16 October 2019, 09:05 WIB

Pembahasan RCEP Rampung November 2019


Pra/E-2 | Ekonomi

ANTARA FOTO/Audy Alwi
 ANTARA FOTO/Audy Alwi
Ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal

MENTERI Perdagangan Enggartiasto Lukita bersama menteri-menteri perdagangan dari 15 negara yang terlibat dalam perundingan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) baru saja menghadiri pertemuan lanjutan di Bangkok, Thailand, untuk membahas penyelesaian pakta perdagangan regional tersebut.

Enggartiasto menyampaikan, secara substansi, pembahasan sudah hampir rampung. Negara-negara anggota ASEAN berkomitmen untuk dapat segera merampungkan perundingan kerja sama dan mengimplementasikannya pada 2020 mendatang.

"Sudah banyak kemajuan. Sesuai target, insya Allah pembahasan akan selesai November nanti," ujar Enggartiasto di Jakarta, kemarin.

Selama ini, perundingan RCEP terbilang cukup alot karena melibatkan banyak negara. Tidak hanya 10 negara anggota ASEAN, Tiongkok, India, Australia, Selandia Baru, Korea Selatan, dan Jepang juga terlibat di dalamnya.

Setiap peserta dituntut bisa mengambil manfaat dari perjanjian itu, tetapi di sisi lain, mereka juga harus memberi ruang bagi negara-negara lain untuk mengambil keuntungan.

Selama ini, ucap Enggartiasto, India menjadi negara yang paling banyak mengajukan persyaratan.

Kengototan India itu cukup beralasan karena sebagai negara berpopulasi 1,3 miliar jiwa, India merupakan pasar yang sangat besar. India tidak ingin hanya menjadi target bagi negara-negara ASEAN.

India tetap ingin ada proteksi bagi produk-produk unggulan dalam negerinya supaya tidak tertimbun barang impor dari 15 negara anggota RCEP.

Saat dihubungi di kesempatan terpisah, ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal mengapresiasi kinerja pemerintah yang telah bekerja keras mendorong penuntasan pembahasan RCEP pada akhir tahun ini.

Fithra melihat akan ada banyak manfaat yang bisa didapat Indonesia dari terwujudnya perjanjian kerja sama ekonomi kawasan tersebut. Indonesia akan mendapat akses pasar yang sangat besar. Berbagai produk unggulan Tanah Air juga berpotensi menerima manfaat bebas bea masuk ke 15 negara anggota RCEP.

"Usaha kita sudah jauh lebih baik dalam penyelesaian pembahasan RCEP. Ini patut diapresiasi. Apalagi sekarang menyisakan beberapa artikel saja untuk diselesaikan," ujar Fithra. (Pra/E-2)

BERITA TERKAIT