19 October 2019, 12:15 WIB

Kemarau Panjang, Petani Garam Sumringah


Ferdinandus Rabu | Nusantara

MI/Ferdinandus Rabu
 MI/Ferdinandus Rabu
Veronika memasak garam

TERIK matahari yang menyengat di musim kemarau ternyata tidak memudarkan semangat Veronika Paya Maran, petani garam di Desa Kolaka, Kecamatan Tanjung Bunga, Kabupaten Flores Timur (Flotim), Provinsi Nusa Tenggara Timur,.

Ibu itu tampak bersemangat  karena berkah kemarau yang dirasakannya.

Setiap pagi, Veronika bersama petani garam lainnya mulai bergegas menuju lokasi pondok garam untuk berburu dengan sinar matahari agar bisa memasak garam untuk dijual. Produksi garam saat kemarau ini memang melonjak tajam naik hingga 60%.

Ibu yang sudah menjanda dengan 3 anaknya ini tenyata sudah bertahun-tahun mengandalkan hasil jual garam dengan memanfaatkan terik matahari untuk mengais keuntungan setiap kali memasuki musim kemarau.

Baca juga: Kekeringan, Warga Wairbleler Manfaatkan Air Keruh dan Bau

"Kemarau begini memang membuat hasil garam di desa ini cukup baik. Ada berkah tersendiri bagi saya dan petani garam di sini. Sinar matahari sangat membantu kami untuk proses masak garam dengan kualitas yang lebih baik lagi. Sudah bertahun-tahun saya memanfatakan matahari untuk masak garam dan jual hasilnya. setiap hari saya bisa menghasilkan garam satu hingga dua karung, dan untuk seminggu saya bisa menghasilkan 4 karung lebih," jelas Veronika saat ditemui di lokasi pemasakan garam.

Menurut Veronika, kemarau yang melanda selama 6 bulan ini justru mendatangkan keuntungan berlipat ganda baginya untuk memenuhi kebutuhan hidup dan sekolah anak-anaknya, sehingga ia pun rela berjemur di panas, memanfaatkan terik matahari untuk memasak garam demi kebutuhan hidup sehari-hari.

"Lumayan, pak, kalau kemarau ini setiap minggunya saya jual hasil garam saya ke pasar. untuk satu kantong kecil biasa dijual seharga Rp10 ribu. Sementara untuk kantong yang cukup besar atau sedang dijual dengan harga Rp15 ribu. Jadi selama dua minggu keuntungan yang saya dapat berkisar Rp300 hingga Rp400 ribu, jadi untuk sebulan sekitar Rp800 ribu. lumayan pak untuk makan dan minum serta biaya sekolah anak-anak saya," ungkap Veronika.

"Menjual garam sudah menjadi mata pencaharian kami untuk memanfaatkan musim kemarau ini. Biasanya, dari April hingga Oktober saat kemarau. Namun jika musim hujan tiba maka kami pasti akan beralih profesi untuk berkebun, menanam sayur untuk dimakan dan dijual," sambung Veronika.

Sementara itu, dari pantauan di lokasi, potensi garam di wilayah ini cukup menjanjikan dengan kualitas yang cukup baik, namun masih dikelola dengan cara-cara tradisional dan dalam jumlah yang masih kecil.

Upaya pemasaran pun masih sangat sederhana hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Para petani garam di desa ini berharap agar pemerintah dapat memperhatikan lokasi ini, khususnya bisa mengangkat potensi pemasarana garam, untuk membantu meningkatkan kehidupan ekonomi para petani garam di daerah ini. (OL-2)

BERITA TERKAIT