15 October 2019, 10:15 WIB

Mal masih Stabil hingga Tahun Depan


Dero Iqbal Mahendra | Ekonomi

MI/SUSANTO
 MI/SUSANTO
Suasana keramaian pusat perbelanjaan di kawasan Grogol, Jakarta.

SEKTOR properti retail, khususnya pusat perbelanjaan atau mal, saat ini masih tumbuh stabil. Tren tersebut akan berlanjut hingga tahun depan.

“Untuk sektor properti pusat perbelanjaan masih stabil. Tingkat okupansinya masih 80% ke atas. Artinya, situasi­nya relatif stabil,” ungkap pengamat properti dari Indonesia Property Watch (IPW), Ali Tranghanda, saat dihu­bungi, kemarin.

Menurutnya, meski ada kekhawatiran perlambatan ekonomi dan dampak dari sektor e-commerce, hal tersebut belum memberikan dampak besar pada sektor properti pusat perbelanjaan. Dalihnya, transaksi pada e-commerce baru sekitar 5%-10% dari total penjualan.

Salah satu faktor yang membuat kondisi stabil itu ialah saat ini mal tidak hanya menjual barang. Pusat perbelanjaan, lanjut Ali, bertransformasi menjadi pusat hiburan keluarga dengan menyajikan beragam hiburan dan acara menarik.

Selain itu, wilayah Jabodetabek yang padat penduduk juga memberikan pengaruh pada tingkat hunian dari sektor properti retail itu. Bahkan, sektor tersebut masih terus berkembang pada tahun ini dengan bergeser ke beberapa wilayah luar Jabodetabek, termasuk luar Jawa.

Daerah yang memiliki perkembangan mal cukup baik di antaranya Palembang, Makassar, dan Surabaya. “Oleh sebab itu, proyeksi kami pada tahun depan sektor properti untuk pusat perbelanjaan masih aman,” tutur Ali.

Hal senada juga disampaikan Associate Director Research Colliers International Indonesia, Ferry Salanto. Pertumbuhan mal maupun pusat retail masih akan tumbuh dinamis dengan 70%-nya di wilayah penunjang Jakarta. Salah satunya karena mal juga dianggap sebagai sarana rekreasi bagi keluarga.

“Total pasok ritel (di Jabodetabek) yang akan beroperasi di 2019-2023 sebanyak 1,2 juta meter persegi. Sekitar 70% akan berada di wilayah Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi atau Bodetabek,” ujar Ferry.

Dalam proyeksi ke depan, Colliers memperkirakan tingkat hunian masih stabil di atas 70% sebagai efek dari komitmen awal penyewa yang membuat proyeksi tingkat hunian terjaga hingga tiga tahun mendatang. Namun, perkiraan itu dapat menurun bila terdapat tambahan pasokan pusat perbelanjaan yang besar di kawasan Jabodetabek.

“Pemilik mal akan berpikir untuk menaikkan tarif sewa sejalan dengan proyeksi perlambatan pertumbuhan ekonomi,” jelasnya.

Ia juga berpendapat bahwa pemilik mal juga akan berhati-hati dalam menetapkan biaya operasional. Soalnya, proyeksi inflasi menjadi dasar bagi pemilik mal untuk menetapkan biaya operasional di masa depan.
Sedang berat

Di sisi lain, Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Tutum Rahanta menyatakan secara umum perkembangan sektor ritel sedang berat saat ini sebagai dampak dari perlambatan ekonomi.

Bank Indonesia, menurutnya, sudah mengungkapkan perlambatan dari indeks kepercayaan konsumen sehingga ritel yang merupakan sektor consumer goods dan terkait dengan sektor lain akan terpengaruh.

“Kalau hulunya berat pasti kita di hilirnya juga akan berat,” tutur Tutum.

Mengenai tingkat okupansi mal, ia menilai, meski tidak dapat dipukul rata, secara umum hampir dapat dikatakan berat. Ini khusus bagi mal yang berlokasi agak pinggiran yang relatif belum banyak melakukan inovasi karena persaingan masih terbatas.

Mal kelas atas yang memiliki kondisi unit lebih baik, menurutnya, lebih mudah dalam mencari tenant. Salah satu penyebabnya, yaitu para tenant berasal dari asing. Untuk tenant di mal kelas menengah, pemainnya tidak banyak. (S-3)

BERITA TERKAIT