16 October 2019, 06:40 WIB

Diare Mematikan, Cegah dengan Cuci Tangan


(*/Ant/H-2) | Humaniora

MI/ADI MAULANA IBRAHIM
 MI/ADI MAULANA IBRAHIM
CUCI TANGAN SEDUNIA: Siswa-siswi seusai mencuci tangan bersama di SDN 01 Menteng, Jakarta, 

MESKI pemicunya sepele, nyatanya diare menjadi salah satu penyebab kematian terbanyak bayi dan anak di Indonesia. Perpindahan kuman tak kasatmata dapat dengan mudah menyerang mereka. Karena itulah, mencuci tangan menjadi hal penting.

"Konsentrasi kuman dan bakteri terbanyak ada di tangan. Anak-anak yang keluar dari kamar mandi tidak cuci tangan dan langsung megang mainan, makanan, akan dengan mudah terkena penyakit diare," jelas dokter spesialis anak, Kanya Fidzuno, saat peringatan Hari Cuci Tangan Sedunia 2019 yang digelar Lifebouy di SDN 03 Pagi Menteng, Jakarta, kemarin.

Hari Cuci Tangan Sedunia diperingati setiap 15 Oktober di lebih dari 100 negara di dunia. Ia menjelaskan, diare membuat anak dehidrasi karena kekurangan cairan di dalam tubuh. Penyebab diare umumnya karena terjadinya infeksi pada usus. Hal ini bisa disebabkan makanan dan minuman yang dikonsumsi terkontaminasi mikroorganisme, bakteri, parasit, dan virus, seperti norovirus dan rotavirus.

"Rotavirus ada di mana-mana, begitu kena rotavirus angka kematian karena dehidrasinya meningkat. Rotavirus yang berbahaya efek sampingnya, bisa dicegah dengan mencuci tangan," serunya.

Hasil pemetaan penyakit potensial KLB 2017 menunjukkan ada lima jenis penyakit yang menyebabkan kejadian luar biasa (KLB), yakni difteri, keracunan pangan, campak, DBD, dan diare. Untuk memotong penyebaran kuman diare, imbuh Kanya, Hari Cuci Tangan Sedunia menjadi momentum untuk membiasakan anak-anak mencuci tangan. Pencegahan juga bisa dilakukan dengan pemberian imunisasi rotavirus saat bayi berusia 2, 4 dan 6 bulan.

Menurutnya, kegiatan sederhana seperti mencuci tangan harus dilakukan pada saat sebelum makan, setelah makan, dan setelah menggunakan toilet.

Adapun cara cuci tangan yang benar, yakni mengawali dengan membasahi tangan dan gosok telapak tangan dengan sabun. Setelah itu, gosok sabun ke telapak punggung tangan kanan dan kiri, gosok sabun di sela-sela jari.

Kemudian, bersihkan punggung jari dengan gerakan jari saling mengunci, bersihkan jempol kanan dan kiri dengan jempol digosok memutar. Lalu, bersihkan bagian ujung jari dengan gerakan menguncup, akhiri dengan membasahi tangan kembali dan keringkan. "Tidak harus sabun khusus. Yang penting air mengalir," sebut Kanya.

Bakteri diketahui dapat bertahan hidup di tangan hingga 3 jam. Hanya dalam waktu 7 jam, satu bakteri di tangan dapat menduplikasi diri menjadi 2.097.152 bakteri.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa mencuci tangan dengan air dan sabun atau menggunakan sanitizer tangan dapat menurunkan risiko terkena penyakit hingga 50%.

Bagaimana jika harus menggunakan air kobokan? "Kuncinya, air mengalir untuk meluruhkan kuman," sahut Kanya.

Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan dr Imran Agus Nurali SpKO mengatakan, cuci tangan pakai sabun selain mencegah penyakit diare, juga mencegah cacingan, infeksi pernapasan akut (pneumonia), infeksi paru, penyakit mata, hingga hepatitis.

"Banyak penyakit yang kita bisa cegah dengan perbuatan sederhana ini," ungkap dia.

Didik Suhardi, Sekjen Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang hadir di acara itu mengatakan, kesehatan dan pendidikan merupakan dua indikator penting dalam pembangunan pendidikan manusia. Jika semuanya dilakukan dengan bersih, bersih hatinya, bersih tangannya, pendidikan dan kesehatan akan berjalan dengan lancar.

"Pola hidup bersih dan sehat (PHBS) diimplementasikan dengan pembinaan dan pengembangan UKS di sekolah-sekolah. Upaya ini dimaksudkan untuk mewujudkan Sekolah Sehat," katanya. (*/Ant/H-2)

BERITA TERKAIT