18 October 2019, 15:16 WIB

Berharap Guru Muda Pacu Mutu Pendidikan


mediaindonesia.com | Humaniora

ISTIMEWA
 ISTIMEWA
Mendikbud, Muhadjir Effendy, bersama narasumber dan pejabat eselon I serta pejabat eselon II di ruangan Ditjen GTK Kemendikbud.

HARI Guru Sedunia yang diperingati setiap 5 Oktober menjadi momentum dalam meningkatkan minat generasi muda untuk memilih profesi sebagai guru.

Dengan mengangkat tema Young teachers the future of the profession pada Hari Guru Sedunia tahun ini, diharapkan semua pihak ikut berperan mempromosikan profesi guru dalam mendidik dan menciptakan sumber daya manusia Indonesia yang berdaya saing.

Demikian pesan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy pada peringatan Hari Guru Sedunia yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Jakarta, Kamis (10/10).

Hari Guru Sedunia mulai diperingati pada 1994 sesuai penandatanganan dokumen UNESCO mengenai status guru. Isi dokumen tersebut menjelaskan tentang standar perekrutan guru, pelatihan guru, serta kondisi kerja guru di seluruh dunia. Bersama dengan 200 negara anggota UNESCO yang lain, Indonesia turut ikut mera­yakannya setiap tahun.

Menurut Muhadjir, Hari Guru Sedunia bukanlah hanya seremonial. Lebih dari itu, peringatan Hari Guru Sedunia ialah cara agar kapasitas guru sebagai profesi terus ditingkatkan.

Dia memandang profesi guru sudah menjadi pekerjaan yang membanggakan baik secara ekonomi maupun sosial. Maka itu, pemerintah terus berupaya meningkatkan kesejahteraan guru supaya generasi muda memilih pekerjaan tersebut sebagai profesi masa depan. “Makanya, sekarang harus membuat guru jadi pekerjaan profesional yang membanggakan,” ucapnya.

Mendikbud, Muhadjir Effendy saat memberikan sambutan dalam Lokakarya Nasional di Gedung Kemendikbud, Jakarta.

 

Menurut Mendikbud, harus ada langkah konkret untuk memastikan profesi guru di Indonesia bisa menjadi sebuah pekerjaan profesional yang punya self-dignity (kehormatan diri).

Mendikbud menyebutkan ada tiga hal yang harus ditangani. Pertama, aspek ekspertise atau keahlian guru. Guru, lanjut dia, membutuhkan pelatihan baik pendidikan akademik maupun profesi. Kemudian, tanggung jawab sosial profesi guru harus didorong pula.

“Guru ini sudah harus mulai ditanamkan tanggung jawab sebagai seorang pendidik. Bahwa, dia akan menentukan generasi masa depan Indonesia agar dia menjalankan pekerjaannya sebagai sebuah panggilan,” kata Mendikbud.

Ketiga, dalam organisasi profesi guru harus ada hubungan kolegialitas atau kesejawat­an lebih kuat dan kode etik profesi. Sejauh ini walaupun sudah ada organisasi guru seperti Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), masih perlu ada asosiasi profesi yang me­rancang kode etik baru bagi para guru.

Hal itu merujuk organisasi profesi lain, seperti dokter, advokat, dan tentara yang sudah memiliki kode etik profesi. “Jadi bukan pemerintah yang buat. Harus organisasi profesi,” pungkasnya.

 

Bentuk karakter
Dalam kesempatan sama, Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO Prof Arief Rachman optimistis persepsi dan penghormatan publik terhadap profesi guru semakin tinggi dengan adanya kesungguhan dari pemerintah untuk meningkatkan kapasitas guru.

Meski ada tantangan seperti pendapatan yang tidak seberapa, tuntutan masyarakat terhadap guru untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman sangat besar.

Dia menganggap profesi guru sangat berperan dalam tercapainya proses pendidikan yang memberi kesempatan bagi anak-anak dalam mengembangkan potensi spiritual, mewujudkan anak tidak takut berkomunikasi, tidak takut berdiskusi, mendalami ilmu pengetahuan, serta tekun untuk terus mencari tahu.

“Guru-guru di Indonesia baru 35% yang seperti itu karena banyak guru yang jumlahnya lebih dari 50% bukan untuk mendidik, melainkan lebih pada mengajar. Perbedaannya kalau mendidik itu mengubah karakter anak juga, kalau meng­ajar hanya mentransfer ilmu pengetahuan,” paparnya.

Arief menjelaskan guru bertanggung jawab dalam membentuk karakter anak didik, bukan hanya mencerdaskan. Dari hasil temuan yang dilakukannya bersama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menunjukkan pejabat-pejabat pandai secara akademik, tetapi moralnya kurang baik.

“Karena itu, profesional dalam pekerjaan apa pun harus diimbangi moral yang kuat. Para guru muda diharapkan bisa membawa perubahan itu,” ujar Arief.

 

Makin diminati
Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan Supriano menyampaikan tata kelola guru harus diperbaiki seperti soal distribusi guru serta peningkatan kualitas guru. Meskipun rasio guru saat ini cukup ideal, yakni 1 guru mengampu 17 murid, sebarannya belum merata. “Antara guru baru dan guru pensiun jumlahnya tidak seimbang,” ungkap Supriano.

Dia menjabarkan dalam periode 2007-2014, perekrut­an guru total mencapai 142 ribu, sedangkan jumlah guru pensiun sebanyak 287 ribu. Jumlah total guru di Indonesia saat ini sebanyak 3,14 juta yang terdiri dari tenaga honorer dan pegawai negeri sipil (PNS).

Dari jumlah itu, 2,1 juta guru mengajar di sekolah negeri, selebihnya mengajar di sekolah swasta, serta sebanyak 735.875 guru honorer. Selain itu, sekarang ini ada sekitar 104 ribu guru PNS yang mengajar di sekolah swasta harus ditarik karena terbitnya aturan baru Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan-Rebiro).

Supriano menyampaikan saat ini sudah banyak ge­nerasi muda yang ingin jadi guru. Jumlah mahasiswa aktif dari Lembaga Pendidikan dan Te­naga Kependidikan (LPTK) saat ini mencapai 1,3 juta. Tiap tahun diprediksi ada 400 ribu lebih lulusan LPTK yang akan menjadi guru.

Untuk itu, ia berharap para generasi muda tertarik mengambil profesi guru. Terbukti, ketika pendaftaran Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) 2018, untuk formasi guru, ada hampir 30% yang berusia 20-26 tahun dari total 99 ribu formasi yang dibuka pemerintah. (Ind/S5-25)

BERITA TERKAIT