20 October 2019, 01:15 WIB

Mencegah Warga Keluar Desa


Liliek Dharmawan | Nusantara

MI/Liliek Dharmawan
 MI/Liliek Dharmawan
Objek wisata: Pemandangan objek wisata Pagubugan di Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah

KHOERUDIN tidak tahu persis berapa warganya yang setiap tahun mengincar pekerjaan di kota-kota besar. Namun, Kepala Desa Melung, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, itu, sudah bertekad terus mengurangi kepergian mereka.

Tidak mudah, karena memang harus menyiapkan lapangan kerja untuk warga. Namun, tekad Khoerudin terbantu datangnya dana desa yang dialirkan pemerintah pusat dan program bantuan sosial seperti Program Keluarga Harapan. 

“Pemerintah Desa Melung terus berusaha mendorong adanya inovasi objek wisata baru dan peluang usaha untuk warga. Desa siap mendukung program yang bermanfaat bagi warga, apalagi menyerap tenaga kerja dan peluang usaha,” tutur Khoerudin. 

Adanya peluang usaha di Melung, membuat Siti Khotimah, 32, enggan bekerja di kota. Perempuan ini menjadi salah satu penerima PKH. Bersama sekitar 100-an penerima lain, mereka bergerak bersama memproduksi keripik dan kopi khas Melung, dengan nama merek Kopilung. 

“Ada usaha dan hidup di desa bersama keluarga, jelas kami memilih tidak ke kota. Apalagi kota-kota besar dengan banyak masalah di sana,” ungkap Khotimah. 

Setiap hari, ibu-ibu Melung mampu memproduksi kopilung sebanyak 40 kilogram. Bahan baku kopi berasal dari desa itu sendiri. 

“Kelompok kami membeli kopi dari petani, kemudian disangrai dan dikemas. Kegiatan ini mampu menjadi salah satu usaha yang menguntungkan. Sampai sekarang, masih terus berproduksi dan ke depan pemasarannya diperluas,” ungkap Siti. 


Pagubugan

Meski terpencil, berada di lereng selatan Gunung Slamet, tetapi Desa Melung, dikenal inovatif dan terus berbenah menuju desa mandiri. Pada 2012, misalnya, Melung memulai menjadi desa internet, ketika desa-desa lain masih belum mengenalnya. 

Padahal, kala itu, akses internet tergolong masih sulit dan lambat. Lewat internet, Melung mampu mempromosikan hasil bumi dan kekayaan alamnya. 
Sebagai desa yang inovatif, Melung terus berbenah untuk menyejahterakan masyarakatnya. Sejak tahun lalu, Melung memiliki Pagubugan, sebuah objek wisata yang terletak di hamparan sawah di sebuah lereng perbukitan. 

Objek wisata yang digagas warga dan mendapat suntikan biaya pembangunan dari dana desa itu juga membuat arus urbanisasi bisa semakin direm. Meski skalanya masih kecil, objek wisata ini mampu menyerap tenaga kerja. 

“Ada enam warga yang kini mengelola wisata Pagubugan. Selain itu, ada lima warung yang berada di sekitar lokasi. Mereka berjualan berbagai macam minuman dan makanan,” jelas Kepala Urusan Keuangan, Desa Melung Margino.

Menurutnya, adanya objek wisata buatan itu terbukti membuka peluang kerja di desa. Karena belum lama dimulai, objek itu masih butuh promosi.  Namun, masa depan Pagubugan diperkirakan akan cerah. Saat ini saja, jumlah pengunjungnya mencapai rata-rata 5.000-an orang per bulan. Setiap pengunjung ditarik tiket masuk Rp7.000. 

Pemasukan dari objek ini setiap bulan mencapai Rp3 juta. Namun, saat libur Lebaran bisa melonjak hingga Rp12 juta. 

“Pendapatan dari Pagubugan bisa digunakan untuk membiayai operasional, upah bagi pengelola, sekaligus menyumbang pemasukan desa,” tambah Margiono. 


Proyek desa

Khoerudin mengakui fokus kerjanya sejak terpilih menjadi kepala desa ialah menghilangkan kemiskinan dengan menciptakan lapangan kerja. Ketika warga mengusulkan pembuatan objek wisata Pagubugan, spontan ia menyambutnya dengan tangan sangat terbuka. 

Dengan ringan, Pemerintah Desa Melung mengalokasikan dana hingga Rp600 juta yang dikucurkan sejak 2017 lalu untuk pembangunan Pagubugan. “Dengan  membuka wisata, akan berefek luas. Tidak hanya untuk pengelola saja, melainkan juga untuk warga sekitar yang berjualan,” jelasnya. (N-2)

BERITA TERKAIT