16 October 2019, 09:00 WIB

Polisi dan Pengunjuk Rasa Kembali Bentrok di Barcelona


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

AFP/LLUIS GENE
 AFP/LLUIS GENE
Demonstran membakar tempat sampah dalam aksi demonstrasi di Barcelona usai pengadilan Spanyol memvonis para pemimpin Catalonia.

RIBUAN orang turun ke jalan-jalan di Barcelona untuk malam kedua. Massa memprotes hukuman penjara yang dijatuhkan kepada para pemimpin separatis atas peran mereka dalam upaya gagal Catalonia untuk memerdekakan diri dari Spanyol, dua tahun lalu.

Sembilan politikus dinyatakan bersalah atas penghasutan oleh Mahkamah Agung Spanyol, Senin (14/10), dan dijatuhi hukuman antara 9-13 tahun penjara karena keterlibatan mereka dalam menyelenggarakan referendum kemerdekaan Oktober 2017, yang dinyatakan ilegal.

Para pemimpin propemisahan diri telah berjanji terus mendorong referendum baru dengan mengatakan hukuman penjara hanya semakin memperkuat gerakan itu.

Pada Selasa (15/10), beberapa pengunjuk rasa di Barcelona melemparkan kaleng dan suar ke polisi antihuru hara. Mereka juga membakar kardus dan sampah di beberapa bagian kota. Mereka juga mencoba menerobos brikade keamanan yang didirikan di sekitar markas pemerintah Spanyol di Barcelona pusat.

Baca juga: Spanyol Peintahkan Penangkapan Pemimpin Catalonia Puigdemont

Demonstran juga memblokade jalan raya dan stasiun kereta api sebelum mereka dihadapi polisi dengan pentungan.

Di tempat lain, pengunjuk rasa menyalakan lilin dan meneriakkan "Bebaskan tahanan politik" dalam sebuah demonstrasi yang diselenggarakan organisasi Omnium Cultural, yang ketuanya Jordi Cuixart termasuk di antara mereka yang divonis pada Senin (14/10).

Sonia Gallego dari Al Jazeera, yang melaporkan dari Barcelona, mengatakan peristiwa dua hari terakhir adalah 'jenis ketegangan yang telah diantisipasi' setelah vonis dan aksi demonstrasi diperkirakan akan berlanjut hingga akhir pekan ini.

"Pendapat dan emosi telah mengeras dalam seluruh masalah ini," terangnya, seraya menambahkan dalam dua tahun sejak referendum hanya ada sedikit upaya untuk menyelesaikan konflik politik antara Barcelona dan Madrid.

Oriol Junqueras, mantan wakil pemimpin pemerintah daerah Catalonia, dijatuhi hukuman terpanjang yakni 13 tahun, dalam wawancara pertamanya setelah pembacaan vonis, mengatakan bahwa putusan pengadilan hanya akan membangkitkan gerakan kemerdekaan.

Semua terdakwa dibebaskan dari dakwaan paling berat, pemberontakan, tetapi lamanya hukuman penjara--yang menurut Junqueras mereka berencana untuk naik banding di pengadilan Eropa--memicu kemarahan di Catalonia.

Sementara itu, Quim Torra, kepala pemerintah daerah, menggambarkan hukuman tersebut tidak dapat diterima dan membela aksi protes massa.

"Sebuah tahap baru dimulai ketika kami mengambil inisiatif dan meletakkan implementasi hak untuk menentukan nasib sendiri," kata Torra, mendesak pemerintah pusat di Madrid untuk memperhatikan dan memulai pembicaraan.

Pada Senin (14/10), demonstran telah memblokade kereta api dan ribuan turun di bandara internasional Barcelona, tempat pemrotes bentrok dengan polisi.

Seorang juru bicara bandara mengatakan, 110 penerbangan dibatalkan pada Senin dan 45 lainnya dibatalkan pada Selasa (15/10).

Dua tahun setelah gagalnya plebisit pertama, upaya kemerdekaan Catalonia masih mendominasi banyak debat politik Spanyol, dan kemungkinan akan mewarnai pemilihan umum nasional pada 10 November, yang keempat di Spanyol dalam empat tahun.

"Kemarin, hari ini dan besok, itu masih akan menjadi masalah politik yang harus diselesaikan," kata penjabat Menteri Luar Negeri Josep Borrell tentang masalah ini. Ia menyerukan dialog dalam kerangka kerja konstitusi. (Al Jazeera/OL-2)

BERITA TERKAIT