18 October 2019, 07:40 WIB

Dulu Ada Qlue, Kini Ada CRM cuma Minim Sosialisasi


(Sri utami/J-3) | Megapolitan

 http://smartcity.jakarta.go.id
  http://smartcity.jakarta.go.id
Aplikasi Pengaduan masyarakat

HANDOKO, 38, menarik napas panjang saat menerima pesan singkat dari telepon genggamnya. Kopi yang baru diminumnya setengah dibiarkan dingin. Wajah bundarnya menyiratkan kekecewaan setelah berulang kali melihat beberapa pesan singkat yang diterimanya. Ia sedang menanti kabar baik tentang proses agar dapat tinggal di rumah susun.

"Saya sudah mencoba menghubungi beberapa teman yang saya pikir mereka tahu bagaimana proses biar bisa dapat rumah susun, tapi gak ada yang tahu," sendunya, kemarin.

Ayah dua putra ini memang telah lama menginginkan tinggal di rumah susun. Harga tanah dan properti di Jakarta hampir bisa dipastikan membuat keluarga kelas menengah ke bawah seperti Handoko sulit mendapatkannya. Dia pun bingung harus mencari informasi itu ke mana. "Sekarang kan tidak ada lagi pengaduan langsung ke Gubernur seperti masa Ahok. Kalau masih ada, saya pasti ngadu ke sana," tegasnya.

Kebingungan Handoko yang bekerja sebagai kurir ini juga dirasakan Suryati. Wanita berusia hampir 72 tahun itu bingung memikirkan biaya permakaman yang mahal.

"Kita semua pasti meninggal, ya. Meninggal di sini mahal, apalagi bagi janda seperti saya. Anak- anak saya juga bukan orang yang berpenghasilan tinggi," keluhnya.

Terkait keresahan ini, Kepala Jakarta Smart City Yudhistira Nugraha mengatakan, saat ini ada pengaduan serupa Qlue. Eksis sejak 2017. Pada era gubernur sebelumnya pemerintah DKI Jakarta memang membuat aplikasi pengaduan cepat tanggap (Qlue) dan pengaduan langsung kepada gubernur, tetapi sistem pengaduan saat ini telah diperbaiki.

"Untuk aplikasi pengaduan kami sudah ada 13 kanal pengaduan masyarakat dari sisi masyarakat. Dari sisi pejabat yang menangani aduan itu, kami punya aplikasi CRM untuk mem-follow up laporan itu," ujarnya.

Cepat Respons Masyarakat (CRM) ini ialah aplikasi yang dibuat di era Gubernur Anies Baswedan untuk menerima berbagai pengaduan masyarakat. Aplikasi itu langsung terhubung dengan berbagai dinas yang akan menindaklanjuti keluhan yang disampaikan. "Dengan CRM, seluruh laporan itu akan dikoordinasikan untuk diselesaikan oleh dinas terkait. Itu juga bisa dipantau secara real time oleh para pelapor," pamer Nugraha, kemarin.

Menurutnya, jumlah masyarakat yang melaporkan keluhan cukup banyak. Bahkan mengalahkan jumlah keluhan dari aplikasi Qlue yang sudah ada sejak 2016. "Ada kanal seperti Qlue. Jumlah laporannya banyak, tetapi penggunanya aktif tidak sebanding dengan jumlah laporan yang dihasilkan," imbuhnya.

CRM merupakan peningkatan fungsi Qlue yang memungkinkan lurah setempat melimpahkan pengaduan masyarakat kepada pihak terkait jika pengaduan itu tak masuk lagi dalam tupoksinya. Qlue hanya salah satu sumber masukan laporan terkait layanan publik. Melalui CRM laporan melalui PTSP (Pelayanan Terpadu Satu Pintu), Twitter, Facebook, dan dari situs lapor.id dapat ditampung. (Sri utami/J-3)

BERITA TERKAIT