16 October 2019, 06:30 WIB

Menabung Asa pada Bayi Tabung


Sri Utami | Humaniora

Dok.MI/Seno
 Dok.MI/Seno
Bayi Tabung

PROGRAM bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF) telah ada dan dite-rapkan sejak 40 tahun lalu dan kini sudah melahirkan sekitar 6,5 juta anak di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Sekarang ini, pembaruan teknologi membuat proses bayi tabung lebih mudah dan memberi kepastian pada pasangan. Hal itu pula yang dirasakan publik figur Tya Ariestya hingga akhirnya yakin menjalani kehamilan lewat bayi tabung.

Istri dari Muhammad Irfan itu memiliki dua putra setelah menjalani tiga kali program bayi tabung di Morula IVF Indonesia, pusat layanan bayi tabung terbesar di Indonesia. Ia kini bahagia bisa menjadi sumber inspirasi bagi pasangan lain yang menginginkan keturunan. Padahal, jika menengok ke belakang, beragam cibiran dan omongan orang ditujukan padanya karena melakukan program bayi tabung.

"Saya sangat senang sekarang banyak yang minta saran saya. Dulu kan sangat tabu. Menyalahkan salah satu pasangan yang belum bisa memberikan keturunan. Kini, keberhasilan bayi tabung semakin baik dan didukung dengan usia si ibu, akan semakin baik," ucap Tya, saat diskusi di Morula IVF Indonesia di Jakarta, pekan lalu.

President Director Klinik Morula IVF Indonesia Ivan Rizal Sini mengamini hal itu. Ivan mengatakan, metode bayi tabung terus mengalami pembaruan teknologi dan menghasilkan sejumlah inovasi demi meningkatkan layanan dan opsi pada masyarakat.

"Teknologi yang digunakan dapat memastikan dan memberi keyakinan bahwa 93% kromosom embrio yang akan ditanamkan itu normal. Sehingga saat kami tanamkan kami bisa yakin bahwa kromosom itu normal," kata dokter spesialis kandungan itu.

Beragam teknologi itu antara lain, teknologi Preimplantation Genetic Testing for Aneuploidy (PGT-A), Intracytoplasmic Sperm Injection (ICSI) serta Intracytoplasmic Morphologically Selected Sperm Injection (IMSI). "Semua fasilitas teknologi itu ada di jaringan Morula IVF Indonesia," kata Ivan.

Ia menjelaskan, PGT-A adalah tindakan pemeriksaan kromosom pada embrio dengan teknologi Next Generation Sequencing (NGS) atau penanaman kembali embrio ke dalam rahim.

Adapun, ICSI memiliki kemampuan memilih sperma terbaik secara detail dengan menggunakan mikroskop khusus yang bisa memperbesar penampakan sperma hingga 6.000 kali. Dengan teknologi ICSI, penolakan sel telur terhadap sperma suami juga bisa dihindari.

Sementara, dengan teknologi IMSI kecacatan bentuk pada sperma bisa terdeteksi sebelum fertilisasi. Sperma yang mempunyai bentuk tidak sempurna akan berakibat pada perkembangan embrio yang kurang baik dan berakhir dengan gagalnya program bayi tabung.

"Bandingkan dengan cara konvensional bayi tabung yang memerlukan sekitar 40.000 sperma untuk membuahi satu sel telur, serta kemungkinan kegagalan fertilisasi karena penolakan sperma suami oleh sel telur istri," ucap Ivan.

Bank telur

Tidak hanya itu, sambung Ivan, teknologi saat ini juga sangat memungkinkan pasangan mendapatkan jenis kelamin anak yang diinginkan dan mengatur waktu kehamilan yang diinginkan dengan metode Egg Banking. Pemilihan kelamin diperuntukkan pada pasangan yang ingin memiliki anak kedua.

Pakar embriologi dari Klinik Morula IVF Indonesia Arief Boediono menambahkan, metode ini banyak digunakan bagi perempuan atau pasangan yang belum siap mempunyai anak pada saat ini, karena karier atau kondisi medis seperti pretreatment untuk kanker.

"Ini biasanya dipilih pada pasangan yang suaminya sedang tugas negara seperti perang atau pelaut. Sperma dibekukan dulu, istrinya diprogram, jadi ketika sel telurnya diambil suaminya di mana juga itu (hamil) bisa dilakukan," tuturnya.

Untuk pasien kanker, Arief mengatakan, program bayi tabung perlu dikondisikan karena terapi kanker jelas menurunkan kualitas telur atau sperma menjadi rusak atau tidak ada (nol). "Jadi untuk kondisi ini kalau misalnya dia pria, belum menikah dan ingin punya anak, segera lakukan embrio banking. Spermanya dibekukan baru kemudian dilakukan treatment penyakitnya. Setelah sembuh, dia menikah, sperma yang fresh tentu tidak ada lagi, tapi dengan sperma beku bisa," tegasnya.

Menurutnya, embrio dapat di-simpan dalam waktu lama di dalam tabung nitrogen dengan suhu minus 100 derajat Celsius. Penyimpanan yang baik tersebut juga harus ditunjang dengan kualitas telur atau rahim yang sehat.

Arief mengungkapkan, tingkat keberhasilan bayi tabung dapat mencapai 70% bila dilakukan pada perempuan usia muda atau berumur di bawah 35 tahun. Sebab, untuk satu kehamilan dibutuhkan minimal delapan sel telur. Sedangkan pada wanita di atas usia 38 tahun dibutuhkan minimal 25 sel telur. "Jadi faktor usia juga memenga-ruhi jumlah sel yang dihasilkan dan berkualitas," katanya. (H-2)

BERITA TERKAIT