17 October 2019, 19:05 WIB

Jelang Kongres, PSSI Diwarnai Sejumlah Masalah


Rahmatul Fajri | Sepak Bola

ANTARA/Aprillio Akbar
 ANTARA/Aprillio Akbar
Anggota Komite Pemilihan (KP) PSSI Budiman Dalimunthe (tengah) memberikan keterangan pers terkait Kongres PSSI.

HANYA dua pekan menjelang kongres, sejumlah masalah mendera Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Salah satu persoalan yang mengemuka adalah soal keputusan PSSI yang mempercepat kongres yang semula akan diselenggarakan pada 25 Januari 2020 itu.

Pengamat sepak bola Akmal Marhali mengatakan PSSI telah mengabaikan rekomendasi FIFA soal jadwal kongres PSSI dengan memajukannya ke 2 November 2019.  Menurut Akmal hal itu akan menimbulkan kegaduhan baru, khususnya dalam hal penetapan voters.

Baca juga: PSSI Siap Terima Kemungkinan Sanksi dari FIFA

Ia mengatakan dengan digelarnya kongres pada 2 November, PSSI akan menggunakan delegasi (voters) hasil kompetisi 2018. Hal itu menepikan hasil kompetisi 2019 yang baru akan berakhir pada Desember mendatang.

“Jika Kongres PSSI tetap dilaksanakan pada 2 November 2019, tidak hanya menepikan delegasi (voters) sejati hasil kompetisi 2019. Namun juga sebuah kesalahan moral dan integritas organisasi. PSSI membiarkan kelahiran kepengurusan baru yang cacat,” kata Akmal, melalui keterangan tertulisnya, Kamis (17/10).

Menurut rencana  kongres PSSI akan digelar pada 2 November di Shangri-La Hotel, Jakarta. PSSI dijadwalkan akan melangsungkan kongres untuk memilih ketua umum, wakil ketua umum, dan komite eksekutif PSSI periode 2019-2023.

Padahal dalam Statuta PSSI Pasal 23 tentang Delegasi dan Hak Suara, dinyatakan bahwa kongres diikuti oleh 88 peserta. Di antaranya, 18 delegasi sebagai perwakilan klub-klub peserta Liga 1 dari musim terdahulu, sebelum kongres dilaksanakan. Serta 16 delegasi sebagai perwakilan klub-klub peserta Liga 2 dari musim terdahulu, sebelum kongres dilaksanakan.

Menanggapi hal demikian, Sekjen PSSI Ratu Tisha mengatakan pihaknya tidak mengabaikan rekomendasi FIFA dengan memajukan jadwal kongres. Penentuan jadwal kongres itu, kata Tisha, merupakan wewenang PSSI dan FIFA tak masalah dengan keputusan itu.

"Kami komunikasi secara intens dengan FIFA. Secara prinsip FIFA tidak masalah karena ini yurisdiksi PSSI," kata Tisha.

Sementara itu, salah satu voters Kongres PSSI, Chief Executive Officer (CEO) PSIS Semarang, Yoyok Sukawi mengatakan pihaknya telah mendapatkan undangan untuk menghadiri kongres pada 2 November 2019 mendatang.  "Sudah dari bulan lalu," katanya.

Yoyok enggan komentar perihal dipercepatnya kongres tersebut. Namun, yang terpenting, kata ia, keputusan soal dipercepat itu telah diumumkan saat Kongres Luar Biasa (KLB) 27 Juli lalu di Ancol, Jakarta dan semua voters mendengar soal dipercepatnya kongres itu.

Saat itu, Plt Ketum PSSI Iwan Budianto memutuskan mempercepat untuk mempercepat kongres yang semula 25 Januari 2020. Ia mengatakan pihaknya akan menyampaikan perubahan dalam bentuk surat kepada AFC dan FIFA.

FIFA kemudian merespon dengan merekomendasikan PSSI tetap pada peta jalan yang sudah disepakati dan menunda pemilihan sesuai dengan rencana yaitu di bulan Januari 2020 kecuali ada alasan valid terkait hal itu.

Namun, Iwan Budianto saat itu mengatakan FIFA dan AFC tidak berada dalam posisi memberikan izin atau tidak kepada PSSI. Makanya, ia memberi notifikasi untuk mempercepat digelarnya kongres.

"Maka kalau dipercepat menjadi 2 November maka kami akan merumuskan tahapannya dan kami masih akan bersurat kepada FIFA. Karena FIFA dan AFC tidak dalam posisi mengizinkan dan tidak mengizinkan. Jadi kami memang harus notifikasi kepada mereka" ujarnya. (Faj/A-3)

BERITA TERKAIT