17 October 2019, 08:35 WIB

Listrik Hasil ITF Sunter Dibeli PLN


Putri Anisa Yuliani | Megapolitan

MTVN/ M Sholahadhin Azhar/Medcom.id
 MTVN/ M Sholahadhin Azhar/Medcom.id
Kepala DLH DKI Jakarta Andono Warih 

LISTRIK hasil dari fasilitas pengolah-an sampah antara (FPSA) atau intermediate treatment facility (ITF) di Sunter akan dibeli PT Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Hal ini dipastikan dengan penandatanganan perjanjian kerja sama (PKS) Penyelenggaraan ITF Sunter antara Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta dan PT Jakarta Propertindo (Jakpro), serta perjanjian jual beli listrik (PJBL) ITF Sunter antara PT PLN (Persero) dan PT Jakarta Solusi Lestari.

Penandatanganan PKS itu dilakukan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dengan Direktur Utama PT Jakpro, Dwi Wahyu Daryoto.

Kepala DLH DKI Jakarta Andono Warih mengatakan telah terjadi kesepakatan harga pembelian listrik hasil pengolahan sampah di ITF Sunter oleh PLN. Listrik ITF Sunter akan dibeli PLN US$0,1188 per kWh.

Listrik dari ITF Sunter akan terhubung dengan gardu induk milik PLN melalui jaringan transmisi 150kV sepanjang 2,2 kilometer.

Dengan penandatanganan PKS antara Jakpro dan Pemprov DKI, pembangunan ITF Sunter segera dikebut.

Masa pembangunan ITF Sunter direncanakan memakan waktu tiga tahun dan selanjutnya dioperasikan PT Jakarta Solusi Lestari selama 25 tahun dengan skema Build Operate Transfer (BOT). Kemudian aset tersebut akan diserahkan ke Pemprov DKI Jakarta.

PT Jakarta Solusi Lestari adalah perusahaan joint venture antara Jakpro dan perusahaan asal Finlandia Fortum yang berperan sebagai operator ITF Sunter.

"ITF Sunter merupakan Kegiatan Strategis Daerah yang ditetapkan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Fasilitas ini merupakan solusi pengolahan sampah di dalam kota yang teknologi-nya ramah lingkungan dan bertujuan untuk mengurangi beban TPST (tempat pengolahan sampah terpadu) Bantargebang," kata Andono dalam keterangan resminya, kemarin.

ITF Sunter, lanjut Andono, merupakan pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) yang terbesar di Indonesia dengan teknologi yang andal dan sudah terbukti di banyak negara maju.

ITF sendiri merupakan proyek Pemprov DKI sebagai alternatif pengolahan sampah di dalam kota.

"ITF Sunter merupakan wajah baru pengelolaan sampah Ibu Kota. Ini impian Jakarta sejak belasan tahun yang lalu," tutur Andono.

Andono mengungkapkan, ITF Sunter berkapasitas pengolahan sampah sebesar 2.200 ton/hari. Jenis teknologi yang diterapkan ialah waste to energy dengan kapasitas menghasilkan listrik mencapai 35 MWh dan mampu mereduksi 80%-90% dari bobot sampah yang masuk. Adapun sampah yang dihasilkan di Jakarta mencapai 7.500 ton per hari.

Menurut Andono, standar baku mutu emisi gas buang yang digunakan mengacu standar Euro 5 yang lebih baik daripada standar yang ditetapkan pemerintah melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 70 Tahun 2016 tentang Baku Mutu Emisi Usaha dan/atau kegiatan pengolahan sampah secara termal.

Andono menjamin emisi gas buang ITF Sunter tidak berbahaya karena akan dilengkapi teknologi fuel gas treatment yang berfungsi untuk memfilter partikel berbahaya dan menekan gas buang dari hasil pembakaran sampah.

"ITF Sunter bisa mengurangi 80% volume sampah. Tentu kita mengikuti aturan internasional karena didanai dari luar. Intinya, ITF bisa memberikan dampak yang positif kepada warga Jakarta untuk memperoleh kehidupan standar yang baik," kata Direktur Pengembangan Bisnis Jakpro, M Hanief Arie Setianto. (Put/J-2)

BERITA TERKAIT