18 October 2019, 00:40 WIB

Abdullah Azwar Anas Wujudkan Kampung Pintar IT


Indriyani Astuti | Hiburan

ANTARA
 ANTARA
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas

BUPATI Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, 46, bermimpi agar kampung-kampung di wilayah yang dipimpinnya tidak tertinggal dalam memanfaatkan sistem informasi dan teknologi (information and technology/IT). Ia pun melihat peluang tersebut dengan memanfaatkan dana desa untuk belanja IT.

Diakuinya, tidak mudah merealisasikan mimpi itu. Meski demikian, ia meyakini tidak ada yang mustahil.

"Sekarang sudah ada 189 desa dipasang fiber optik untuk akses internet di Banyuwangi," ujarnya di sela-sela seminar Mimpi Tokoh Muda untuk Indonesia 2045 di Jakarta, Rabu (16/10).

Ia menuturkan, upaya mewujudkan Kampung Pintar IT membutuhkan perjuangan dari semua pihak, dari Presiden hingga kepala desa. "Presiden Jokowi memberikan ruang yang luas dari dana desa. Triliunan akan ditransfer ke daerah untuk dana desa. Pemanfaatan dana desa untuk belanja internet," tutur Anas, panggilan akrabnya.

Sebagai bupati, ia pun memberikan 14 kewenangan untuk diserahkan kepada camat. Ada 14 item dana desa dalam anggaran pendapatan dan belanja desa (APB-Des) yang di dalamnya harus memuat belanja wifi, IT, dan kabel optik.

Anas yang telah memimpin dua periode sejak 2010 itu menegaskan, camat tidak bisa mengesahkan rancangan anggaran APB-Des jika kepala desa tidak memasukkan komponen tersebut. Ia juga menekankan tidak peduli kepala desa bisa atau tidak mengoperasikan IT sebab tugas itu bisa didelegasikan ke petugas khusus.

Menurutnya, butuh waktu bertahun-tahun agar kepala desa bisa mahir menggunakan IT sebab latar belakang pendidikan mereka berbeda-beda. Ada kepala desa yang mantan koordinator sabung ayam, mantan kernet, tetapi mereka dipilih secara demokratis.

"Kepala desa tidak bisa mengoperasikan tidak masalah, yang penting ada dua petugas yang bisa mengoperasikan itu. Kepala desa bisa menggaji dua tenaga IT dari lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) jurusan IT," imbuh laki-laki kelahiran Banyuwangi, 6 Agustus 1973 itu.

Mimpi menjadikan desa pintar IT, kata Anas, bisa terwujud kalau ada kemauan politik yang memberikan ruang bagi pelayanan itu ke masyarakat. Seperti kini yang sudah dilakukan desa-desa di Banyuwangi yang secara geografis terletak di lereng pegunungan Raung dan Ijen.

Meski wilayahnya di pegunungan, pelayanan desa sudah berbasis IT. Seperti dalam pembuatan KTP penduduk untuk administrasi pelayanan publik, warga tinggal memasukkan nomor induk penduduk (NIK). Inovasi itu juga yang membawa daerah yang dipimpinnya masuk smart network (jaringan pintar) ASEAN. "Desa yang maju akan menjadi modal bagi Indonesia yang akan datang," ucap alumnus FISIP Universitas Indonesia itu.


Manfaatkan startup

Pemanfaatan teknologi juga dilakukan bekerja sama dengan perusahaan startup berbasis IT seperti Gojek sebagai penyedia layanan aplikasi ojek daring. Di saat banyak kabupaten/kota menolak kehadiran perusahaan tersebut, Banyuwangi justru melibatkan para pengendara ojek daring untuk mengantarkan makanan dan obat-obatan bagi warga miskin sebagai program sosial Pemkab Banyuwangi.

Anas menjelaskan ada orang miskin yang tidak tersentuh anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) sehingga tidak masuk program pelindungan sosial. Ia mencontohkan warga miskin lansia sebatang kara yang tidak punya hunian tidak bisa didaftarkan masuk program sosial. "Keluar dari data kemiskinan, Banyuwangi mengambil solusi tidak boleh ada orang kelaparan," paparnya.

Namun, diakuinya, pemkab tidak bisa mengantarkan makanan karena minim armada. Oleh karena itu, Anas memutuskan untuk melibatkan pengendara ojek daring. "Kami minta CEO Gojek Nadiem Makarim menyediakan aplikasi sosial orang miskin antre obat dan orang miskin kelaparan. Ia setuju," cetusnya.

Dengan melibatkan pengendara ojek daring, kata Anas, Pemkab Banyuwangi mengantar makanan ke 3.017 warga lansia miskin setiap hari, yang anggarannya diambil dari APBD, uang sumbangan rakyat, dan Badan Amal Zakat Nasional (Baznas). (H-2)

BERITA TERKAIT