16 October 2019, 06:50 WIB

Perempuan Paling Rentan Kena Autoimun


(Rif/H-2) | Humaniora

ilustrasi
 ilustrasi
Perempuan Paling Rentan Kena Autoimun

SERING sakit kepala, pelupa, sering cemas, mudah stres, hingga susah tidur. Demikianlah keluhan pesohor Ashanty sebelum akhirnya dia didiagnosis penyakit autoimun, seperti yang dikabarkan di akun media sosial pribadinya, baru-baru ini.

Sebelumnya, Putri Indonesia 2008 Qory Sandioriva juga membeberkan perjuangannya setelah terdeteksi mengidap lupus, salah satu jenis penyakit autoimun. Sejak usia 16 tahun, Qory mengidap penyakit autoimun sjogren's syndrome dan lupus.

Selama menderita autoimun, Qory kerap mengalami sakit kepala hebat, ngilu pada persendian, serta nyeri pada bagian kulit dan tulang belakang. Qory mengaku, penyakit autoimun diturunkan dari ibunya, dengan jenis yang berbeda.

Lantas, apa sebenarnya penyakit autoimun itu? Dalam kondisi normal, sistem imun yang merupakan bagian penting dalam tubuh dapat melindungi tubuh dari sel patogen (pembawa penyakit), seperti bakteri dan virus.

Namun, ada seseorang yang menderita penyakit autoimun, sel penyusun sistem imun tidak bisa membedakan sel patogen dan sel tubuh. Akhirnya, mereka juga menyerang sel-sel yang sehat. Kondisi ini disebut dengan penyakit autoimun.

Dokter spesialis penyakit dalam, Suzy Maria, menerangkan autoimun lebih banyak menyerang pada perempuan, hal itu terjadi karena pengaruh hormonal. "Perempuan mengalami perubahan hormon beberapa kali selama masa hidup, seperti pubertas maupun menopause. Interaksi antara hormon-hormon dan sistem kekebalan ini yang kemudian memodulasi kerentanan perempuan terhadap gangguan autoimun," kata Suzy saat acara bertajuk Health Talk Awareness on Autoimmune di Jakarta, Kamis (10/10).

Tercatat ada lebih dari 80 jenis penyakit autoimun, salah satu di antaranya lupus, vitiligo, vasculitis, diabetes tipe 1, hingga sjogren's syndrome.

Suzy menyatakan, salah satu yang membahayakan bagi pengidap penyakit autoimun pada perempuan ialah sjogren's syndrome, seperti yang dialami Qory Sandiriova. Penyakit ini dapat membuat autoimun membentuk gumpalan di dalam darah dan sangat berbahaya ketika menjalani kehamilan. "Karena kalau ada gangguan di plasenta dapat menyebabkan gangguan pada janin yang mengakibatkan keguguran hingga hipertensi yang tidak terkontrol," jelasnya.

Suzy menyampaikan, faktor turunan dan lingkungan memang menjadi pemicu munculnya penyakit autoimun. Kelelahan seperti yang dialami Ashanty, menjadi salah satu tanda autoimun yang paling awal.

Diagnosis, kata Suzy, penting dilakukan dengan deteksi dini untuk mencegah penyakit ini lebih parah. Hal itu karena sebagian besar penyakit autoimun belum dapat disembuhkan.

"Satu-satunya saran untuk mencegah penyakit autoimun ialah memiliki gaya hidup sehat dan diet sehat," pungkasnya. (Rif/H-2)

 

BERITA TERKAIT