15 October 2019, 14:00 WIB

Nilai Ekspor September Terganggu Ketidakpastian Ekonomi Global


Andhika Prasetyo | Ekonomi

 ANTARA/Septianda Perdana
  ANTARA/Septianda Perdana
Pekerja sedang mengerjakan pembangunan pabrik industri hilir kelapa sawit di KEK Sei Mangkei Kabupaten Simalungun, Sumatra Utara

BADAN Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Indonesia pada September 2019 sebesar US$14,1 miliar. Jumlah tersebut lebih rendah 1,29% dari capaian bulan sebelumnya yang kala itu menyentuh US$14,29 miliar.

Secara rinci, kinerja ekspor September ditopang sektor nonmigas yang mencapai US$13,27 miliar dan migas US$0,83 miliar.

Nonmigas yang merupakan andalan utama pemerintah mesti turun 1,03% dari US$13,4 miliar pada bulan sebelumnya. Penurunan pun terjadi pada sektor migas yang turun dari US$0,88 miliar.

Sedianya, secara volume, ekspor dua komoditas utama Tanah Air yakni batu bara yang merupakan bagian dari kelompok bahan bakar mineral dan minyak kelapa sawit dari kelompok minyak nabati mengalami peningkatan.

Baca juga: Menkeu Blokir Izin Ratusan Importir Nakal

Namun, karena nilai dua komoditas itu kerap mengalami penurunan sepanjang tahun ini, kenaikan volume penjualan tidak mampu menopang kinerja ekspor.

"Ketidakpastian ekonomi global masih berlangsung. Perang dagang juga belum berhenti meskipun kadang adem, kemudian menghangat lagi. Itu semua memengaruhi kinerja ekspor Indonesia karena harga komoditas sangat dipengaruhi kondisi global," ujar Kepala BPS Suhariyanto di kantornya, Jakarta, Selasa (15/10).

Secara akumulasi, sepanjang Januari-September, total nilai ekspor Tanah Air mencapai US$124,17 miliar, turun 8% dari periode yang sama di 2018 yang kala itu sebesar US$134,96 miliar.

Nilai perdagangan dua komoditas unggulan yang memiliki peran besar dalam kegiatan ekspor yakni bahan bakar mineral dan minyak nabati mengalami penurunan cukup signifikan sepanjang sembilan bulan di 2019.

Ekspor bahan bakar mineral tercatat hanya US$16,8 miliar, turun dari periode yang sama 2018 yang mencapai US$18,42 miliar.

Minyak nabati mengalami pelemahan lebih parah yakni dari US$15,2 miliar menjadi US12,4 miliar. (OL-2)

BERITA TERKAIT