19 October 2019, 11:45 WIB

Pertamina Boyolali Entaskan Penyandang Disabilitas


Widjajadi | Nusantara

MI/Widjajadi
 MI/Widjajadi
Kepala Dinas Sosial T Armunanto bersama GM MOR IV Pertamina Iin Febrian meninjau batik tulis yang dipamerkan di Workshop Sriekandi Patra.

PROGRAM Corporate Social Responsibility (CSR) PT Pertamina Terminal BBM Boyolali berhasil memberdayakan para penyandang disabilitas untuk trampil berkarya batik tulis yang laku di pasar.

Dengan pelatihan yang diberikan, belasan penyandang difabel yang diwadahi dalam workshop Sriekandi (Sanggar Inspirasi Karya Inovasi) Patra di Dukuh Penjalinan, Desa Tawangsari, kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali mampu membuat batik tulis beromset Rp50 juta.

Bahkan dari beberapa motif batik, ada yang sudah berhasil dipatenkan hingga punya HAKI, dengan nama Lembu Patra.

"Hak paten ini disesuaikan dengan keberadaanya yang ada di kabupaten Boyolali yang menjadi wilayah penghasil sapi (perah dan pedaging)," ujar salah seorang pembina saat peresmian Workshop Sriekandi Patra di Desa Tawangsari, Jumat (18/10).

Baca juga: Jelang 20 Oktober, Warga Bikin Mural Presiden dari Masa ke Masa

General Manager MOR IV IIn Febrian, dalam sambutannya, mengatakan Sriekandi Patra merupakan nama kelompok Difablepreneur yang telah dirintis CSR TBBM Boyolali sejak April 2018 di Desa Tawangsari, Boyolali.

Tim CSR TBBM Boyolali memilih kaum difabel di Desa Tawangsari yang berjumlah cukup banyak hingga 29 orang.

Mereka yang tadinya hanya disembunyikan keluarganya dari dunia luar, kemudian dibimbing dan diberdayakan, untuk direhabilitasi sekaligus diberikan pelatihan. Ternyata upaya yang dilakukan sejak 2015, mulai berbuah sejak 2018.

Dibantu beberapa warga desa lainnya, tim CSR membukakan jalan bagi para difabel untuk berkarya melalui batik tulis. Seorang penyandang disabilitas bernama Yuli Lestari, difasilitasi menjadi peserta kelas keterampilan batik di PR Yakkum Yogyakarta.

Dari awal kebisaan seorang Yuni inilah kemudian berhasil mengajak para difabel lainnya untuk berkarya dan mengembangkan motif-motif batik tulis khas Sriekandi Patra.

"Bahkan [ada 2018, kelompok ini mampu mencatatkan omset hingga Rp50 juta dalam setahun," tegas Iin.

Kepala Dinas Sosial Provinsi Tosadar Armunanto yang mewakili Gubernur Ganjar Pranowo menyatakan apresiasinya terhadap Pertamina TBM Boyolali yang mampu memberdayakan kalangan disabilitas di Boyolali.

Darmawangsa, seorang penyandang difabel yang menjadi koordinator di Workshop Sriekandi Patra, mengaku dia bersama teman temannya terus mengalami berbagai kemajuan, sejak mendapatkan pembinaan dari Pertamina TBM Boyolali.

Ada banyak motif batik berhasil dikerjakan, baik corak Solo, Yogjakarta dan daerah derah lain yang terkenal dengan karya batiknya.

Di dalam gedung workshop yang dilengkapi peralatan penunjang kegiatan membatik dan fasilitas, para anggota Sriekandi Patra bekerja dengan tekun.Ada ruang pamer yang dipergunakan untuk mempromosikan karya batik tulis mereka.

Ada pun cara pemasaran, selain dengan online juga offline. Ada yang ditawarkan Rp400 ribu-Rp 500 ribu. Dan yang paling mahal adalah batik tulis jenis prodo dengan harga Rp1 juta.

Pemkab Boyolali menjanjikan akan membantu memasarkan dengan cara memasukan ke ruang pamer Indrokilo.

"Kami akan beri kemudahan untuk memasukkan produk batik tulis teman teman difabel dari Workshop Sriekandi Patra ke ruang pamer Indrokilo," tegas Sekda Boyolali Masruri. (OL-2)

 

BERITA TERKAIT