17 October 2019, 12:41 WIB

BNPB: Karhutla di Merauke Disebabkan Kesengajaan Manusia


Indriyani Astuti | Humaniora

ANTARA FOTO/Bayu Pratama S
 ANTARA FOTO/Bayu Pratama S
Api membakar hutan dan lahan gambut di jalan Gubernur Syarkawi, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Selasa (15/10/2019).

BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menerima laporan telah terdeteksinya 23 titik api di 11 distrik di Kabupaten Merauke, Papua, Rabu (16/10).

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Agus Wibowo menuturkan data laporan yang diterima BNPB dari Liaison Officer (LO) BNPB Satuan Danrem Merauke, rata-rata kebakaran lahan disebabkan oleh faktor kesengajaan manusia untuk tujuan tertentu. Ia merinci wilayah yang terdeteksi di antaranya 3 titik di Distrik Animha berupa lahan ladang karet, akasia dan vegetasi rawa.

"Masyarakat sengaja membakar untuk membuka lahan akan tetapi upaya pembakaran tersebut dijaga supaya apinya tidak menjalar," ujarnya melalui siaran pers, di Jakarta, Kamis (17/10).

Selain untuk membuka lahan, terang Agus, tujuan dari pembakaran lahan itu juga dilakukan untuk mencari ikan gastor. Dua titik api juga ditemukan di Distrik Ilwayab masing-masing di Kampung Bibikem dan Kampung Padua, Merauke, Papua.

BNPB mengindikasikan kebakaran lahan tersebut disebabkan oleh faktor kesengajaan manusia dengan tujuan untuk merangsang pertumbuhan rumput pascakebakaran sebagai makanan utama rusa dan kanguru sebagai hewan buruan masyarakat sekitar.

"Selain itu pembakaran juga dilakukan sebagai tradisi meminta hujan," ucap Agus.

Baca juga: TNI Pecahkan Rekor MURI Tanam Mangrove dari Sabang-Merauke

Selanjutnya 3 titik api lain berada di Distrik Kurik masing-masing tersebar di Kampung Harapan, Kampung Ivimahad dan Kampung Salor Indah. Agus menjelaskan titik api tersebut terdeteksi dari jerami yang sengaja dibakar masyarakat dengan tujuan untuk membuka kembali lahan pertanian pascapanen.

"Sama halnya dengan Distrik Kurik, titik api yang terdeteksi di 2 lokasi di Distrik Malind masing-masing Kampung Kumbe dan Kampung Rawasari juga terdeteksi dari jerami yang sengaja dibakar masyarakat untuk membuka kembali lahan pertanian pascapanen," tuturnya.

Dua titik api lainnya terdeteksi di Distrik Merauke dan 4 di Distrik Naukenjerai. Kebakaran terjadi di lahan ilalang dan jerami yang diduga sengaja dibakar oleh orang tak dikenal dengan tujuan untuk membersihkan lahan pada musim kemarau dan mencari tikus.

Lebih lanjut, Agus mengatakan 1 titik api terdeteksi juga di Kampung Okaba, Distrik Okaba. Kebakaran itu di rawa kering yang sengaja dibakar untuk mencari ikan. Titik api selanjutnya terdeteksi di jalan Trans-Papua di Distrik Sota dari kebakaran yang berupa ilalang dan semak di kanan-kiri jalan oleh oknum tak dikenal.

"Tujuannya untuk berburu dan tradisi adat," imbuhnya.

Kemudian dua titik api terdeteksi di Kampung Suwam Distrik Tabonji berupa lahan dan ilalang yang menurut BNPB dari laporan, sengaja dibakar untuk merangsang pertumbuhan rumput sebagai makanan utama rusa dan kanguru, hewan buruan masyarakat. Hal serupa juga terjadi di Distrik Tanah Miring dan Distrik Kimaam.

Agus menjelaskan masyarakat di sana masih memegang teguh tradisi berburu dengan cara tersebut selama bertahun-tahun. Untuk mengatasi hal tersebut, pihak-pihak berwenang telah melakukan upaya pemadaman bersama masyarakat menggunakan alat manual.

Selain itu, sosialisasi tentang bahaya kebakaran hutan dan larangan membuka lahan dengan cara membakar hutan juga telah dilakukan bersama unsur TNI/POLRI dan Pemerintah Daerah setempat. Kendati demikian, imbuhnya, masyarakat tetap melakukan pembakaran.

"Karena kepercayan mereka begitu," tukasnya.(OL-5)

BERITA TERKAIT