17 October 2019, 06:20 WIB

Episode Baru Perang Suriah


Darmansjah Djumala Dubes RI untuk PBB di Vienna, Austria, Dosen S3 Hubungan Internasional, Pascasarjana FISIP Unpad, Bandung. | Opini

Dok.MI/Seno
 Dok.MI/Seno
Opini

RAS al-Ain dan Tal Abyad, kota di Suriah Utara yang berbatasan dengan Turki, dihujani bom dan tembakan dari jet tempur serta artileri Turki, 9 Oktober lalu. Serangan dilakukan hanya berselang 2 hari setelah AS menarik pasukannya dari Suriah. Gempuran itu ditujukan untuk menghancurkan basis milisi Kurdi, yang berkoalisi dengan AS dalam memerangi ISIS di Suriah.

Dengan kekalahan ISIS awal tahun ini banyak yang menduga, perang Suriah akan mendekati akhir. Akan tetapi, dengan hengkangnya AS, palagan Suriah justru memasuki episode baru. Bagaimana peta pergumulan kepentingan pihak yang terlibat dalam perang babak baru di Suriah pascapenarikan pasukan AS?

Dengan ditariknya pasukan AS, perang Suriah menyisakan dua pemain utama, yaitu Turki dan Suriah, dengan kepentingan strategis masing-masing. Pertama, Turki. Alasan resmi Turki merangsek masuk ke wilayah Suriah Utara untuk membuka zona aman di wilayah Suriah, dengan luas 32 km x 480 km, di sepanjang perbatasan Turki-Suriah.

Zona aman ini merupakan teritori di wilayah Suriah yang akan dibebaskan dari pendudukan para teroris. Wilayah ini nantinya digunakan untuk menampung 2 juta pengungsi dari 3,6 juta pengungsi Suriah yang berada di Turki. Ada nuansa kemanusiaan yang diembuskan dalam operasi militer Turki ini. Namun, di balik itu ada juga motif politik militer yang tak terungkap dalam keterangan resmi pemerintah.

Keterlibatan Turki di Suriah lebih didorong oleh kekhawatirannya terhadap rongrongan milisi Kurdi yang mengontrol wilayah perbatasan Suriah-Turki dan kawasan Timur Laut Suriah. Dalam perang Suriah, milisi Kurdi berkoalisi dengan AS dalam kelompok bersenjata, Syrian Democratic Forces (SDF) yang memerangi ISIS.

Turki paham bahwa SDF ini berintikan milisi bersenjata Kurdi YPG (Yekineyen Parastina Gel/unit perlindungan rakyat). Turki sudah lama gerah dengan keberadaan unit ini karena diduga terafiliasi gerakan separatis Kurdi di wilayah Turki, yaitu PKK (Partiya Karkeren Kurdistane/Partai Pekerja Kurdistan) yang menuntut kemerdekaan dari Turki.

Turki sangat khawatir naiknya profil SDF dalam kancah perang Suriah yang berhasil menghancurkan ISIS berkat kerja samanya dengan AS meningkatkan posisi tawar mereka dalam tiap upaya penyelesaian perang Suriah. Posisi tawar ini dapat digunakan SDF untuk menekan Turki dalam perjuangan kemerdekaan seperti dituntut oleh PKK.

Pada titik inilah, Turki melihat bahaya milisi Kurdi yang tergabung dalam SDF dan PKK bagi integritas teritorialnya. Dilihat dari perspektif kepentingan strategis Turki, dapat dipahami jika Turki menyerang milisi Kurdi yang berbasis di sepanjang perbatasan Suriah-Turki, sepeninggal tentara AS dari Suriah.

Kedua, Suriah. Ketika pertama kali aksi demonstrasi menentang Presiden Suriah Bashar al-Assad meruyak pada 2011, seiring dengan bergulirnya Arab Spring, pedemo mengusung tema demokrasi dan perbaikan ekonomi, tapi akhirnya berujung pada tuntutan penggulingan Assad.

Pada perkembangan selanjutnya, kelompok anti-Assad terpecah dalam berbagai kelompok. Dengan segala silang sengkarut kepentingan kelompok bersenjata anti-Assad, akhir-akhir ini kekuatan pemberontak terpolarisasi menjadi dua kelompok besar, yaitu Free Syrian Army (FSA), pemberontak yang berkoalisi dengan Turki, dan Syrian Democratic Forces (SDF), milisi Kurdi yang didukung AS.

FSA inilah yang ikut tentara Turki membombardir kota-kota di perbatasan Suriah Utara untuk menghancurkan basis SDF yang mayoritas milisi Kurdi. Tanpa dukungan AS, banyak analis menduga SDF dapat ditaklukkan Turki dan FSA dengan mudah.

Pada episode perang Suriah saat ini, ketika tentara Turki bersama FSA menggempur milisi Kurdi di wilayah Suriah, Suriah berada dalam posisi dilematis sebab serangan Turki itu jelas melanggar kedaulatan nasional yang tidak sesuai dengan hukum internasional. Akan tetapi, tampaknya Suriah gamang untuk memprotes tindakan itu. Boleh jadi kegamangan itu karena serangan terhadap milisi Kurdi justru memberi 'manfaat terselubung' bagi Suriah.

Selama ini suku Kurdi dianggap sebagai 'duri dalam daging' dalam politik nasional Suriah, terutama terkait dengan tuntutan status otonomi khususnya. Pemerintah Suriah khawatir di tengah kekacauan politik dalam negeri, milisi Kurdi dengan dukungan AS dapat meningkatkan posisi tawarnya vis a vis pemerintah pusat, terutama setelah mereka berhasil merebut benteng terakhir ISIS di Kota Hajin dan Baghouz.

Dalam konteks inilah kiranya mengapa Suriah seolah menutup mata atas serangan koalisi Turki dan FSA terhadap basis milisi Kurdi di perbatasan utara Suriah, dengan harapan hancurnya kekuatan militer milisi Kurdi akan memperlemah perjuangan mereka menuntut otonomi khusus atau bahkan kemerdekaan dari Suriah.

Posisi politik dan militer

Perang Suriah yang sudah berkecamuk selama 8 tahun telah menaikkan profil milisi Kurdi dengan SDF-nya yang didukung AS. Namun dengan ditarik pulangnya tentara AS dari palagan, posisi politik dan militernya menjadi lemah. Dilihat dari perspektif integritas wilayah negara, milisi Kurdi pun dianggap musuh bersama Suriah dan Turki.

Namun bagi Suriah, selain berkurangnya tuntutan merdeka, melemahnya milisi Kurdi justru membuka peluang bagi rezim Assad untuk merangkul mereka guna melawan agresi Turki yang didukung pemberontak FSA di Suriah Utara. Melemahnya SDF memunculkan kekhawatiran lain, yaitu bangkitnya ISIS. Selama ini SDF memenjarakan sekitar 10 ribu pejuang bersenjata ISIS dalam kamp tahanan, tapi setelah AS hengkang dan SDF digempur tentara Turki dan FSA, ISIS mulai mengonsolidasikan kekuatan mereka di lapangan.

Baru selang beberapa hari dari hengkangnya AS, dilaporkan 500 militan ISIS melarikan diri dari kamp tahanan dan 5 orang di antaranya meledakkan bom di Kota Qamishli dan Hasaka (New York Times, 13 Oktober 2019). Terlihat di sini, keluarnya AS dari Suriah dan melemahnya SDF membuka peluang bagi ISIS untuk bangkit kembali.

Hengkangnya AS membuka episode baru dalam palagan Suriah. Dalam perkembangan terakhir sudah terlihat bahwa pihak yang paling dirugikan Ialah SDF, milisi Kurdi dukungan AS. Episode baru ini membuka front pertempuran antara 4 pihak, yakni koalisi Turki dan pemberontak anti-Assad (FSA), milisi Kurdi (SDF), ISIS, dan rezim Suriah.

Dengan peta empat kekuatan seperti itu, episode baru perang Suriah bisa jadi diwarnai perseteruan antara rezim Suriah dan FSA dukungan Turki atau antara FSA dan SDF. Rezim Suriah boleh saja berhitung kembali siapa kawan siapa lawan dalam perang ini, apakah merangkul Kurdi untuk menghancurkan pemberontak dukungan Turki atau menggempur Kurdi dan ISIS dalam satu paket.

Apa pun pilihan strategi militer yang diambil, jika Suriah menginginkan damai, ia harus bicara dengan Turki. Alhasil, selain membuka kesempatan ISIS untuk bangkit kembali, episode baru perang Suriah juga menawarkan peluang bagi Turki untuk memainkan peran politik dan militernya sebagai kekuatan baru di kawasan Timur Tengah.

BERITA TERKAIT