17 October 2019, 18:56 WIB

Surat Trump Berisi Kemarahan, Umpatan, dan Tekanan


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

AFP/Shaun Tandon
 AFP/Shaun Tandon
Menlu AS Mike Pompeo (kedua darii kiri) mendarat di Ankara, Turki, Kamis (17/10) untuk membahas gencatan senjata di Suriah. 

TERTANGGAL 9 Oktober 2019, sepucuk surat itu diawali dengan ajakan persuasif kepada Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

"Mari kita menyusun kesepakatan yang bagus," kata Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, dalam korespondensi kepada rekan sejabatnya dari Turki, Recep Tayyip Erdogan.

Lepas persuasi, pemimpin negara adidaya itu melontarkan gertakan dan ancaman langsung.

 "Anda tidak ingin dikenang sebagai pembantai ribuan orang dan saya tidak ingin bertanggung jawab sebagai penghancur ekonomi Turki--saya akan lakukan," ucap Trump.

Politikus Republik tanpa latar belakang politik dan birokrasi itu tampak mencoba lagi untuk memengaruhi jalan pikiran lawan korespondensinya.

"Sejarah akan memandang Anda dengan baik jika Anda melakukan ini dengan cara yang benar dan manusiawi," lanjut Trump. "(Namun) Sejarah akan memandangmu selamanya sebagai iblis jika hal-hal baik tidak terjadi."

"Jangan menjadi pria yang keras. Jangan bodoh!" Trump menandaskan, sembari menambahkan, "Saya akan menghubungi Anda nanti."

Ternyata surat Trump menuai beragam respons di lini massa. Ada yang mencemooh gaya surat-meyuratnya.

Yang lain mempertanyakan apakah surat itu asli. Ada yang menyebutnya sebagai memalukan dan lelucon. Lebih jauh, sebagian orang memparodikan surat itu.

"Ini gila," kicau Justin Amash, seorang pengacara dan politikus Partai Republik AS, dengan mengunggah surat Trump di akunnya.

Cuitan Amash direspons pengguna lain, Hutton. "Gila bahkan tidak bisa mencakupnya. Saya tidak berpikir ada kata-kata yang tersisa untuk menggambarkan kegilaan total ini. Anda pasti tidak akan menulis film separah ini. Dia (Trump) memalukan dalam setiap arti kata," damprat Hatton.

Lainnya, Malfoy of Vengerberg lewat akun @SlythSeeker juga membalas Amash. "Apakah ini cara presiden berbicara dengan para pemimpin dunia lainnya? Apa-apaan ini? Saya tidak bisa memahaminya. Saya tidak percaya kita membiarkan Trump mengelola negara kita! Ini memang gila."

Sementara johnny-o-lantern (@jombnee) berkelakar dengan nada sindiran, "Saya tidak tahu kita memiliki presiden berusia 9 tahun." Pengguna Twitter juga ada yang menyarankan sebaiknya Trump mengirim surat dengan kata-kata pembuka "Apakah kamu menyukai saya? Pilihannya ya, tidak, atau barang kali."

"Apakah ini nyata? Isinya seperti sesuatu yang akan ditulis putra remaja saya. Serius," kata pemilik akun @armedrn.

Anggota Kongres Demokrat, Mike Quigley, ikut bersuara, mengatakan kepada CNN, "Saya benar-benar berpikir itu adalah lelucon, lelucon, itu tidak mungkin berasal dari Oval Office." "Kedengarannya seluruh dunia seperti presiden Amerika Serikat, dalam semacam penyimpangan sesaat, hanya mendikte dengan marah apa pun yang ada di kepalanya."

Rilis surat itu dilakukan menyusul pemungutan suara DPR yang luar biasa yang hasilnya mengutuk keputusan Trump menarik pasukan AS dari Suriah.

"Hari ini di DPR, kami memilih 354-60 untuk mengutuk tindakan Trump sehubungan dengan Suriah," kata anggota Kongres Demokrat Mike Levin di Twitter. "Juga, surat (Trump) ini memalukan bagi jabatan."

Surat Trump dibuang ke sampah

Sebaliknya surat Trump mendapat tanggapan dari pejabat Turkit. Kantor berita Al-Jazeera melaporkan respons pejabat Turki yang tidak mau disebut namanya.

"Kami baru saja membuang surat (dari Trump) ke sampah," kata salah seorang pejabat Turki.   

"Surat itu bertanggal 9 Oktober (2019), pada hari yang sama kami memulai Operasi Musim Semi Damai. Presiden kami memberi tanggapan dengan melakuka operasi serangan pada hari yang sama pada pukul 04.00 sore," kata seorang pejabat Turki kepada kantor berita Middle East Eye (MEE). 

Sehari sebelumnya bocoran kabat mengungkapkan Wakil Presiden AS Mike Pence akan mendarat di Ankara. Dia berencana meminta gencatan senjata Turki terhadap pasukan SDF (Pasukan Demokratik Suriah) yang dipimpin pasukan Kurdi.   

Mantan Perdana Menteri Turki Ahmet Davutoglu mengatak semua pertemuan dengan pejabat AS harus ditunda. "Negara dan bangsa Turki diserang," cuit  Davutoglu  dalam Twitter-nya. (The Guardian/Hym/OL-09)

BERITA TERKAIT