandrung Sewu 2019.

Manajemen Sariayu berharap kolaborasi dengan Festival Gandrung Sewu 2019 dapat menjadi awal kerja sama yang berkesinambungan dan bermanfaat bagi banyak pihak. Ini diharapkan menjadi kemitraan menguntungkan bagi industri kecantikan dan pariwisata di Indonesia, serta menginspirasi perkembangan para pelaku sektor industri tersebut agar terus mengeksplorasi kreativitas.

Kesungguhan upaya Bupati Azwar Anas menyejahterakan warganya, sejalan dengan salah satu dari 4 pilar Martha Tilaar Group; empowering women, sehingga Sariayu langsung menerjunkan tim makeup artist untuk workshop dan pelatihan make up untuk menguatkan kreativitas dan kemandirian warga Banyuwangi khususnya dalam bidang seni dan budaya yang juga merupakan fokus Martha Tilaar Group sebagai mitra co-branding dari Kementrian Pariwisata dalam upaya menumbuhkan atraksi budaya menjadi keunggulan wisata.

 

Gandrung Sewu merupakan gelaran tari kolosal yang diiringi alun­an Gamelan Osing. Tarian ini menjadi wujud syukur atas tanah yang subur dan hasil panen melimpah, juga sebagai bentuk ekspresi dan perwujudan rasa kebersamaan yang melibatkan emosional masyarakat. Nuasa kebersamaan dan keakraban yang terbangun dalam momentum Gandrung Sewu menunjukkan ekspresi solidaritas sosial yang sangat kental. Saat para penari menari bersama secara partisipatif, berbagai perbedaan latar belakang budaya, kelompok, etnis, agama atau status sosial, seolah larut sedemikian rupa dalam suatu rasa kebersamaan yang baru.

 

 


Transformasi budaya

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan Tari Gandrung sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Sebelumnya, banyak tudingan miring mengarah pada kesenian gandrung. Hal itu menyebabkan generasi muda enggan menggeluti kesenian tradisional.  Apalagi perkembangan budaya global semakin sulit dibendung.

Saat ini generasi muda semakin asing dengan seni budaya dan adat tradisi, serta kearifan lokal lain. Kondisi ini menyebabkan banyak kesenian tradisional yang berujung mati suri karena tidak terjadi regenerasi. Namun, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi gencar mengangkat dan mengemas seni budaya sebagai komoditas industri pariwisata. Upaya yang terus berkembang juga berfungsi sebagai konservasi.

Penyelenggaraan Gandrung Sewu sendiri diinisiasi oleh Budianto, pengamat dan pemerhati budaya Banyuwangi, yang saat ini menjadi penanggung jawab pelaksanaan Festival Gandrung Sewu.

 

Hasnan Singodimayan, budayawan Banyuwangi, memuji program strategis Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas yang melakukan transformasi budaya dengan informasi jelas. Konservasi budaya melalui Gandrung Sewu dikatakannya mebuahkan hasil luar biasa. Sebelum Gandrung Sewu digelar, sangat sulit mencari 1.000 penari. 
Kondisi berbanding terbalik dengan saat ini bahwa angka tersebut dinilai relatif sedikit karena banyak penari Gandrung muda yang siap tampil kapan pun.

Mengangkat seni budaya dengan kemasan festival, tutur Hasnan, merupakan strategi jitu yang digencarkan Bupati Banyuwangi untuk menyelamatkan kesenian tradisional dari kepunahan. Selain itu, upaya konservasi mampu mengubah citra negatif yang selama ini melekat pada kesenian Gandrung. (Tes/S3-25)

BERITA TERKAIT