19 October 2019, 03:40 WIB

Marwah Puisi di Era Disrupsi


Rifaldi Putra Irianto | Humaniora

MI/ 	rifaldi irianto
 MI/ rifaldi irianto
Seminar Nasional Puisi Antara Tradisi Dan Inovasi Diadakan PeringatiHari Puisi Indonesia, Jumat, (18/10).:

GEDUNG Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, terlihat berbeda, kemarin. Deretan kursi berwarna hitam serta kursi berwarna biru tua terlihat berjajar rapi menanti tamu istimewa.

Mereka yang ditunggu merupakan para pecinta puisi dari berbagai kalangan. Dari gene-rasi X hingga generasi Z, hari itu para penyair bercengkrama dan berdiskusi soal puisi, mera-yakan puncak perayaan Hari Puisi Indonesia (HPI) 2019.

Tampak hadir sejumlah sastrawan indonesia di antaranya, Maman S Mahayana, Abdul Hadi WM, Sutardji Calzoum Bachri, hingga ahli teknologi Riri Satria.

Dalam pemaparannya, Riri Satria yang juga Ketua Dewan Pengawas Yayasan Dapur Sastra Jakarta memaparkan bagaimana era disrupsi juga menghampiri puisi. Era disrupsi menciptakan perubahan seketika, dan mengacaukan sistem yang ada.

"Saat ini ada sebuah teknologi yang tengah dikembangkan Google. Berbasis kecerdasan buatan, Google membuat mesin pencipta puisi, " kata Satria.

Para peserta diskusi terdiam, cemas. Riri pun berusaha menenangkan. "Puisi ciptaan mesin tentu akan berbeda dengan ciptaan manusia. Puisi yang dibuat dengan mesin ini tidak memiliki jiwa, bagian rasa yang identik dalam sebuah puisi tentu berbeda. Semua yang dihasilkan dalam mesin hanya sebuah proses mekanistik tidak ada proses jiwa," ucapnya.

Seperti obat mujarab, omong-an Riri itu berhasil menenangkan para pengunjung yang tadinya terlihat khawatir. Meski begitu, Riri juga mengingatkan disrupsi yang melanda dunia sastra perlu diantisipasi.

Sebab akan ada beberapa tantangan di masa depan, mulai dari semakin terpolanya sebuah kreativitas hingga akan munculnya puisi dengan gaya baru berupa visual maupun hypertext. "Kita harus jeli menilai puisi apakah ini ciptaan manusia atau mesin? Akan semakin terpola sebuah kreativitas bergeser menjadi mesin, serta bagaimana menyikapi puisi dengan gaya baru seperti visual maupun hypertext. "

Jaga intelektual

Sastrawan Maman S Mahayana yang juga Ketua Umum Yayasan Hari Puisi menimpali, puisi Indonesia yang khas dengan sejarah merupakan salah satu identitas yang tak bisa terpisahkan dalam puisi indonesia. Ia pun menganggap disrupsi dalam puisi tidak perlu dikhawatirkan. "Kesadaran sejarah dalam sebuah puisi menjadi sebuah kekayaan bangsa Indonesia, menjadikan puisi Indonesia berbeda, " sebutnya.

Kegiatan Puncak Perayaan HPI 2019 akan berlangsung mulai 18-20 Oktober 2019 di TIM. Beragam acara akan digelar di sana. Maman mengatakan, pera-yaan HPI 2019 bertema, "Puisi, digniti, dan intelektualisme." Maman ingin menegaskan pada generasi saat ini bahwa puisi memiliki marwah.

Ketika Indonesia masih bernama Nusantara, sambungnya, puisi merupakan karya seni bermarwah yang menempatkan penyairnya sebagai sosok intelektual. Pun ketika kesultanan Islam di abad ke-12 hingga 17, para pujangga menulis syair sebagai gengsi dan reputasi sultan/raja.

Meidina, 20, salah seorang pengunjung yang datang bersama teman-temannya, terlihat antusias mengikuti diskusi itu yang diketahuinya dari medsos. (H-2)

BERITA TERKAIT