17 October 2019, 18:13 WIB

Kecanduan Gadget, Belasan Orang Dirawat di RSJ Bogor


Dede Susianti | Humaniora

MI/Dede Susianti
 MI/Dede Susianti
Suasana salah satu ruang pemeriksaan pasien di Rumah Sakit Jiwa Marzoeki Mahdi di Kota Bogor, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.

SEDIKITNYA 13 orang harus menjalani perawatan di Rumah Sakit Marzoeki Mahdi (RSMM), salah satu rumah sakit jiwa (RSJ) rujukan nasional yang berlokasi di Jalan Dr Sumeru, Kota Bogor, Jawa Barat, karena kecanduan gadget.

Menurut Kepala Instalasi Rehabilitasi psikososial di RSMM Lahargo Kembaren, tren pasien RSJ karena pengaruh gawai memang meningkat.

"Ya kalau saya pribadi di tempat praktik, trennya meningkat. Dalam satu bulan ini saya merawat tiga orang pasien yang ketergantungan dirawat inap. Dan yang rawat jalan ada 10 pasien. Bulan sebelumnya lebih banyak," kata Lahargo saat dikonfirmasi Media Indonesia melalui telepon seluler (ponsel), Kamis (17/10).

Dia menjelaskan, untuk kasus ketergantungan gawai, pihaknya melihatnya dari dua audut. Yang pertama, mereka memang sudah punya masalah dengan psikologisnya misalnya depresi dan gangguan lainnya.

"Itu yang membuat mereka mengalihkan perhatiannya kepada gawai. Akhirnya ketergantungan," ujar dia.

Yang kedua, lanjutnya, memang mereka sudah ketergantungan terhadap gawai, internet, atau judi online, sehingga munculnya gangguan kejiwaan yang menyusul ketergantungan.

"Jadi dua-duanya bisa dilihat. Data resmi belum kita rilis belum kita kumpulkan. Belum bisa eksak angkanya. Tapi secara pribadi pernah beberapa kali merawat anak SMA dan kuliah mengalami ketergantungan terhadap gawai, internet, judi online, gim, yang dirawat jalan," ungkapnya.

Dengan kondisi itu, dia meneyebut fenomena orang mengalami gangguan kejiwaan akibat gawai di Kota Bogor, cukup besar.

"Ya benar dan semakin meningkat. Dan itu menimbulkan dampak efek yang banyak. Penggunaan medsos itu ada efek- efek lain secara fsikologis terganggu," terangnya.

Dia mencontohkan dampaknya adalah adanya gangguan yang disebut nomopobhia/nomo mobile phone phobia. Di mana mereka menjadi cemas dan gelisah jika jauh dari gawai.

Kemudian juga fenomena lain yang disebut eksistensi diri. Terganggu cyber bullying.

"Banyak kasus anak-anak itu, misalnya artis Korea si Sully yang bunuh diri karena ada cyber bulying. Pengguna gawai, IG, FB. Jadi dampak lanjutan dari adiksi gadget internet ini cukup banyak yang perlu kita perhatikan,"terangnya.

Lebih jauh dia menjelaskan tentang apa itu adiksi gadget, gim, dan judi online. Adiksi gawai, katanya, adalah suatu bentuk ganguan kejiwaan.

Kenapa disebut gangguan kejiwaan, itu karena dia memberikan suatu perubahan pada pikiran, perubahan sikap dan prilaku.

"Pikirannya dia inginnya main gawai terus. Banyak menyendiri tidak mau bersosialisasi, tidak mau sekolah. Perasaannya gampang marah, sensitif, minta uang yang berlebihan, menggunakan uang berlebihan. Itu semua memberikan dampak pada fungsi kehidupan sehari-hari pada orang yang mengalaminya. Kita sudah bisa menyebut orang itu mengalami gangguan kejiwaan," paparnya.

Dia menjelaskan lagi yang disebut sebagai ketergantungan, apapun itu, baik ketergantungan narkoba, gudget, judi online itu adalah suatu gangguan yang melibatkan fungsi otak. Dan itu adalah suatu hal yang serius.

"Jadi otaknya terganggu pada mereka yang sudah ketergantungan. Di dalam kotak itu ada zat kimia yang kita sebut neorotransmiter itu sudah terganggu kesimbangannya pada mereka yang terganggu mengalami ketergablntungan ini," ungkapnya.

Baca juga: Dua Remaja Gangguan Jiwa Akibat Ketergantungan Game Online

Karena otak itu adalah pusat dari tubuh kita yang mengatur dari segala sikap dan perilaku, pikiran, perasaan, maka otomatis dalam kehidupan sehari- hari pun menjadi terganggu.

Bahkan lanjutnya, beberapa contoh sudah ada yang melakukan prilaku berbahaya. Mereka menyakiti diri sendiri, menyakiti orang lain, menyakiti secara verbal, secara fisik, menghabiskan banyak uang, menjual barang itu semua yang membuat keluarga kemudian memutuskan membawa ke rumah sakit jiwa untuk di lakukan terapi.

Sebelumnya, pihak Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat (Jabar) mengungkap di beberapa tahun terakhir mulai menerima pasien anak penderita orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang diakibatkan oleh penggunaan gawai yang berlebihan. Mirisnya, pasien yang dirawat masih usia dini atau anak yang masih berusia 5 tahun. (X-15)
 

BERITA TERKAIT