17 October 2019, 13:04 WIB

Ini 4 Kontribusi Penting Suku Dayak untuk Ibu Kota Baru


Abdillah Muhammad Marzuqi | Politik dan Hukum

ANTARA FOTO/Sugeng Hendratno
 ANTARA FOTO/Sugeng Hendratno
Seorang perempuan suku Dayak Benuaq meraut rotan yang merupakan hasil ladangnya di Kampung Eheng, Kabupaten Kutai Barat

KETUA Forum Heart of Borneo (HoB) Marko Mahin mengungkap empat kontribusi masyarakat Dayak untuk ibu kota baru. Mahin menyampaikannya saat menjadi narasumber dalam Senimar Nasional; Kebudayaan Dayak dan Kontribusinya terhadap Pemindahan Ibu Kota ke Kalimantan Timur di Gedung Saleh Afiff Kementerian PPN/Bappenas Jakarta, Kamis (17/10).

Mahin menyampaikan presentasi berjudul Perubahan Iklim Dampak Pemanasan Global dan Peran Kalimantan sebagai Paru-Paru Dunia dan peran Suku Bangsa Dayak Menjaga Kelestarian Ekosistem. Ia menyampaikan hutan merupakan hal yang sangat penting bagi masyarakat Dayak. Mereka sangat menghormati hutan. Itu menjadi kontribusi penting pertama bagi ibu kota baru.

"Tidak boleh merusak atau membuat dia (hutan) tidak berfungsi lagi. Itu yang pertama ada wilayah yang berdekatan dan pas dengan ibu kota negara," terang Mahin.

Hutan bisa tetap terjaga karena kearifan lokal suku bangsa Dayak yang sangat menghargai alam. Kearifan lokal itu menjadi modal sosial penting bagi pengembangan wilayah berbasis pada keberlanjutan.

"Yang kedua, kearifan lokal yang dimiliki oleh orang-orang Dayak ini adalah modal sosial untuk mengembangkan wilayah yang sejahtera, hijau dan berkelanjutan," tambahnya.

Baca juga: Pemerintah Serap Gagasan Masyarakat Adat Dayak

Selain itu, suku bangsa Dayak punya karakter patuh hukum. Mereka juga memiliki hukum adat yang dihormati dan ditaati.

"Orang Dayak memiliki hukum adat yang bisa mengatur mereka untuk mengelola alam dengan baik. Dapat dikatakan orang Dayak ini taat hukum, pertama hukum positif negara, kedua hukum agama, ketiga hukum adat," lanjutnya.

"Jadi mereka sangat bisa diajak kerja sama untuk memikirkan ibu kota ini," tegas Peneliti di Universitas Kristen Palangkaraya itu.

Masyarakat Dayak juga punya kemampuan berubah. Mahin mencontohkan 125 tahun lalu, masyarakat Dayak bersama-sama memutuskan untuk mengalami perubahan kebudayaan yang luar biasa.

"Tahun 1894 di Tumbang Anoi bersama-sama kami memutuskan tidak ada lagi pemotongan kepala, tidak ada lagi peperangan, tidak ada lagi perhambaan. Kalau ada perselisihan, diselesaikan secara rapat atau dapat damai atau rapat adat. Semenjak saat itu, kami mengalami perubahan yang luar biasa. Ada loncatan kebudayaan," pungkasnya.(OL-5)

BERITA TERKAIT