18 October 2019, 17:15 WIB

Kekeringan, Warga Wairbleler Manfaatkan Air Keruh dan Bau


Alexander P Taum | Nusantara

MI/Alexander P Taum
 MI/Alexander P Taum
Warga Desa Wairbleler manfaatkan air yang keruh dan bau karena kekeringan

KEMARAU yang terjadi bulan Maret hingga Oktober menurunkan debit mata Air Wair Koro. Akibatnya, ratusan warga Dusun Wolomapa dan Dusun Habijanang, Desa Wairbleler, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, terpaksa memanfaatkan air yang keruh dan berbau.

Kendati tidak memenuhi standar kesehatan untuk dikonsumsi, warga setempat memiliki cara untuk menjernihkan dan menghilangkan bau tersebut.

Yosefina Nona Lehan, warga Hoder RT 13 RW 05 Dusun Habijanang, Desa Wairbleler, menyampaikan, sejak bulan Juli sampai Oktober 2019, debit air semakin menurun, warga terus mengambil dan menggunakan air Wair Koro.

"Cara untuk menggunakan air ini, setelah ambil air ini kami menyimpan di wadah yang besar sampai kotorannya mengendap. Air yang sudah didiamkan dalam wadah tersebut kami saring lagi, supaya mendapatkan air yang benar-benar bersih. Setelah itu dimasak, habis masak didiamkan lagi dan disaring lagi untuk dikonsumsi," ujar Yosefina Nona Nehan menjelaskan cara mengonsumsi air keruh dan berbau itu.

Baca juga: Dampak Kekeringan, Dinas Sosial Flotim Salurkan Beras Cadangan

Warga juga memiliki kiat untuk menghilangkan bau.

"Agar tidak bau, saat dimasak tidak boleh dibiarkan sampai 1 minggu, kalau dibiarkan sampai satu minggu pasti akan bau lagi, jadi setelah 2 sampai 3 hari harus habis dikonsumsi, baru dimasak lagi," imbuhnya.

Sejak Agustus 2019, pemandangan antrean di air keruh dan berbau itu menjadi pemandangan yang jamak. Warga dusun Wolomapa dan Dusun Habijanang, Desa Wairbleler, terus berdatangan untuk mengambil air setiap pagi hingga malam hari. Walaupun mengantre, warga tetap bertahan untuk mendapatkan air, karena mata air tersebut satu-satunya sumber air yang ada di kampung Hoder.

"Sudah 3 bulan warga mengonsumsi air Wair Koro, walaupun keruh dan bau, warga tetap mengonsumsi air ini," ungkap Tokoh Muda Desa Wairbleler, Hilarius Pare, yang ditemui Media Indonesia di lokasi air Wair Koro saat mengambil air, Jumat (18/10).

Kekeringan yang melanda wilayah itu menyebabkan warga tidak punya pilihan lain selain mengambil air ini walaupun keruh dan bau, air digunakan untuk minum, mandi dan masak.

"Kurang lebih 2 minggu ini, warga terus berdatangan mengambil air. Kadang ada warga yang datang jam 15.00 Wita biasanya mengantre sampai jam 21.00 Wita dan ada lagi warga yang datang sampai dengan pagi," ujarnya.

Air Wair Koro digunakan oleh warga 3 RT yang ada di Desa Wairbleler. Saat musim hujan di tahun 2018, air ini digunakan oleh warga 2 Dusun yaitu Dusun Wolomapa dan Dusun Habijanang, Desa Wairbleler.

"Air ini dimanfaatkan warga yang bermukim di Dusun Wolomapa (6 RT), sedangkan Dusun Habijanang (9 RT). 216 kepala keluarga di Dusun  Wolomapa, sedangkan dusun Habijanang dengan jumlah 264 kepala keluarga," jelasnya.(OL-5)

 

BERITA TERKAIT