17 October 2019, 08:10 WIB

Mendagri Minta Kesbangpol Pantau WNI dari Suriah


Cahya Mulyana | Politik dan Hukum

MI/BARY FATHAHILAH
 MI/BARY FATHAHILAH
Menteri Dalam Negeri Tjahyo Kumolo.

MENTERI Dalam Negeri Tjahjo Kumolo meminta Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) meningkatkan pengawasan terhadap ideologi yang bertentangan dengan Pancasila di seluruh lingkungan kerja tingkat nasional maupun daerah.

Tjahjo juga mengingatkan Kesbangpol di setiap daerah untuk memonitor WNI yang pulang dari Suriah. Dia meminta jajaran Kesbangpol memperhatikan aktivitas sehari-sehari, serta bekerja sama dengan para tokoh agama setempat.

"Mencermati gelagat perkembangan tantangan yang paling berat ialah radikalisme dan terorisme. Cukup merisaukan dan mengkhawatirkan kita karena ini ancaman setelah 74 tahun kita merdeka. Musuh utama kita ialah radikalisme dan terorisme ini harus kita lawan, Kesbangpol tolong cermati dan monitor hal ini," ujarnya pada Rapat Koordinasi Nasional bertajuk Simpul Strategis Pembumian Pancasila di Jakarta, kemarin.

Menurutnya Kesbangpol merupakan simpul dari Kementerian Dalam Negeri di seluruh tingkatan pemerintahan dan memiliki tugas untuk memastikan nilai-nilai Pancasila berjalan. Terlebih kunci stabilitas daerah dan nasional itu ada pada Kesbangpol, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota.

Strategisnya kedudukan Kesbangpol dalam stabilitas keamanan diharapkan turut mencermati dinamika dan perkembangan yang ada serta turut andil dalam menghadapi tantangan bangsa.

Termasuk juga, Kesbangpol dapat mengambil peranan dalam memberantas narkoba yang mengancam generasi bangsa.

"Tantangan yang kedua adalah masalah Narkoba, ini juga sama bahwa Kesbangpol juga punya tanggung jawab untuk memberantas masalah ini, terutama yang mengancam generasi yang akan datang," tegasnya.

Menurutnya dalam hal membumikan Pancasila, Kesbangpol diminta untuk bersinergi dengan pemangku kepentingan lain, termasuk tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, dan lainnya, termasuk dalam mencermati dinamika dan persoalan yang ada.

 

Parlemen dunia

Di sisi lain, pada sidang parlemen dunia yang berlangsung di Belgrad, Serbia, menghadirkan berbagai isu. Salah satunya isu perdamaian dan keamanan internasional.

Salah satu yang menjadi sorotan dalam isu tersebut mengenai terorisme.

Wakil dari Fraksi Partai NasDem Willy Aditya menyampaikan tentang pentingnya penanganan terhadap terorisme. Menurut dia, terorisme masih menjadi ancaman nyata bagi dunia. Indonesia menjadi salah satu negara yang terus mendapatkan ancaman tersebut.

"Terakhir kasus yang menimpa Menteri Polhukam Wiranto di Pandeglang, Banten. Pola serangannya bahkan sudah berbeda, tidak menggunakan bom atau senjata api lagi, tetapi sudah menggunakan serangan dengan senjata tajam. Hal ini menunjukkan bahwa terorisme masih terus eksis dan semakin berani," ucapnya.

Merujuk berbagai laporan yang masuk, tambah Willy, kawasan Asia Tenggara memang menjadi persemaian baru bibit terorisme.

Setelah kalahnya Islamic State (IS) di Suriah, banyak para kombatannya terutama yang berasal dari Asia, menjadikan Asia Tenggara sebagai kawasan untuk menyusun kekuatan baru mereka.

Menurut Willy, pasca pengesahan revisi UU Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme di Indonesia, aksi teror tidak hanya bisa dideteksi tetapi juga ditindak sejak dini. (Uta/P-1)

BERITA TERKAIT