18 October 2019, 03:40 WIB

Disengaja, Titik Api di Merauke


MI | Humaniora

ANTARA
 ANTARA
Kebakaran lahan di Merauke

KEPALA Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Agus Wibowo mengungkapkan masyarakat yang masih memegang teguh tradisi membakar lahan menjadi salah satu penyebab timbulnya titik api di 23 Distrik di Merauke.

"Tujuannya beragam, ada yang untuk membuka lahan, mencari ikan gastor, dan merangsang pertumbuhan rumput pascakebakaran sebagai makanan utama rusa yang merupakan hewan buruan masyarakat sekitar," jelas Agus melalui siaran pers di Jakarta, kemarin.

BNPB menerima laporan terdeteksi 23 titik api terdeteksi di 11 Distrik di Kabupaten Merauke, Papua, pada Rabu (16/10). Wilayah yang terdeteksi di antaranya Distrik Animha, Ilwayab, Kurik, Malind, Tabonji, Naukenjera, dan Merauke.

Upaya pemadaman, ujar Agus, dilakukan pihak berwenang menggunakan alat manual dengan bantuan masyarakat. Sosialisasi tentang bahaya kebakaran hutan dan larangan membuka lahan dengan cara membakar hutan juga telah dilakukan bersama unsur TNI/Polri dan pemerintah daerah setempat. Kendati demikian, imbuhnya, masyarakat tetap melakukan pembakaran. "Karena kepercayan mereka seperti itu," tukasnya.

Sementara itu, lanjut Agus, masih terdeteksi asap yang cukup tebal di Jambi dan Sumatra Selatan, dan kebakaran hutan lahan relatif berkurang di Kalimantan, bahkan tidak terdeteksi asap di seluruh Kalimantan.

Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memperlihatkan lahan terbakar di Papua periode Januari-Agustus 2019 seluas 6.144 hektare. Dari jumlah itu lebih dari 1.642 hektare kebakaran terjadi di lahan mineral dan 1 hektare terjadi di lahan gambut.

Secara keseluruhan, jumlah titik panas di Indonesia meningkat sifnifikan jika dibandingkan dengan tahun lalu. Dari data KLHK terlihat titik panas pada 1 Januari-13 Oktober 2019 berdasarkan pantauan Satelit NOAA sebanyak 7.810 titik. Adapun pada periode yang sama tahun 2018 terdeteksi sebanyak 4.362 titik.

"Terdapat kenaikan jumlah hotspot sebanyak 3.448 titik atau 79,05 %," ujar Kepala Biro Hubungan Masyarakat KLHK Djati Witjaksono. (Ind/H-3)

BERITA TERKAIT