18 October 2019, 06:41 WIB

Turki Sepakat Hentikan Gempuran di Suriah


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

AFP/Shaun TANDON/POOL
 AFP/Shaun TANDON/POOL
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (tengah-kiri) bertemu dengan Wakil Presiden AS Mike Pence di Ankara.

TURKI telah setuju menangguhkan ofensif militer di Suriah selama lima hari dan akan mengakhiri serangan jika pasukan pimpinan Kurdi menarik diri dari zona aman di sepanjang perbatasan.

Hal itu disampaikan Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) Mike Pence dan pejabat Turki, Kamis (17/10) waktu setempat.

Perjanjian gencatan senjata selama 120 jam itu dielu-elukan Presiden AS Donald Trump sebagai 'hari penting' bagi Turki dan penduduk Kurdi.

Pasukan Kurdi harus mundur dari daerah seluas 32 kilometer yang diharapkan pada akhirnya akan menjadi 'zona aman' yang telah diperjuangkan Turki selama berbulan-bulan, sebagai bagian dari kesepakatan dengan AS.

Kepala Tentara Demokratik Suriah (SDF) Mazlum Abdi mengatakan mereka siap mematuhi gencatan senjata yang mencakup wilayah dari Ras al-Ain hingga Tal Abyad.

Baca juga: Warga Kurdi Mengungsi ke Irak

Perkembangan itu disambut masyarakat internasional setelah Turki, sehari sebelumnya, bersumpah melanjutkan operasi lintas perbatasan, yang dipicu penarikan pasukan AS dari Suriah utara.

Setelah pertemuan dengan Presiden Recep Tayyip Erdogan, Pence mengatakan kepada wartawan di Ankara bahwa operasi Turki akan dihentikan sepenuhnya pada saat penarikan seluruh pasukan Kurdi dan setelah itu AS akan menghapus sanksi yang baru-baru ini dikenakan kepada Turki.

"Komitmen kami dengan Turki adalah kami akan bekerja dengan anggota YPG dan (SDF) untuk memfasilitasi penarikan secara teratur dalam 120 jam ke depan," kata Pence. "Itu sudah dimulai."

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu bersikeras kepada wartawan di Ankara bahwa Turki menunda operasi, tidak menghentikannya.

"Ini bukan gencatan senjata. Gencatan senjata hanya dapat terjadi antara kedua pihak yang sah," kata Cavusoglu.

Pertemuan Erdogan-Pence berlangsung sekitar satu jam dan 20 menit, lebih lama dari yang diperkirakan menurut seorang pejabat AS.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo dan pejabat lainnya kemudian ikut dalam pembicaraan lebih lanjut.

"Kesepakatan ini adalah hari besar untuk peradaban," ujar Trump di Fort Worth, Texas, tempat dia akan mengadakan kampanye pencalonan kembali.

"Saya ingin berterima kasih kepada Kurdi, karena mereka sangat senang dengan solusi ini," kata Trump. "Ini adalah solusi yang benar-benar menyelamatkan hidup mereka, terus terang."

Trump juga memuji Erdogan sebagai 'teman saya', menambahkan, "Dia adalah pemimpin yang luar biasa."

Ankara menganggap militan Kurdi Suriah, YPG, yang merupakan bagian terbesar SDF, sebagai perpanjangan dari Partai Pekerja Kurdistan (PKK) yang terlarang. Kolompok ini telah melancarkan pemberontakan berdarah di Turki selama 35 tahun.

Operasi militer pemerintah Turki di Suriah utara mendapatkan dukungan luas dari rakyat di dalam negeri.

Kelompok pemantau perang yang berbasis di Inggris, Syrian Observatory for Human Rights, mengatakan tentara Turki dan proksi pemberontak Suriah mereka berhasil menguasai medan di Ras al-Ain, kota perbatasan utama tempat para pejuang Kurdi melakukan perlawanan keras. (AFP/OL-2)

BERITA TERKAIT