17 October 2019, 12:40 WIB

Iksaka Banu Kembali Jawarai Kusala Sastra Khatulistiwa


Bagus Pradana | Weekend

Dok. Gramedia
 Dok. Gramedia
Novel karya Iksaka Banu, 'Teh dan Pengkhianat', memenangi Kusala Sastra Khatulistiwa 2019.

NOVEL Sejarah yang berjudul Teh dan Pengkhianat karya Iksaka Banu dinobatkan sebagai pemenang kategori prosa Anugrah Sastra Kusala Sastra Khatulistiwa ke-19, pada rabu (16/10). Sementara untuk kategori puisi berhasil disabet oleh Irma Agryanti dengan kumpulan puisi Anjing Gunung miliknya.

Penghargaan Kusala tahun ini merupakan kali kedua bagi Iksaka. Tahun 2014, penulis berusia 55 tahun itu menang lewat novel Semua untuk Hindia. Sementara untuk Irma merupakan kali pertama. Namun penulis berusia 33 tahun ini juga sudah banyak melahirkan karya dan telah tampil di berbagai festival sastra.

Kusala Sastra tahun ini dibuka dengan sambutan dari Richard Oh, selaku penggagas anugrah sastra yang berdiri sejak 2001 namun berganti nama pada 2014 itu. Dalam pidatonya Richard mengapresiasi beberapa karya sastra yang mulai mendapatkan perhatian dunia sastra Internasional. Banyak buku karya anak bangsa yang diterjemahkan dalam beragam bahasa.

"Berbagai trobosan juga sudah semakin terasa dalam lima tahun terakhir, melihat betapa sekelompok penulis kita mulai diterbitkan di luar negeri dan memperoleh perhatian terpuji dari dunia sastra internasional. Gerbang itu sudah terbuka", terang sastrawan senior yang merintis Kusala Sastra Khatulistiwa bersama Takeshi Ichiki.

Selain pidato pembuka dari Richard Oh, seharusnya perhelatan Kusala Sastra tahun ini juga akan dibuka dengan Orasi Budaya dari Ronny Agustinus selaku ketua Dewan Juri. Namun karena alasan yang tidak disebutkan, pemilik penerbitan Marjin Kiri itu berhalangan hadir. Damhuri Muhammad ditunjuk sebagai representasi Dewan Juri, untuk membacakan Orasi Budaya dari Ronny Agustinus.

"Di dunia dan zaman ketika media sosial memungkinkan segala jenis tulisan terbit dan beredar luas tanpa saringan, tanpa suntingan, dengan kadar kelisanan yang lebih berkuasa keimbang keberaksaraan banyak kalangan merasa pesimistis akan nasib buku-buku sastra di Indonesia", terang Damhuri saat membacakan naskah Orasi Budaya yang ditulis oleh Ronny.

Sebelumnya ada sekitar 60 lebih buku Prosa dan 50an kumpulan puisi yang lolos kurasi dewan juri dalam ajang Kusala Sastra ke 19 ini. Namun dari buku-buku tersebut dewan juri tetap harus memilih delapan karya yang dinominasikan sebagai karya terbaik Anugrah Sastra Kusala Sastra Khatulistiwa tahun 2019 ini, yang terdiri dari empat karya puisi dan empat lainnya karya prosa panjang pilihan Dewan Juri. (M-1)

 

Berikut adalah nominasinya:

Untuk Kategori Prosa:
- Bugiali, Sehimpun Cerpen, karya Arianto Adipurwanto, terbitan Pustaka Jaya.
- Cara Berbahagia Tanpa Kepala, karya Triskaidekaman, terbitan Gramedia Pustaka Utama.
- Teh dan Penghianatan, karya Iksaka Banu, terbitan Kepustakaan Populer Gramedia.
- Tango dan Sadimin, karya Ramayda Akmal, terbitan Gramedia Pustaka Utama.
- Seekor Capung Merah, karya Rilda A.OE. Taneko, terbitan Aura Publishing.

Untuk Kategori Puisi:
- Karena Cinta Kuat Seperti Maut, karya Adimas Immanuel, terbitan Gramedia Pustaka Utama.
- Hari Minggu Ramai Sekali, karya Eko Saputra Poceratu, terbitan Bentara Pradipa Pustaka.
- Struktur Cinta yang Pudar, karya Ibe S. Palogai, terbitan Gramedia Pustaka Utama.
- Anjing Gunung, karya Irma Agryanti, terbitan Basa-Basi.
- Catatan-Catatan dari Bulan, karya Rieke Saraswati, GRamedia Pustaka Utama.

BERITA TERKAIT