15 October 2019, 12:05 WIB

Pernah Kerja di Indonesia, Gadis Rusia Sukses Buat Panduan Wisata


Deri Dahuri | Humaniora

Istimewa/Instagram/Tatiana
 Istimewa/Instagram/Tatiana
Tatiana Gromenkou, gadis Rusia yang pernah kuliah dan tinggal di Indonesia.

TINGGAL dan menetap di negara lain tidak selalu membuat seseorang menjadi canggung dan kaku. Sebagai seorang warga negara asli Rusia, Tatiana Gromenko pernah bekerja dan tinggal di Indonesia dalam kurun waktu yang cukup lama.

Berbeda dengan sebagian ekspatriat lain, Tania, panggilan  akrab Tatiana Gromenko, justru datang ke Indonesia karena mendapat beasiswa pendidikan bahasa Indonesia dari sebuah universitas di Moskow, Rusia.

Berbekal pengetahuannya yang ia peroleh dari kampus tentang keindonesiaan, tidak heran kalau Tania pun dipercaya menjadi reporter untuk sebuah stasiun TV yang menyasar anak muda.  Sebuah profesi yang membutuhkan wawasan luas tentang Indonesia dan jarang dimiliki oleh orang asing yang baru pertama kali datang ke sini.

Selama tinggal di Indonesia, Tania pun banyak mengeksplorasi berbagai daerah seperti Lombok, Bandung, Bali, dan sebagainya. Tidak hanya itu, ia pun mempelajari karakter orang Indonesia, khususnya mereka yang suka berwisata, dalam mengalokasikan anggaran, destinasi, spot-spot yang disukai, hingga demografi mereka.

Ia melihat bahwa kebanyakan anak muda Indonesia lebih sering terbang ke Singapura daripada ke negara-negara tetangga lainnya. Hal tersebut disebabkan beberapa faktor, antara lain kedekatan geografis, efisiensi biaya, aksesibilitas, hingga sarana serta nuansa yang ditawarkan Singapura.

“Singapura adalah negara kecil, jika dibandingkan tetangga-tetangganya. Namun hampir semua yang dimiliki oleh negara-negara lain di Asia dimiliki Singapura. Kita bisa wisata belanja, eksplorasi kuliner, menikmati atraksi-atraksi pertunjukan, melanjutkan pendidikan, nonton konser musik dari musisis ternama dunia, berobat medis dan tentu saja berbisnis,” jelas Tania di Jakarta, Selasa (15/10).

“Belum lagi penduduknya yang ramah-ramah, fasilitas transportasi yang memadai, dan spot wisata lainnya. Jadi tidak heran kalau banyak orang Indonesia yang sering main ke Singapura,” tutur wanita yang pernah menjadi model produk busana dan perhiasan tersebut.

Kepiawaiannya dalam mempelajari perilaku para wisatawan Indonesia berbuah sebuah karya digital. Tania lalu membuat SGB (Singapore Guidebook), sebuah platform digital multi-channel berbahasa Indonesia yang memberikan informasi terintegrasi mengenai Singapura kepada masyarakat Indonesia, mulai dari pusat wisata, berita terbaru, event-event menarik, fasilitas, dan lain-lain melalu website, Instagram, dan Youtube.

“Secara rutin kami juga menerbitkan e-magazine yang bisa diunduh oleh siapapun melalui website kami. Di tahun 2019 ini kami sudah merilis tiga edisi bertema makanan, belanja dan spot-spot menarik untuk Instagram di Singapura,” ungkapnya.

Konten-konten yang dibuat  tim SGB memang disesuaikan dengan kebutuhan para traveler milennial yang memang mayoritas menjadi pembaca dan penikmat seluruh saluran digital SGB. Bahkan penggunaan bahasanya pun bersifat kasual, antikemapanan, mudah dicerna, dengan sajian gambar-gambar yang estetis dan ‘enak dilihat’.

“Saya selalu menekankan kepada tim SGB baik di Singapura maupun Jakarta, bahwa kita harus menempatkan diri dalam posisi sebagai pembaca. Apa yang kita inginkan ketika membaca informasi tentang Singapura? Dan bagaimana kita ingin mata ini tidak lelah ketika membaca website atau majalah digital?” tuturnya.

“Maka dalam memilih talenta-talenta yang bekerja untuk SGB, saya sangat selektif dan berhati-hati. Hasilnya, kami saat ini sudah memiliki lebih dari 40 klien dari perusahaan-perusahaan lokal Singapura serta pembaca aktif ratusan ribu per tahun. Bahkan follower kami di akun media sosial pun sudah menembus di angka 60 ribu, padahal kami baru satu tahun berdiri,” ujarnya bersemangat.

Tania mengatakan, rahasia keberhasilannya dalam mencapai target bisnis dalam waktu relatif singkat adalah fokus pada sumber  daya manusianya. Menurut dia, produk sebagus apapun kalau tim kerjanya tidak memiliki semangat untuk sama-sama mencapai tujuan, maka bisnis akan stagnan.

“Saya sangat percaya bahwa aset terbesar sebuah perusahaan bukanlah produk yang bagus, tapi manusianya, tim kerjanya, karyawannya, dan tentu juga mitra-mitra kerjanya,” tutup wanita yang berasal dari Kota Tver, Rusia ini. (OL-09)

BERITA TERKAIT