15 October 2019, 15:45 WIB

Jaringan JAD Bekasi Siapkan Teror di Solo dan Yogyakarta


Ferdian Ananda Majni | Politik dan Hukum

MI/Susanto
 MI/Susanto
Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo

KEPALA Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan Densus 88 antiteror mengungkapkan agenda jaringan teroris Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Pimpinan Abu Zee yang merencanakan amaliyah atau tindakan teror bom bunuh diri di wilayah Solo dan Yogyakarta.

"Hasil pemeriksaan Tim Densus, ada pengantin bom bunuh diri yang sudah disiapkan untuk melaksanakan aksi teror di Solo dan DIY," kata Dedi dimintai konfirmasi Selasa (15/10).

Dedi menjelaskan, selama 5 hari tim Densus 88 Antiteror bergerak cepat melakukan langkah preemptive strike dan menangkap terduga teroris yang telah melakukan koordinasi melalui group Telegram.

"Jika 22 tersangka (terduga teroris) ini tidak diamankan, mereka akan melakukan bom bunuh diri di Solo dan Jogja. Maka dari itu, Densus 88 bergerak cepat sesuai dengan fakta hukum itu," sebutnya.

Baca juga: 22 Tersangka Teroris Ditangkap Pascapenusukan Wiranto

Dia menambahkan, rencana penyerangan teror disampaikan anggota JAD di Jawa Tengah kepada Abu Zee. Sedangkan kelompok Abu Zee sendiri telah bersiap melakukan aksi teror di Ibu Kota.

"JAD Jateng (pengantin), tetapi mereka memiliki jaring komunikasi juga ke kelompok Abu Zee dengan master mind-nya yang ditangkap di Jambi," lanjutnya.

Sementara itu, pihaknya belum menemukan fakta hukum bahwa kelompok Abu Zee memiliki agenda melakukan teror terhadap pelantikan Presiden dan Wakil Presiden pada 20 Oktober 2019 nanti.

"Belum ditemukan fakta mengarah ke sana. Tetapi sampai saat ini, Densus masih mengejar seluruh terduga teroris itu berdasarkan fakta hukum yang ditemukan di lapangan," paparnya.

Kelompok ini juga melakukan amaliyah tidak di wilayah domisilinya. Namun, tetap berkoordinasi dengan anggota lainnya di Telegram.

"Kelompok ini sifatnya tidak struktur dilapangan tetapi terstruktur di medsos. Bergerak secara independen, bergerak amaliyah sesuai kemapuan masing-masing, mereka bebas. Tidak harus melakukan amaliyah di tempat, bisa melakukan amaliyah di papua, silakan tetapi memberikan informasi di jejaringan komunikasi telegram," lanjutnya.

Dedi menambahkan, berbeda dengan kelompok yang hanya terstruktur di media sosial Lanjut Dedi, dimana Abu Zee memang memiliki peran ganda, selain memiliki kelompok terstruktur di lapangan, seperti anggota yang di tangkap di Bekasi dan Cilincing Jakarta Utara

"Dia juga mengendalikan yang terstruktur di medsos. Abu Zee termasuk tokoh sentral memiliki kemampuan lebih dibanding orang-orang yang direkrut," pungkasnya.

Abu Zee, yang merupakan pimpinan kelompok JAD Bekasi sudah ditangkap pada 23 September 2019 lalu. (OL-4)

BERITA TERKAIT