17 October 2019, 19:05 WIB

Gundala dan Wacana Heroisme Urban


Fathurrozak | Weekend

dok.imdb
 dok.imdb
Gundala

DIANGKATNYA Gundala, komik karya Hasmi ke layar lebar menarik perhatian masyarakat. Melalui jagat sinema Bumilangkit, setelah Gundala beberapa karakter komik lainnya akan difilmkan.

Diangkatnya komik menjadi film dinilai Seno Gumira Ajidarma sebagai karya visual dan budaya khas kota. Ia mengutip buku bertajuk Comics and The City yang ditulis Arno Meteling, menyebut bahwa komik ditempatkan sebagai jendela untuk melihat kota.

"Lahir dari komik strip, yang hanya muncul ketika saat itu ada persaingan 100 tahun lebih yang lalu, antara Pulitzer dan Hearts. Mereka  menggunakan komik strip supaya masing-masing laku. Maka dipakai komik strip yang paling mudah dibaca masyarakat yang kebanyakan saat itu merupakan imigran. Dengan bahasa pas-pasan, dan koran juga mengacu pada imigran, tokoh yang ada di komik stripnya pun belum bisa bahasa Inggris secara utuh. Ini dengan sendirinya para penggambar komik mengacu lingkungan untuk gambar tokoh sampai fisik, melihat kota dia sendiri," terang Seno dalam diskusi Jakarta Center for Cultural Studies (JCCS) bertajuk Gundala di Tengah Kota: Antara Urbanisme dan Heroisme, di Atelir Ceremai, Rawamangun, Jakarta Timur, Rabu (16/10).

Penulis buku biografi pencipta karakter Gundala Harya Suraminata (Hasmi), Henry Ismono menyebutkan sebelum Gundala dipublikasikan, Hasmi telah lebih dulu membuat karakter Aquanus, yang merupakan pesanan dari salah satu penerbit di Bandung. Namun, saat itu Hasmi merasa belum puas.

"Ketika tumbuh tren superhero dan Hasmi berpikir bagaimana untuk membuat karya sendiri. Hasmi mulai membuat Gundala, yang terinspirasi dari The Flash. Hasmi mencoba membuat Gundala dengan spirit lokal. Bahwa ia punya kekuatan petir yang terinspirasi dari kisah Ki Ageng Selo, dan tokoh Sancaka yang berasal dari pewayangan. Gundala juga ditempatkan dalam latar Yogyakarta. Lokasi perjalanannya ada salah satunya di Parangtritis, dan mengejar musuh ke pertunjukkan wayang wong," ujar Henry.

Seri Gundala yang berjalan pada medio 1969 hingga era 80-an menurut Henry ialah periodesasi yang kedua. Sebab tahun 1954 pernah muncul komik dengan napas hero. Namun, saat itu karena dianggap kebarat-baratan, komik superhero menjadi tenggelam hingga tahun 1960-an. Muncul kembali setelahnya.

Seno pun melihat Gundala yang difilmkan Joko Anwar sebagai jendela melihat kota. Pasalnya versi Hasmi dan Joko Anwar berbeda.

"Pertama masalah kelas, itu hanya ada di kota, bukan Yogyakarta. Saya enggak peduli apakah persis sama dengan komiknya, melihatnya menarik. Justru ini memunculkan wacana. Film yang berwacana itu yang mencerdaskan. Kalau semua bilang bagus ya jadi tidak bermakna. Kalau jadi perbincangan maka menjadi bermakna," papar rektor IKJ ini yang juga mempertanyakan kekuatan super yang dimiliki Gundala masih terkesan nanggung akibat kendala biaya dan teknologi.

Di sempat yang sama, Lily Tjahjandari dari JCCS melihat, film Gundala yang pertama diluncurkan pada masa komik Gundala tengah moncer, sehingga tidak terlalu berdampak pada film. Sedangkan saat difilmkan kembali, penonton sudah banyak yang dengan komiknya, malah terjadi hype.

"Momennya berbeda. Saat film yang pertama, itu ketika momentumnya komik Gundala tengah booming. Sementara yang kedua momen enggak ada, lebih dicari momentumnya."

Lilawati Kurnia mempertanyakan ideologi yang diusung filmmaker terhadap karakter Gundala. Seperti Superman yang mengusung wacana white supermacy.

"Jadi superhero ini yang kritik berkaitan dengan ideologi mainstream. Mereka yang berkuasa. Di Gundala, ideologi mana yang diusung? Ketika dalam film yang digambarkan ialah bukan ilmuwan melainkan buruh, ada ideologi apa yang diusung dari film itu?" Tanya Lilawati.

Gundala versi Joko Anwar memunculkan wacana, sejak tayang hingga kini usai turun layar di bioskop. Beberapa kalangan yang turut membaca versi komik, menganggap tidak ada kelekatan narasi di filmnya. Di samping juga Joko menawarkan karakter yang cukup konkret dan lebih realistis pada konteks saat ini.

"Normal saja. Yang dipikirkan ialah kita ambil pasarnya. Tak lebih tak kurang, ini dagangan dengan hal-hal yang disukai. Ya inilah proses demokratis kita. Berpolitik secara konsisten. Penonton tidak bisa pasif minta terus. Siapa yang menang dalam pertarungan, begitulah kebudayaan. Yang enggak mau kalah ya yang berjuang. Faktor paling penting dalam mendorong kebudayaan ialah ekonomi," papar Seno. (M-3)

Baca juga : Iksaka Banu Kembali Jawarai Kusala Sastra Khatulistiwa

 

BERITA TERKAIT