17 October 2019, 02:20 WIB

Gawai Picu Gangguan Jiwa pada Balita


Indriyani Astuti | Humaniora

healthhub.sg
 healthhub.sg
Gawai Picu Gangguan Jiwa pada Balita

KASUS gangguan kejiwaaan kini banyak menghinggapi para balita akibat kecanduan gawai. Temuan itu dilaporkan pihak Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat menyusul dengan terus meningkatnya jumlah orangtua yang membawa anak mereka untuk direhabilitasi.

Direktur RSJ Provinsi Jawa Barat dr Elly Marliyani mengatakan, walaupun pihaknya belum mengantongi data pasti jumlah pasien anak ke rumah sakit jiwa, fenomena itu sudah terjadi. "Anak-anak ini ada yang berumur lima tahun, ada juga yang delapan tahun," ungkapnya saat acara Jabar Punya Informasi (Japri) di Gedung Sate Bandung, belum lama ini.

Sebelumnya, kata Elly, orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dan orang dengan masalah kejiwaan (ODMK) banyak dialami kelompok remaja berusia 15 tahun ke atas. "Satu dari 10 orang mengalami ODMK," bebernya.

Menurutnya, pasien balita dengan gangguan jiwa akibat penggunaan gawai berlebihan berpotensi meningkat jika tidak ditangani. Fenomena ini terjadi karena penggunaan gawai yang berlebih pada balita. Mereka sudah terpapar gawai sejak dini akibat kelalaian orangtua yang memberikan gawai pada anak tanpa pengawasan yang cukup.

"Awalnya supaya anak bisa bermain tanpa mengganggu kegiatan orangtua. Namun, sayangnya penggunaan ini kemudian membuat anak menjadi kecanduan. Jika gawai dipakai berlebihan, mereka menjadi ketergantungan dan bisa mengganggu jiwa," papar Elly.

Saat pemadaman listrik pada Agustus lalu, kisah Elly, ada anak kecil yang marah kepada orangtuanya karena tidak bisa bermain gawai. "Anak itu enggak bisa diberi tahu, ngamuk, dan menghancurkan pintu. Itu hal yang tidak diduga. Anak sekecil itu gara-gara handphone-nya tidak bisa di-charge," kata dia.

Daripada menyerahkan gawai, Elly menyarankan orangtua memperbanyak beraktivitas anak di luar ruangan. "Berikan gadget pada anak sesuai dengan usianya. Selain itu aktifkan bermain dengan seusianya," ucap dia.

 

Dikategorikan penyakit

Saat menanggapi semakin banyaknya anak yang dibawa ke RSJ karena kecanduan gawai, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Kementerian Kesehatan dr Fidiansyah SpKJ meresponsnya dengan positif. "Artinya, kesadaran keluarga sudah ada. Mereka mengerti itu bagian kecanduan tidak perlu malu. Deteksi dini sudah jalan. Semakin dini, semakin cepat dipulihkan," ujar Fidi saat dihubungi, kemarin.

Ia mengungkapkan, kecanduan game (gaming addiction) dikategorikan sebagai penyakit oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) sejak 2018. "Pecandu gim, setelah diteliti otaknya, kalau dia terpapar sejak balita kerusakannya sama dengan pecandu narkotika dan zat adiktif lainnya," cetus Fidi.

Ia menjelaskan, prefrontal cortex atau bagian pada otak anak yang berfungsi untuk mematangkan kemampuan kognitif belum berkembang utuh sehingga mereka belum dapat mempersepsikan mana hal baik atau buruk. Karena itulah, perlu pendampingan orang tua.

Segera konsultasikan ke dokter jika tantrum (marah meledak-ledak), anak enggan belajar, tidak mau makan, atau berinteraksi secara sosial karena gawai. (H-2)

BERITA TERKAIT