15 October 2019, 19:20 WIB

Daya Beli Turun Jadi Sebab Defisit Neraca Perdagangan Indonesia


M. Ilham ramadhan Avisena | Ekonomi

MI/Ramdani
 MI/Ramdani
Ketua umum Apindo Hariyadi Sukamdani

KETUA  Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia )Apindo), Hariyadi Sukamdani menyebutkan penyebab defisitnya neraca dagang Indonesia pada September 2019 sebesar 160,5 juta dollar AS lantaran menurunnya daya beli di masyarakat.

"Kami menduga adanya pelemahan dalam daya beli masyarakat. karena ekonomi kita selama ini dipacu oleh konsumsi rumah tangga. kalau konsumsi turun dampaknya akan terjadi penurunan daya beli," ujar Hariyadi usai menghadiri acara acara Indonesia Trade Investment Summit, Jakarta, Selasa (15/10).

Hariyadi menambahkan, defisit itu juga kemungkinan dipengaruhi oleh kondisi global yang memengaruhi kondisi dalam negeri. Itu beriringan pula dengan penurunan proyeksi angka pertumbuhan Indonesia yang dilakukan oleh Bank Dunia.

"Di dalam negeri kalau pandangan kami, pertumbuhan ekonomi kita kualitasnya tidak optimal. Dalam arti yang menikmati pertumbuhan ini hanya kelas menengah atas, menengah bawah sebetulnya mereka dalam kondisi yang tertekan," ujarnya.

Kondisi tertekan yang dimaksud yakni ialah penyempitan lapangan kerja dan kondisi efisiensi perusahaan.

Baca juga : Defisit Neraca Dagang Menyusut Karena Industri Bergerak Lambat

Apindo, kata Hariyadi, selalu menekankan bila kualitas pertumbuhan Indonesia ingin membaik, maka regulasi penciptaan lapangan kerja yang dihasilkan juga harus seirama.

Pun demikian dengan Wakil Ketua Umum Apindo, Shinta Kamdani, ia mengatakan, defisit akan selalu terjadi bila melihat kondisi perekonomian Indonesia saat ini.

"Impor kita besar karena bahan baku dan penolong itu masih 70% lebih. Defisit itu pasti akan ada," tukasnya.

Ia menuturkan, salah satu solusi yang bisa dioptimalkan oleh Indonesia yakni industrialisasi. Pengembangan industri hulu perlu untuk terus dilakukan agar Indonesia tidak melulu mengandalkan impor.

"Indsutrialisasi ini sudah kami bicara lama tapi kenyataannya belum jalan pengembangan industri hulu kita masih banyak yang belum. Sekarang, ini yang menjadi fokus," tandasnya.

Berdasarkan data dari BPS, neraca perdagangan RI pada September 2019 mengalami defisit sebesar 160 juta dolar AS dengan nilai ekspor 14,10 miliar dolar AS dan impor 14,26 miliar dolar AS

Selain itu, nilai ekspor Indonesia Januari-September 2019 mencapai 124,17 miliar dolar AS atau menurun 8,0% dibanding periode yang sama tahun 2018, demikian juga ekspor nonmigas mencapai 114,75 miliar dolar AS atau menurun 6,22%.

Sedangkan untuk impor Indonesia pada September 2019 mencapai 14,26 miliar dolar AS atau naik 0,63% dibanding Agustus 2019, namun nilai tersebut diketahui mengalami penurunan 2,41% bila dibandingkan nilai impor September 2018. (OL-7)

BERITA TERKAIT