16 October 2019, 23:40 WIB

Penebar Benih Siniar Indonesia


Fathurrozak | Weekend

MI/Adam Dwi
 MI/Adam Dwi
Adriano Qalbi

HADIRNYA kanal dengar streaming yang semakin populer memunculkan tren baru di Tanah Air. Medium podcast (siniar) menjadi salah satu pilihan para pelaku kreatif saat ini untuk memproduksi konten mereka.

Melalui Podcast Awal Minggu, Adriano Qalbi bisa disebut sebagai salah satu sosok yang pertama menyebarkan benih 'demam' podcast di Indonesia.

Ketika saat ini mulai semakin banyak muncul pilihan baru kanal podcast di streaming audio seperti Spotify, Adri sudah memulainya sejak pertengahan 2015. Tepatnya, ia mengudarakan siniar perdananya pada 3 Agustus 2015, dengan nama Podcast Awal Minggu. Saat itu, ia masih menggunakan platform Soundcloud dan Apple iTunes.

Salah satu yang menjadi karakter podcast-nya, ialah judul yang hanya tanggal. Seperti, '30 September 2019,' '23 September 2019,' dan kalaupun ia mendatangkan tamu di siniarnya, hanya berformat tanggal dan nama si tamu seperti '2 September 2019 dengan Inayah Wahid.'

Sebagaimana nama kanal siniarnya, Adri rutin menggunggah konten baru saban awal pekan. Tiap episode berdurasi rerata satu jam.

Ide untuk merilis siniar diawali terhentinya program Adri di televisi dan radio. Ia lantas mencari strategi untuk melancarkan daya kreatifnya melalui medium yang sesuai dengan karakternya guna mempertahankan audiens.

Sempat tebersit untuk membuat video blog (vlog), tetapi pikir Adri, memproduksi konten video butuh usaha dan biaya yang besar. Ditambah, ia termasuk pribadi yang memikirkan tampilan di depan layar. Akhirnya, ia memutuskan merilis siniar yang juga dirasanya sebagai cara jitu mengasah daya komedi.

"Gue kebetulan tahun 2015 banyak banget dengerin podcast luar negeri. Umpama Infinite Monkey Cage (Brian Cox dan Robin Ince di BBC). Ada juga Conan O'Brien, Modern Day Philosoper. Gue mendengarkan bukan hanya soal stand up comedy. Di luar negeri itu (topik) luas banget. Bahkan sampai cara berlari dengan benar pun dijadikan podcast. Mereka udah jauh lebih kreatif," kenang Adri yang juga merupakan pelawak tunggal ini saat wawancara ekslusif dengan Media Indonesia di Visinema, kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, Rabu, (18/9).

Lantaran sudah kurang lebih empat tahun konsisten memproduksi siniar setiap pekan lah, sosoknya identik sebagai penyebar benih awal kepopuleran siniar di Indonesia. Beberapa podcaster tidak jarang mengundangnya untuk menjadi bintang tamu dalam salah satu episode mereka.

Seperti saat ia hadir di Podcast Boker yang terafiliasi dengan Box2Box Indonesia. Atau, saat Raditya Dika yang juga ikut bermain lewat PORD (Podcast Raditya Dika), Adri dihadirkan sebagai bintang tamu, untuk ditanyai perihal format dan cara untuk memonetisasinya. Adri seolah memang seperti menjadi rujukan bagi para podcaster.

"Tapi, podcast (di Indonesia) masih sangat kecil. Kecil banget," kekehnya saat ditanya posisi siniar saat ini.

Ia melanjutkan, "Masih jauh lebih besar radio. Iklan banyak kan jadi tolok ukur ketika industri sudah memiliki captive market yang cukup untuk diinvestasikan, jadi saluran yang proper untuk berdagang."

Dari pengalamannya, ada tiga sumber yang bisa dijadikan sebagai saluran komersialisasi siniar, yaitu topik berdasarkan permintaan, adlibs, dan relay konten.

"Request topic, pernah ada klien waktu itu dengan salah satu merek bahan bakar pengen bahas ambassador mereka, ya sudah gue sediakan dan undang dia buat jadi tamu. Lalu, tahun kedua juga pernah ada yang relay konten. Itu 2016, ada radio digital yang ingin relay episode-episode Podcast Awal Minggu. Karena mereka dapat income dari iklan, ya mereka harus bayar ke gue. Sebetulnya ada empat sih, yang keempat itu, Anchor bisa sistem donasi. Tapi, di Indonesia belum diterapkan."

Anchor merupakan platform yang digunakan para podcaster untuk mendistribusikan konten mereka, yang juga terafiliasi ke Spotify. Adri pun menyoroti, ketika platform yang juga menampung musik streaming itu memberlakukan bagi hasil ke para musisi yang memiliki hak cipta karyanya, ia menganggap bahwa seharusnya Spotify juga memberlakukan hal sama ke para podcaster.

"Yang harus segera dilalukan ialah punya sistem bagi hasil. Ke artist yang punya lagu kan sudah seperti itu, kenapa enggak ke podcaster. Padahal bikin konten juga. Itulah kenapa gue juga taruh konten audio visual gue ke Youtube," terangnya.

Untuk adlibs--iklan yang naskahnya dibacakan podcaster/penyiar langsung)-- nominalnya ungkap Adrisetara dengan kerja sama unggahan di Instagram, pada kisaran Rp5 juta per iklan. Sementara untuk relay konten, sekitar Rp3 juta per bulan, atau dengan kontrak setahun. Bagi Adri, permintaan topic (request topic) masih jadi kue yang terbesar dari penghasilannya mengelola Podcast Awal Minggu. Bisa mencapai angka Rp10 juta ke atas untuk satu episode.

Karakter lain yang dimiliki Podcast Awal Minggu ialah, Adri selalu membacakan korespondensi yang dikirim dalam rentang sepekan oleh para pendengarnya melalui pos elektronik. Korespondensi itu ia bacakan saat siniarnya tidak menghadirkan tamu. Jadi, pada bagian pertama ia 'meracau' seperti monolog, lalu bagian selanjutnya ia membacakan dan mengomentari pesan-pesan yang telah masuk.

"Memang Podcast Awal Minggu enggak bisa dipaksakan. Kalau yang suka ya suka, tidak ya tidak. Makanya diimbangi sama tamu, buat menjaga audiens. Dulu jarang ada tamu, pendengar minta sama tamu. Tapi, ketika lama ada tamu, pendengar minta monolog lagi. Ini jadi kesempatan korespondensi sama pendengar," ujarnya.

Saat ini, siniarnya disimak 15 ribu-20 ribu pendengar per episode. Jumlah tersebut mengembang signifikan dari awalnya, sekitar 5 ribu pendengar. Namun, diakuinya, ia belum puas dengan jumlah tersebut. "Yang jelas kalau gue mati hari ini, enggak rela pendengar gue segitu saja. Masih tetap mencari cara untuk lebarin lagi."

 

Potensi

Segmen korespondensi juga menjadi cara Adri menyuguhkan sisi personalitas terhadap para pendengar. Ini pula yang menjadi kritiknya, ketika penyiar radio saat ini, kehilangan sisi personalitasnya. Adri pernah menjadi penyiar radio pada medio 2012-2014. Menurutnya, personalitas penyiar radio yang menghilang itu yang menjadi salah satu faktor pendorong podcast naik dan mulai banyak didengarkan orang.

Adri kini melihat bentuk dan pasarnya terus bertumbuh. Namun, meski secara kuantitas kini podcaster sudah mulai banyak bermunculan, ia menganggap skalanya masih terbilang minor. Perlu ada lebih banyak lagi yang bermain.

"Untuk mendorong benda ini keluar, penggeraknya harus lebih banyak lagi, ini masih kecil banget. Harus ada yang bisa nge-push ramai-ramai. Mungkin akan bisa menarik ketika ada sosok, dan perkumpulan kolektif."

Semakin banyak pemain di arena siniar, masyarakat akan semakin mafhum dengan platform tersebut. Bukan tidak mungkin suatu waktu, konten mereka menjadi suatu kelaziman gaya hidup sebagaimana vlogging saat ini. misalnya.

"Sekarang yang susah kan infrastrukturnya. Seperti enggak semua kendaraan (mobil) punya bluetooth buat bisa dengerin podcast, dan juga belum jadi kebutuhan orang saat berkendara buat mendengarkan. Belum masuk ke mindset. Saat ini masih dalam tahap pengenalan yang awal banget. Potensi besar karena ini bergerak marketnya. Ketika para vlogger mulai kaya, podcaster harus di titik itu juga, kalau enggak seperti itu sih tamat."

Di luar negeri, beberapa siniar sudah cukup mumpuni untuk mendapat kue iklan. Menurut penuturan Adri, bahkan tidak perlu merek yang dikenal secara nasional agar bisa beriklan. "Seperti semua podcast yang gue ikuti, misal siaran sejam, itu adlibs 3 saat awal, 3 berada di tengah, dan 3 lagi saat akhir. Anggap satu adlibs sejuta, itu udah 9 juta. Sekali siaran. Belum bagi hasil Spotify, belum sumbangan. Gede banget!"

 

Keunikan format dan konsistensi

Demi mendorong skala podcast di Tanah Air, Adri tidak gentar jika para pemainnya terus bertambah. Toh, jika pada suatu saat siniar mengalami titik maksimum, akan terkurasi secara natural, yang disebutnya sebagai 'sopisthicated market'.

"Karena gue percaya media itu siklus. Misalnya berita, dulu kuratoral itu penting. Media mana yang menerbitkan dengan ketepercayaan sumbernya itu penting. Sekarang kita masuki era media yang bebas dan user generated. Begitu user generated, semua orang menjadi tepercaya. Tapi, nanti ada titik jenuhnya, akan ada masa kembali bahwa kuratorial itu penting."

Ia menjelaskan, pada saat khalayak terpapar untuk pertama kali oleh suatu platform, mereka menjadi pasar yang naif. Namun, seiring waktu, publik akan melakukan pemilahan sesuai kompleksitas kebutuhan.

"Selama marketnya masih terus berkembang, naive market masih lebih banyak dibanding yang sophisticated. Baru ketika nanti sudah berada pada titik maksimum, kualitas yang berbicara," paparnya.

Lantas, apa yang dapat menjadikan podcaster bertahan di tengah dinamika fase audiens tersebut?

"Kunci keberhasilan itu ya ada di betapa uniknya format dan konsistennya lo. Format yang unik akan bisa dimengerti kalau lo konsisten. Semakin unik, akan semakin menemukan pendengarnya." (M-2)

BERITA TERKAIT