18 October 2019, 17:00 WIB

Kemarau Bawa Berkah bagi Petani Garam Bambu Grobogan


Akhmad Safuan | Nusantara

MI/Akhmad Safuan
 MI/Akhmad Safuan
Petani Garam di Desa Jono, Grobogan

KEMARAU panjang yang terjadi tidak selamanya membuat kesulitan, bagi perajin garam bambu Desa Jono, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Kemarau panjang ini menjadi cuaca yang menguntungkan karena meningkatkan produksi garam hingga 50% dibanding biasanya.

Cuaca panas dengan suhu mencapai 32 derajat celcius membuat keringat bercucuran dan membasahi kaos lengan pendek yang digunakan mbah Hadi, 65, perajin garam bambu di Desa Jono, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan. Untuk mengusir hawa panas, beberapa kali topi bambu (caping) sesekali dikibaskan sebagai kipas.

Sambil masih tetap bertahan di atas bilahan bambu, tangannya yang masih terlihat berotot terus mengisi satu demi satu ruas bambu dengan air sumur mengandung garam tinggi. Matanya yang tajam memandang hamparan bambu yang sudah mulai penuh dengan air.

Desa Jono, Kecamatan Tawangharjo, Grobogan, seperti desa-desa lain pada umumnya, hanya yang menjadi pembeda adalah jika daerah lain mengandalkan pertanian di sawah atau ladang, desa yang satu ini sebagian warganya menggantungkan hidup sebagai petani garam meskipun jauh dari laut yang berada sekitar 30 kilometer.

Cara pembuatan garam di Desa Jono ini berbeda dengan umumnya di kawasan pantura yang memasukan air laut ke ladang garam, tetapi menggunakan air sumur yang ditampung di bilahan bambu kemudian dijemur selama beberapa hari hingga membentuk kristal garam.

"Sejarah sudah ratusan tahun dan dikerjakan secara turun temurun, tapi di desa ini memang unik meskipun jauh dari laut tapi air sumur terasa asin," kata warga setempat, Soli, 45.

Baca juga: Derita Petani Garam di Musim Panen

Produksi garam Desa Jono tidak lah terlalu besar. Di lahan seluas tiga hektare, hanya dimiliki sekitar 50 keluarga dengan rata-rata 6x80 meter per keluarga. Namun, garam yang bersumber dari air sumur ini mempunyai pembeda dengan garam laut baik rasa, warna maupun butiran.

"Di sini lebih putih dan halus juga rasanya tidak terlalu asin," imbuhnya.

Pada kondisi normal, untuk menjadikan air sumur yang ditampung dalam bilahan bambu menjadi garam rata-rata 15 hari. Tetapi pada musim kemarau ini dengan suhu yang cukup panas hanya membutuhkan waktu sekitar 10 hari sudah menjadi garam dan siap panen.

Salah seorang petani garam Desa Jono, Mbah Hadi, mengatakan dengan kondisi kemarau seperti sekarang ini pembuatan garam bambu ini lebih cepat, sehingga para petani garam diuntungkan karena mampu berproduksi lebih besar sekitar 80-100 kilogram per panen.

"Saya sekarang punya stok cukup banyak," ungkapnya.

Selama musim kemarau ini, lanjut Hadi, para petani dapat panen tiga kali per bulan, beda dengan hari biasa hanya dua kali per bulan bahkan saat musim hujan hanya satu kali panen. Musim pun mempengaruhi harga jual, kemarau membuat kualitas garam bagus sehingga harganya mennjadi Rp8 ribu per kilogram, biasanya Rp5-6 ribu per kilogram.

Keuntugan lain dari produksi garam bambu ini adalah produksi bleng, bahan untuk campuran pembuatan krupuk gendar (krupuk dari nasi/beras). Bleng dihasilkan dari sisa air di bilahan bambu yang mengendap dan dapat dijual Rp15.000 per botol berisi satu liter.

Kepala Desa Jono, Kecamatan Tawangharjo, Grobogan, Eka Winarna, mengatakan garam dari desa ini sudah lama cukup dikenal dan harganya lebih mahal dari garam umumnya karena tekstur, rasa dan butirannya berbeda.

"Garam produksi Desa Jono ini lebih gurih tidak hanya asin," ungkap Eka.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo melihat garam Desa Jono tidak hanya dari rasa, tetapi cukup unik karena diproduksi dengan wahana bilahan bambu dan menarik, sehingga dapat menjadi daya tarik wisatawan karena belum tentu dapat ditemukan di daerah lain.

"Lahan yang terbatas ini juga dapat dikembangkan, sehingga produksi garam di sini juga meningkat dan petani semakin sejahtera," ucap Ganjar.

Ganjar menegaskan kegiatan pembuatan garam ini menarik bagi wisatawan, pun memiliki cita rasa yang berbeda sehingga bisa dijadikan oleh-oleh. Daerah ini pun didukung oleh obyek wisata lain seperti Bleduk Kuwu dan api abadi Mrapen yang tidak terlalu jauh.(OL-5)

 

BERITA TERKAIT