16 October 2019, 09:16 WIB

Peraih Nobel Ekonomi Ternyata Meneliti SD Inpres di Indonesia


Siswantini Suryandari | Internasional

MI/Melati S Oktaviani
 MI/Melati S Oktaviani
Murid-murid sedang menyimak pelajaran yang disampaikan guru di Sekolah Dasar Inpres Liki, di Kabupaten Sarmi, Papua. 		

TRIO ekonom AS, Esther Duflo, Abhijit Banerjee dan Michael Kremer meraih nobel di bidang ekonomi pada 2019 dengan fokus meneliti soal kemiskinan global dengan lebih spesifik pada  kesehatan dan pendidikan pada masyarakat miskin. Namun menariknya, pasangan suami istri  Abhijit Banerjee dan Esther Duflo pernah meneliti kebijakan pemerintah Indonesia di bidang pendidikan dan kesehatan. Kebijakan dibangunnya SD Inpres dan BPJS Kesehatan menjadi salah satu fokus penelitian yang dilakukan keduanya.

Mengutip berbagai sumber, ekonom AS Esther Duflo, salah satu dari tiga ekonom peraih nobel menulis hasil penelitiannya yang diterbitkan pada Agustus 2000 berjudul Schooling and Labor Market Consequences of School Construction in Indonesia: Evidence from an Unusual Policy Experiment, dalam abstraksinya menuliskan tentang risetnya terhadap fungsi SD Inpres terhadap pendidikan masyarakat miskin di Indonesia. 

Duflo, profesor di Massachusetts Institute of Technology itu menyebutkan penelitian tersebut berbasis pada realita yang terjadi di Indonesia pada 1973 dan 1978. Saat itu Pemerintah Indonesia membangun lebih dari 61.000 sekolah dasar. Duflo mengevaluasi efek dari program ini pada pendidikan dan upah. Dengan menggabungkan perbedaan antar daerah dalam jumlah sekolah yang dibangun dengan perbedaan antar kelompok yang disebabkan oleh waktu program.

Hasil risetnya disimpulkan bahwa pembangunan SD Inpres mampu meningkatkan pendidikan dan pendapatan untuk masyarakat miskin. Anak-anak usia 2 sampai 6 tahun pada 1974 menerima 0,12 hingga 0,19 tahun lebih banyak pendidikan, untuk setiap sekolah yang dibangun per 1.000 anak di wilayah kelahiran mereka.

Riset tersebut juga menyebutkan dengan menggunakan variasi sekolah yang dihasilkan oleh SD Inpres sebagai variabel instrumental, ternyaya berdampak pada upah yang diterima masyarakat miskin. Kebijakan SD Inpres ini sukses meningkatkan ekonomi masyarakat miskin. Bahkan pengembalian ekonomi sekitar 6,8% hingga 10,6%.

Lahirnya SD Inpres berdasarkan instruksi presiden Nomor 10 tahun 1973 tentang Program Bantuan Pembangunan Gedung SD, dengan penggagasnya adalah ekonom Widjodjo Nitisastro. Pada saat itu pemerintah membangun SD Inpres di daerah terpencil dan kantong-kantong kemiskinan baik di perdesaan maupun perkotaan. 

baca juga: Polisi dan Pengunjuk Rasa Kembali Bentrok di Barcelona

Suami Esther Duflo, Abhijit Banerjee juga pernah meneliti masalah kesehatan dan kemiskinan di Indonesia. Ia meneliti masalah asuransi kesehatan yang kemudian dikenal saat sebagai BPJS Kesehatan dengan judul The Challenges of Universal Health Insurance in Developing Countries: Evidence from a Large-Scale Randomized Experiment in Indonesia. Studi penelitian dilakukan di 640 desa di Indonesia dengan menyasar 6.000 rumah tangga secara acal pada 2010. (OL-3)

BERITA TERKAIT